Saturday, September 18, 2010

Penyakit Wahn Yang Semakin Merajalela

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:﴿يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ﴾
Dari sahabat Tsauban r.hu berkata, “Telah bersabda Rasulullah saw,

"Hampir saja bangsa-bangsa berkumpul menyerang kalian sebagaimana mereka berkumpul untuk menyantap makanan di nampan. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena sedikitnya jumlah kami pada saat itu?” Beliau menjawab, “Bahkan pada saat itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian seperti buih, buih di atas lautan. Sungguh Allah benar-benar akan mencabut rasa takut pada hati musuh kalian dan sungguh Allah benar-benar akan menghujamkan pada hati kalian rasa wahn.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta kepada dunia dan takut mati”.

Kedudukan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam Sunannya pada bab Fi Tada’al Umam alal Islam juz XI halaman 371 hadis nomor 3745. Dalam Musnadnya, Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini dalam bab Wa min Haditsi Tsauban r.hu juz 45 halaman 378 hadis nomor 21363. Hadits ini adalah hadis shahih, marfu dari Rasulullah saw.

Kunci kalimat (Miftāhul Kalām)
﴿حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ﴾
“Cinta kepada dunia dan takut mati”

Hadis ini menggambarkan ramalan Rasulullah saw bahwa nanti pada suatu saat umat Islam akan terjangkiti suatu virus yang sangat berbahaya. Virus ini pula yang menjadi penyebab umat islam menjadi bulan-bulanan umat lain. Di mana kehidupan kaum muslimin saat itu sangat jauh dari nilai-nilai yang telah digariskan oleh Allah dan rasul-Nya. Dari hadits di atas tergambar bahwa tidak ada seorang pun sahabat yang menyangkal apa yang dikatakan Rasulullah saw. Mereka justru menanyakan lebih lanjut perihal kondisi umat Islam yang pada suatu masa, mereka tidak lagi dipandang, tetapi menjadi obyek pelecehan dan tindak kebrutalan. Bukan karena jumlah umat Islam yang sedikit, Virus atau penyakit yang bernama al-Wahn-lah penyebabnya. Yaitu kecintaan pada dunia secara berlebih dan takut akan kematian.

Pemahaman Hadis
Kaghusāis sail. Artinya, seperti buih di atas laut.
Jumlah umat islam yang kini mencapai kurang lebih 2 milyar dari penduduk bumi ternyata tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi gelombang serangan yang dilancarkan oleh para musuh islam. Baik serangan itu berupa Cara Berpikir, Budaya, Informasi dan lain sebagainya. Bahkan umat islam dijadikan sasaran pangsa pasar yang empuk. Produk-pruduk yang mereka ciptakan baik berupa teknologi maupun peralatan-peralatan hidup membanjiri pasar kaum msulimin. Akibatnya kaukm muslimin tidak bisa berbuat apa-apa. Selain menjadi umat yang konsumtif. Itu baru dalam satu bidang. Belum lagi uapaya mereka meracuni Cara Berpikir kaum muslimin agar semakin jauh dari nilai-nilai yang telah Alah dan rasul-Nya gariskan.
Dan bukankah gambaran Nabi saw dalam hadis di atas , bahwa posisi kaum muslimin bagai buih di lautan yang terombang-ambing oleh besarnya ombak laut telah menjadi kenyataan saat ini? Belum jelaskah peringatan insan termulia tersebut sehingga kita masih tidur pulas di tengah besarnya gelombang ombak yang terus menghantam kita sebagai umat islam?

Wala yanzaannaallah. Artinya, sungguh Allah akan mencabut.
Ketika kaum muslimin telah jauh dari nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya. Dan mereka begitu cintanya kepada dunia. Maka Allah akan mencabut rasa takut dari para musuh Islam. Kaum muslimin tidak lagi memiliki Haibah (harga diri). Kita bisa melihat sepak terjang para musuh Islam yang dengan entengnya sering mempermainkan kaum muslimin, seperti tuduhan Islam adalah agama teroris, penyerangan atas negara-negara Islam timur tengah. Kita menyaksikan saudara kita kaum muslimin di antaranya semenanjung Balkan –negeri yang pernah hidup sejahtera selama lebih dari 300 tahun– hingga kini belum lepas dari penderitaan akibat kekejaman pasukan Serbia. Peristiwa yang kurang lebih sama terjadi pula atas kaum muslimin di Chechnya, negara bagian Rusia.
Belum lagi kita berbicara tentang keadaan saudara-saudara kita se-iman lain di Jammu Kashmir, Pattani - Muang Thai, Moro - Philipina, dan perang saudara yang tidak kunjung usai di Afghanistan; juga keadaan kita - kaum muslimin di tanah air -yang masih dihimpit persoalan kemiskinan, kebodohan, penggusuran, ketimpangan sosial, ketidakadilan, krisis akhlak, kerusakan moral, pornografi dan sebagainya, makin menegaskan, umat Islam dalam keadaan amat mundur, tidak seperti yang diisyaratkan Allah dalam al-qur’an sebagai umat terbaik. Benarlah sinyalemaen dari Rasulullah saw 15 abad yang lalu bahwa pada suatu masa umat Islam yang jumlahnya lebih kurang dari 1,5 milyar dicabik-cabik bagai makanan oleh orang-orang rakus tanpa rasa takut. Dan umat tidak bisa berbuat apa-apa atas keadaan yang menimpanya.

al-Wahn. Artinya, Cinta dunia dan takut mati.
Cinta dunia atau hubuddunya adalah cinta berlebih kepada dunia. Cintanya pada dunia melupakan dirinya sebagai hamba Allah swt. Akibatnya larangan-larangan Allah swt tidak ladi diperhatikan. Tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme adalah contoh dari hubuddunya. Rasulullah saw dalam hadis lain mengatakan bahwa cinta dunia adalah sumber dari segala kesalahan. Sedangkan Utsman bin Affan mengatakan, ”Menggandrungi dunia itu kegelapan hati dan menggandrungi akhirat adalah cahaya hati.” Orang yang telah terjangkiti penyakit ini akan melakukan apa saja demi mencapai keinginannya mendapatkan harta, jabatan, kekuasaan dan segala hal yang berhubungan dengan kenikmatan dunia.
Lalu apakah dinul Islam melarang para pemeluknya untuk menjadi orang kaya? Sama sekali tidak. Islam mengajarkan kepada para pemeluknya untuk zuhud terhadap dunia. Dan ingat zuhud bukan berarti antipati terhadap dunia. Sebaliknya menempatkan dunia pada tempatnya. Dunia tidak sampai mengganggu dirinya dalam pengabdian kepada Allah swt. Orang yang zuhud tidak memandang segala hal berdsarkan materi. Sifat zuhud inilah yang sekarang telah luntur dari kaum muslimin di mana mereka selalu menilai segalanya berdasar pada materi. Sahabat-sahabat Nabi saw pun banyak yang menjadi saudagar-saudagar kaya. Tetapi kekayaan yang mereka miliki tidak dijadikan sebagai pemuas hawa nafsu sebalilknya menggunakan harta yang dianugerahkan oleh Allah kepada mereka sebagai sarana untuk ber-taqarrub kepada Allah. Dan saking hati-hatinya para sahabat Nabi saw terhadap kenikmatan dunia sampai sahabat Abu Bakar r.hu berdoa kepada Allah swt, “Ya Allah jadikanlah dunia ini ada di tangan kami dan bukan di hati kami.”
Karahiyatul maut atau takut mati merupakan buah dari sifat hubuddunya. Di mana kecintaan yang berlebih terhadap dunia membuat seseorang takut berpisah dari kehidupan dunia atau bahkan melupakan kematian yang merukan suatu kepastian dari Allah swt. Hal ini telah difirmakan oleh-Nya dalam alqur’an, ”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” ( Qs.al-Imran [3] : 185).
Maka memahami makna hidup di dunia dan kematian sangatlah penting bagi seorang muslim-mukmin untuk terhindar dari virus al-Wahn tersebut.

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Buang- jauh-jauh sifat hubuddunya dan takut mati.
2. Pahami dengan baik dan benar makna kehidupan dan kematian.
3. Mari bangkit menjadi umat terbaik yang berjalan di bawah koridor Neraca Syari’at.

Oase Pencerahan
Tidak dijadikannya dinul Islam sebgai way of life dalam berbagai segi kehidupan merupakan faktor utama kemunduran Umat islam dewasa ini. Umat telah kehilangan kemuliaannya. Seharusnya umat Islam bisa tampil mangatur kehidupan manusia di dunia secara keseluruhan bukan yang diatur; tampil memimpin bukan yang dipimpin. Seharusnya umat Islam menguasai bukannya malah dikuasai. Secara faktual, potensi 1,2 milyar umat Islam demikian besar. Tetapi kenyataannya umat sebanyak itu berserak seperti buih, lemah tak bertenaga. Sumber daya alam yang ada juga tidak bermanfaat banyak demi kemajuan Islam. Umat tetap terbelakang, tercabik-cabik dan menjadi bulan-bulanan negara-negara besar seperti yang sekarang ini tengah terjadi. Apa yang bisa diperbuat untuk saudara kita di Palestina, Chechnya dan Bosnia? Demikian sulitnyakah mengusir Israel yang berpenduduk hanya sekitar 7 juta dari bumi Palestina? Bagaimana mungkin, umat yang jumlahnya semilyar lebih keok melawan negeri yang berpenduduk lebih sedikit dari kota Jakarta.
Tapi kalau kita renungkan secara mendalam, nasib buruk ini ternyata lebih karena keteledoran umat Islam sendiri; bukan karena musuh Islam. Umat Islam harus menyadari bahwa rumah mereka sendirilah dalam keadaan lemah, tak terpelihara kesehatannya, sehingga tatkala penyakit datang mudah sekali ia berkembang dan membikin lumpuh tubuh yang seharusnya kuat itu. Kita hanya dibuat sibuk dengan masalah-masalah yang sepele, tentang rokok, shalat subuh pakai qunut atau tidak, beduk dan masalah-masalah khilafiah lainnya. Betapa menyedihkannya jika hal-hal sepele seperti itu harus mengorbankan persaudaran tanpa tepi sebgai sesama kaum muslimin-mukmin. Tentu para Zionis dan musuh-musuh islam akan tertawa lebar melihat keadaan kita yang demikan itu. Sebab harapan mereka untuk memecah-belah kaum muslimin dari dalam berhasil. Jika sudah begitu siapa yang dirugikan?
Maka setelah mengetahui hadis ini. Kita rapatkan shaf-shaf persaudaraan kita guna menuju kebangkitan Islam. Mari kita buktikan kepada dunia bahwa umat Islam masih mampu bangkit dari keterpurukkannya. Kita buktikan bahwa Islam adalah agama rahmat bagi semesta alam. Kita buktikan bahwa Islam adalah peradaban maju yang siap mengadopsi semua sarana kemajuan teknologi jaman digit ini. Kita buktikan kepada Iblis dan tentaranya bahwa mereka hanya bisa menggoda sebagian orang yang dalam Islam memang menjadi sampah dan kendala kemajuan diberikan rahmat oleh Allah. Islam adalah rahmat Allah. Hanya orang yang tidak mengaku Islam yang masih menjadi teman setan. Orang muslim-mukmin sepatutnya tidak lagi mengidap penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Wa-allahu ’alam.

No comments:

Post a Comment