Saturday, September 18, 2010

Siapakah Yang Paling Dibenci Nabi saw?

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ خِرَاشٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ حَدَّثَنَا مُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ حَدَّثَنِي عَبْدُ رَبِّهِ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ﴿ إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ﴾

Dari sahabat Jabir r.hu, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda,

”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Sesunguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada Hari Kiamat adalah (ats-tsartsarun), (al-mutasyaddiqun) dan (al-mutasyaddiqun). Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami mengerti tentang ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun. Lalu apa yang dimaksud dengan al-mutafaihiqun?’ Beliau menjawab, ‘Dialah orang yang sombong.”

Kedudukan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya pada bab Ma Jaa fi Maalil Akhlaq, juz VII halaman 309 hadis nomor 1941. Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini dalam Musnadnya pada bab Haditsu Abi Tsa’labah r.hu juz 36 halaman 132 hadis nomor 17066. Lafadz dari riwayat Imam Tirmidzi inilah yang tertulis dalam lembar Jum’at al-Fath edisi kali ini. Imam Baihaqi, Thabrani dan juga Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadis serupa dalam kitabnya masing-masing.

Pemahaman Hadis
Mahāsinukum akhlāqān. Artinya, akhlak yang terbaik di antara kalian.
Kata akhlāqān adalah jamak dari kata khuluq yang berarti gambaran kondisi jiwa yang konstan (stabil) yang menimbulkan perbuatatan-perbuatan dengan mudah tanpa berpikir dan pertimbangan. Apabila kondisi tersebut melahirkan perbuatan-perbuatan baik menurut syariat dan akal, maka kondisi tersebut disebut akhlak yang baik (husnul khuluq).
Orang yang mempunyai husnul khuluq (akhlak yang baik) inilah yang di akhirat kelak akan menjadi orang yang paling dicintai Nabi saw. Dan menjadi orang yang paling dekat dengan beliau sebagaimana sabda beliau,

”Sesenggauhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat majelisnya dengan aku pada Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhalaknya.”(Hr.Bukhari)

Betapa beruntungnya menjadi orang yang paling dicintai Nabi saw dan paling dekat dengan beliau saw di akhirat kelak. Dan orang yang yang mempunyai husnul khuluk-lah yang akan mendapatkan kenikmatan itu. Oleh sebab itu tidak ada kata lain bagi kita untuk menghiasi diri kita dengan perangai akhlakul karimah. Dan jangan lupa untuk selalu memohon kepada Allah swt agar dikaruniai akhlak yang baik sebagaimana doa yang diajarkan oleh Nabi saw,

”Ya Allah tunjukkanlah aku kepada akhlak yang baik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya kecuali Engkau, dan jauhkan aku dari akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan kecuali Engkau.”(Hr.Muslim)

ats-Tsartsārūn. Artinya, orang yang banyak bicara.
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin bahwa makna tsartsārūn adalah orang yang banyak bicara dan suka menyerobot pembicaraan orang lain. Apabila dia duduk ngobrol dalam suatu majelis dia sering menyerobot pembicaraan orang lain, sehingga seolah-olah tidak boleh ada yang bicara dalam majelis itu selain dia. Dia berbicara tanpa membiarkan orang lain leluasa berkata-kata.
Perbuatan seperti ini tidak diragukan lagi termasuk kesombongan. Yang dimaksud majelis dalam konteks ini adalah pembicaraan-pembicaraan sehari-hari bukan majelis ilmu atau pengajian, sebab jika suatu saat Anda mendapat kesempatan untuk memberikan nasihat atau mengisi kajian di depan mereka lalu Anda sendirian yang lebih banyak berbicara maka hal ini tidak termasuk dalam kategori ini.
Orang yang seperti ini sangat dibenci oleh Nabi saw, karena akhlak yang buruk dan banyak bicara tanpa ada kebaikan sama sekali di dalamnya. Maka menjaga lisan dari berbicara yang tidak manfaat menjadi kata kunci dalam hal ini. Rasulullah saw bersabda,

”Barangsiapa beriman kepada kepada Allah swt dan Hari Akhir, maka hendaklah berkata baik atau diam.”(Hr.Bukhari)

Ingat! Semua kata yang keluar dari mulut kita akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Allah swt. Sebagaimna firman-Nya,

”Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar) dan utusan Kami (para malaikat) selalu mencatat di sisi mereka.”(Qs.az-Zukhruf [43]: (80)

Juga yang sering terjadi adalah berbicara atau ngobrol dengan teman ketika khutbah Jum’at sedang berlangsung. Hal ini jelas sangat merugikan. Sebab selain menjadikan shalat Jum’at kita lagha (sia-sia) juga mendapat kecaman dari Allah dan rasul-Nya.
”Barangsiapa yang berbicara pada Hari Jumat sewaktu imam (khatib) berkhutbah, maka ia seperti keledai yang memikul kitab, sedangkan siapa yang mengingatkan orang itu dengan kata-kata 'diamlah', maka tidak sempurna shalat Jumatnya." (Hr.Ahmad, Ibnu Syaibah, Bazzar, dan Thabrani)

”Apabila engkau mengatakan kepada temanmu pada Hari Jumat sewaktu imam (khatib) sedang berkhutbah 'diamlah', engkau melakukan perbuatan yang sia-sia" (Hr.Jamaah selain Ibnu Majah)

al-Mutasyaddiqūn. Artinya, Orang yang berbicara dengan dibuat-buat.
Adapula yang mengatakan makna dari al-mutasyaddiqūn adalah orang yang mempunyai kebiasaan menghina orang lain. Pendapat lain mengatakan al-mutasyaddiqun adalah orang yang bicara selebar sudut bibirnya dengan memfasih-fasihkan, membesar-besarkan ucapannya, dan sombong terhadap selainnya.
Betapa banyak kita jumpai orang yang seperti ini di jaman sekarang. Mereka pandai bersilat lidah. Dengan menunjukkan arogansi kepada publik. Yang tujuannya melemahkan pesaing-pesaingya dalam perburuan kekuasaan. Jika dirinya berkompeten dalam dunia politik.
Atau dirinya mengumbar janji-janji. Untuk mendapat massa yang mendukung dirinya. Meskipun janji-janji tersebut hanya omong kosong belaka.

al-Mutafaihiqūn. Artinya, Orang yang sombong.
Dinul Islam sangat melarang pengikutnya memiliki sifat sombong. Dikarenakan sifat ini dapat menyebabkan bencana bagi pelakunya dan juga orang lain. Orang yang dihinggapi sifat sombong tidak akan mau mencari dan menambah keilmuannya. Dirinya tidak akan pernah mau menerima nasihat dan kebenaran.
Dan yang paling celaka adalah dia tidak akan mau tunduk dan patuh terhadap kebenaran sekalipun kebenaran itu datangnya dari Allah swt.

”Dan, mereka mengingkarinya karena kedhaliman dan kesombongannya, padahal hatinya meyakini kebenaran.”(Qs.an-Naml:[27] 14)

Sifat ini pulalah yang menjadikan iblis menjadi laknatullah. Sebab merasa dirinya lebih baik dari Nabi Adam as. Sehingga menolak perintah Allah swt untuk sujud hormat kepada Nabi Adam as. Allah swt berfirman,

”Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “bersujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang sujud. Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu? Iblis menjawab: aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. Allah berfirman: turunlah kamu dari syurga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.”(Qs.al-A’raf [7]: 11-13)

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Hindarilah perkataan yang tidak berguna.
2. Jika tidak bisa berkata yang baik, maka diamlah.
3. Hindari sifat sombong atau takabbur
4. Mintalah selalu pertolongan Allah swt agar dilindunigi dari sifat-sifat di atas.

Oase Pencerahan
Dalam hadis di atas sangat jelas sekali bahwa Rasulullah saw sangat tidak menyukai orang yang banyak bicara lagi sombong, maka kita sebagai kaum muslimin-mukmin yang taat kepada Allah dan rasul-Nya harus senantiasa mematuhi segala aturan dan menjauhi larangan-Nya. Dalam hal ini kita tidak boleh berbicara yang tidak mengandung manfaat atau sia-sia. Inilah karakter orang yang beriman sebagaimana difirmankan oleh-Nya,

”Beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholat dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.”(Qs.al-Mu’minun [23]: 1-3)

Selain itu kita harus menutup rapat-rapat hati (qalbu) agar sifat takabbur tidak menghinggapi. Sebab bahaya dari sifat takabbur ini sangatlah besar. Di antaranya seperti yang disabdakan oleh Nabi saw,

“Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya terdapat sifat sombong meskipun hanya sebesar dzarrah
(atom).”(Hr.Muslim)

Oleh karena, tidak ada kata lain bagi kita untuk terus memohon kepada Allah agar dijauhkan dari sifat tercela tersebut. Serta memohon kepadanya agar dianugerahi sifat tawadlu (rendah hati).
Lihatlah setiap makhluk-Nya dengan kacamata kasih-sayang (ainur rahmah). Supaya diri kita tidak merasa lebih baik dari orang lain. Semua itu kita lakukan semata berlandas Iman kepada Allah, cinta kepada Nabi dan atas dasar ilmu dan hikmah, insya Allah.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment