Saturday, September 18, 2010

Ingin Banyak Rizeki & Panjang Umur?

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ﴿مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ﴾

Dari sahabat Ibnu Syihab r.hu, dia berkata, telah memberitahuku Anas bin Malilk r.hu sesungguhnya Rasulullah saw bersabda,

”Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah dia menyambung tali silaturrahim.”

Kedudukan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukahri dalam Shahihnya pada Kitabul Adab, bab Man Busitha Lahu Minar Rizqi bi Shilatirrahim juz XVIII halaman 386 hadis nomor 5527. Imam Muslim dalam Shahihnya Kitabul Birri Wal Shilah Wal Adab, bab Shilaturrahim Wa Tahrimu Qathi’atiha, juz XII halaman 411 hadis nomor 4639. Imam Tirmidzi juga meriwayatkan hadis ini dalam Jami’nya pada hadis nomor 1865. Begitu pula Ibnu Majjah dan Imam Ahmad juga meriwayatkan hadis serupa.

Pemahaman Hadis
Yubsatha lahu fī rizkihi. Artinya, dilapangkan, dimudahkan atau diluaskan rizekinya.
Semua orang pasti ingin diluaskan rizekinya. Hidup berkecukupan, di mana semua kebutuhannya dapat terpenuhi. Mulai dari kebutuhan primer sampai sekunder. Mulai dari kebutuhan rutin hingga insidentil. Mulai dari kebutuhan yang kecil-kecil hingga kebutuhan besar. Mulai dari kebutuhan makan hingga aktualisasi diri. Bahkan kebutuhan untuk rekreasi dan menghibur diri berharap bisa terpenuhi. Pendek kata semua manusia memimpikan semua kebutuhan dan keinginan terpenuhi. Keinginan-keinginan tersebut dapat kita pahami sebagai hal yang sangat manusiawi.
Rasulullah saw dalam hadis di atas memberikan resep buat kita semua. Supaya rizeki kita dilapangkan oleh Allah swt. Yakni dengan jalan silaturrahim. Hubungan silaturrahim dengan banyaknya rezeki sebagaimana disabdakan Rasulullah saw di atas, terbukti di jaman modern yang dijelaskan oleh penelitian. Hendroprasetyo menyajikan tulisan menarik yang menjelaskan tentang hubungan silaturrahim dengan banyaknya rizeki. ”Rezeki yang dikaruniakan Allah datang lewat manusia. Kalau kita mengurung diri di kamar, rezeki tidak akan sekonyong-konyong muncul dari balik pintu. Dalam dunia pemasaran, salah satu prediktor kesuksesan staff penjual adalah keluasan relasi. Bahkan dalam industri asuransi, tes klasik yang diberikan untuk para calon agen adalah membuat ‘Daftar 100 Nama’ orang yang mengenal dan dikenal calon agen.”
Pada pertengahan tahun 1970-an, Sosiolog Harvard bernama Mark Granovetter mempublikasikan risetnya yang kemudian menjadi karya monumental mengenai cara orang mendapatkan pekerjaan. Apa yang ditemukannya masih valid hingga sekarang, yaitu bahwa mayoritas orang mendapat pekerjaan melalui koneksi pribadi. Namun, satu temuan yang mengejutkan Granovetter adalah bahwa koneksi tersebut umumnya bukan teman atau saudara dekat. Si penerima kerja hanya sesekali dalam setahun bertemu dengannya.”
”Teman atau saudara jauh tersebut efektif dalam memberi informasi pekerjaan menurut Granovetter karena dia tahu banyak orang yang tidak Anda kenal, berbeda dengan kebanyakan relasi teman dan keluarga dekat Anda yang umumnya juga Anda kenal.
Bersilaturrahimlah dengan orang yang lama tidak Anda jumpai, seperti kawan sekolah dulu, saudara jauh, atau mantan rekan kerja, maka Anda berpeluang mendapat informasi berharga untuk bisnis atau pekerjaan Anda.” ”Pertukaran pikiran yang dilakukan melalui silaturrahim juga seringkali menghasilkan kesimpulan-kesimpulan brilian yang tidak kita peroleh dengan berpikir sendiri. Don Tapscott dan Anthony William dalam Wikinomics dengan gamblang menjelaskan kekuatan dahsyat kolaborasi, melalui “silaturrahim maya” yang memunculkan raksasa-raksasa baru seperti Wikipedia, MySpace, Youtube, dan lainnya. Lebih hebat dibandingkan bila membatasi diri dari kelompok tertentu.

Wa yunsyaa lahu fī atsarihi. Artinya, dan dipanjangkan umurnya.
Seperti halnya keinginan memperoleh rizeki yang banyak. Manusia juga mendambakan umur yang panjang. Dengan umur panjang manusia bisa menikmati kehidupan yang lama di muka bumi. Di saat muda bisa bercengkrama dengan anak-anak. Di masa tua bisa bercengkrama dengan cucu dan bahkan kalau perlu dengan cicit. Dengan umur panjang, memungkinkan hidup kaya dengan ilmu, hikmah dan pengalaman.
Demi meraih umur panjang manusia rela berupaya dan mengeluarkan biaya. Di antaranya dengan berolahraga dan menjaga kesehatan. Asupan makanan bergizi benar-benar diperhatikan. Saran-saran dari para ahli kesehatan diikuti dengan kesungguhan.
Kita yang hidup di jaman modern ini terkondisikan dengan pola pikir rasional. Segala sesuatu akan diterima jika bisa dicerna secara logika. Mudah diterima jika ada pembuktian rasionalnya. Kalau tidak maka sulit akal manusia modern menerimanya. Keutamaan silaturrahim sebagaimana disabdakan Rasulullah saw, telah ada pembuktiannya melalui berbagai riset ilmiah yang sangat meyakinkan.
Sementara pembuktian riset ilmiah kebenaran hubungan antara silaturrahim dengan panjang usia, di antaranya dapat kita baca dari apa yang disampaikan Hendroprasetyo. Ia menulis, antara tahun 1965-1974, dua ahli epidemi penyakit mempelajari gaya hidup dan kesehatan 4.725 penduduk Alameda County, California. Mereka menemukan bahwa angka kematian tiga kali lebih tinggi pada orang yang ‘kuper’ dibandingkan dengan mereka yang aktif secara sosial. Studi yang sama terhadap penduduk Seattle, dipublikasikan tahun 1997, menemukan bahwa pasangan keluarga yang secara sosial aktif membutuhkan biaya kesehatan lebih rendah dan lebih jarang sakit dibandingkan mereka yang penyendiri.
Riset puluhan tahun yang dilakukan MacArthur Foundation mengenai penuaan di AS menyimpulkan bahwa dua prediktor utama kesehatan manula adalah frekuensi silaturrahim dengan sanak-keluarga dan kehadiran dalam pertemuan-pertemuan.
Ada proses-proses kimia alamiah yang terjadi dalam tubuh yang bisa dijelaskan secara ilmiah tentang mengapa orang-orang yang suka memelihara silaturrahim berusia lebih panjang.
Hendroprasetyo melanjutkan penjelasannya, ”Perjumpaan positif antar manusia dapat menurunkan kadar hormon pemicu stress epinephrine, norepinephrine, dan kortisol dalam darah. Sebaliknya, hormon yang memperkuat rasa saling percaya dan ikatan emosi, oxytocin dan vasopressin, justru meningkat. Ilmuwan juga menduga bahwa silaturrahim memicu dua neurotransmitter penting, dopamine, yang meningkatkan daya konsentrasi dan rasa bahagia, dan serotonin, yang mengurangi ketakutan dan kecemasan.”
Membaca hasil riset tersebut di atas, menjadi jelas bagi siapa pun, bahwa silaturrahim bisa menjadikan hidup manusia lebih berkualitas, lebih sehat yang karenanya berpeluang untuk berusia lebih panjang.

Fal yashil rahimahu. Artinya, maka hendaklah menyambung tali silaturrahim.
Kebanyakan dari kita memahami silaturahim hanyalah sebatas kunjungan kekerabatan, kangen-kangenan, saling mengenalkan antar keluarga, dsb. Tapi makna terpenting dari silaturahim itu sendiri sering terlupakan. Apa makna pentingnya? yaitu saling mengingatkan dalam kebenaran, saling menguatkan iman, saling meneguhkan dalam satu ikatan ukhuwah. Namun bukan berarti salah, jika silatarurrahim dimaknai kunjungan. Akan tetapi bukan hanya sekedar kunjungan. Kunjungan itu harus memiliki arti yang mendalam, yang tidak akan ditemukan bila kita tidak melakukan kunjungan tersebut.
Silaturrahim merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Kita sebagai kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Allah swt memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan adzab. Sebagaimana firman-Nya,

“Maka apakah kiranya, jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka, dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”(Qs.Muhammad [47]: 22-23)

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”(Qs.an-Nisa’ [4]: 1)

Juga sabda Rasulullah saw,

”Tidak akan masuk surga pemutus silaturrahim.”(Hr.Bukhari dan Muslim)

Inilah beberapa peringatan keras dari Allah dan rasul-Nya bagi siapa saja yang memutus talil silaturrahim (hubungan kekerabatan). Hal ini menunjukkan pentingnya menyambung tali silaturrahim dengan sanak saudara, dan pada sesama kaum muslimin-mukmin.

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Sambunglah tali silaturrahim dengan kerabat Anda dan semua orang yang Anda kenal.
2. Jangan sekali-kali memutus tali silaturrahim.
3. Lakukanlah semuanya atas dasar cinta.

Oase Pencerahan
Setelah kita tahu bagaimana keutamaan dari silaturrahim dari pembuktian riset ilmiah modern. Bagaimana sabda Nabi saw 14 abad yang lalu dibuktikan oleh penelitian modern dan mengagumkan ratusan tahun kemudian. Silaturrahim yang oleh peradaban masa kini kian tergerus oleh banyak kepentingan pribadi ternyata mengandung khasiat penyembuhan dan penjaga keutuhan kehidupan yang menakjubkan tiada duanya. Bagaimana bisa kita ingin menukar anugerah ini dengan sempitnya kepentingan pribadi? Dan ternyata bukanlah hal yang cukup baik untuk tetap dipertahankan. Ketidakpedulian pada orang-orang di sekitar kita. Sudah seharusnya setiap orang kini mulai untuk memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Maka saatnya bagi kita untuk bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita termasuk orang-orang yang gemar memelihara silaturrahim atau sebaliknya. Jangan-jangan anjuran Rasulullah saw lebih banyak dinikmati oleh orang-orang di luar Islam. Kita yang punya ilmu, mereka yang mempraktekkannya. Kita yang tahu ilmunya, mereka yang menikmatinya. Kita yang hafal di luar kepala narasi hadisnya, mereka yang mengamalkannya. Maka jangan heran kalau mereka yang menikmati berkah dan keutamaan dari silaturrahim. Sementara kita tidak mendapatkan apa-apa. Kualitas hidup kita sebagai ummat Islam biasa-biasa saja. Sementara kualitas orang-orang di luar Islam menjadi luar biasa. Na’udzubillah.
Saudaraku, kita masih punya waktu dan kesempatan untuk memperbaiki kualitas silaturrahim kita. Silaturrahim dengan saudara dekat maupun jauh. Silaturrahim dengan tetangga dekat maupun jauh. Silaturrahim dalam hubungan-hubungan sosial dan kemasyarakatan. Silaturrahim dengan rekan-rekan kerja di kantor, baik atasan dan bawahan. Silaturrahim dalam bisnis dan perniagaan. Niat baik kita yang tulus untuk memperkuat silaturrahim, mudah-mudahan akan segera berbuah banyak rezeki dan panjang umur.

Ada Apa Di Shaf Pertama?

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ﴾

Dari sahabat Abdurrahman bin Auf r.hu dari ayahnya dia berkata, telah bersabda Rasulullah saw,

”Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat pada orang yang berada pada barisan pertama.”

Kedudukan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majjah dalam Sunannya pada bab Fadlus Saffil Muqaddam juz III halaman 270 hadis nomor 987. Imam Ahmad dalam Musnadnya juga meriwayatkan hadis serupa pada bab Haditsun Nu’man bin Basyir Anin Nabiyyi saw juz XXXVII halaman 322 hadis nomor 17641. Imam Baihaqi, Thabrani, Hakim dan Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadis ini dalam kitab-kitabnya.

Pemahaman Hadis
Yushollūna. Artinya, Allah dan para malaikat-Nya bershalawat.
Shalawat berarti doa, memberi rahmat dan ibadah. Kata ini berakar dari kata shalla. Dalam hadis di atas bagaimana Allah dan para malaikatnya bershalawat. Bagi hamba-hambanya yang menempati shaf (barisan) pertama dalam shalat berjamaah. Bentuk shalawat Allah dan malaikat-Nya kepada para hambanya tentu berbeda dengan shalawat Allah kepada Rasulullah saw sebagaimana firman-Nya dalam al-qur’an,

”Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi saw.”(Qs.al-Ahzab [33]: 56)

Shalawatnya Allah untuk Rasulullah adalah berupa pujian-Nya untuk Nabi. Sedangkan shalawat malaikat kepada beliau adalah berupa doa.
Bagi para hamba-Nya shalawat Allah swt adalah berupa ampunan (maghfirah), sedangkan dari malaikat berupa permohonan ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang dilakukan oleh seorang hamba.

’Alas shaffil awwal. Artinya, bagi orang yang menempati shaf pertama.
Betapa beruntungnya orang yang menempati posisi shaf (barisan) pertama dalam shalat berjamaah. Hingga Allah dan para malaikat bershalawat kepadanya. Akan tetapi sayang, entah karena tidak tahu atau tidak suka. Alfaqir banyak temukan ketika shalat berjamaah baik dalam shalat jum’at, shalat maktubah maupun shalat-shalat yang dilakukan secara berjamaah lainnya. Yang enggan untuk berada pada shaf pertama. Kebanyakan lebih suka berada di belakang sambil bertelekan di dinding. Padahal shaf terdepan masih kosong. Kecuali bagi perempuan shaf (barisan) yang utama adalah yang paling belakang sebagaimana disabdakan oleh Nabi saw,

”Sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah yang pertama dan sejelek-jeleknya adalah yang paling akhir. Dan sebaik-baik shaf bagi wanita adalah yang terakhir dan sejelek-jeleknya adalah yang pertama.”(Hr.Muslim)

Inilah seharusnya yang harus menjadi renungan pada diri kita masing-masing.
Sungguh sangat ironis jika kaum muslimin mengetahui sabda Nabi saw yang menerangkan bahwa jika seseorang mengetahui apa yang ada pada shaf pertama. Pastilah mereka akan saling berebut untuk mendapatkannya. Akan tetapi kenyataanya sekarang justru sebaliknya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim,

”Seandainya manusia mengetahui pahala adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan undian, niscaya mereka melakukan undian itu.”(Hr.Muslim)

Menengok hadis di atas bagi para khatib, imam jamaah shalat dan orang yang ditokohkan agar jangan ragu untuk mengingatkan kaum muslimin supaya mengisi barisan terdepan terlebih dahulu. Sebab mungkin di antara sebagian besar kaum muslimin belum mengetahui akan keutamaan yang ada pada shaf pertama.

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Datangilah shalat berjamaah.
2. Jika barisan (shaf) pertama dalam shalat berjamaah masih ada yang kosong segeralah isi kekosongan tersebut.
3. Istiqamah dan mudawamah-lah dalam shalat berjamaah.

Oase Pencerahan
Shalat di shaf pertama mempunyai keutamaan dan keistimewaan, sebagaimana diinformasikan oleh Rasulullah saw dalam hadis-hadisnya. Karenanya beliau saw memperingatkan agar jangan sampai seseorang sengaja terlambat dan tidak mau berada di shaf terdepan, karena hal itu akan menjadi sebab Allah swt akan mengundurkan rahmat dan keutamaan-Nya kepada orang tersebut. Rasulullah saw bersabda,

“Kalian majulah ke depan dan bermakmumlah di belakangku, dan hendaklah orang yang datang setelah kalian bermakmum di belakang kalian. Terus-menerus suatu kaum itu membiasakan diri terlambat mendatangi shalat, hingga Allah juga mengundurkan mereka (masuk ke dalam surga).”(Hr.Muslim)

Yang cukup unik adalah jika “Shaf Pertama” yang berhubungan dengan masalah keduniaan. Seperti jabatan kepala negara, presiden, gubernur, bupati, walikota dan setiap kedudukan yang paling terdepan. Orang-orang selalu berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Bahkan kadang-kadang cara mendapatkannya pun tidak tanggung-tanggung. Semuanya akan dikorbankan. Harta, harga diri dan bahkan “agama” juga digadaikan demi tercapainya semua itu. Naudzu billah min dzalik.
Lalu kenapa mereka tidak melakukan hal yang sama untuk shaf pertama untuk akhiratnya padahal jaminan Allah dan rasul-Nya telah jelas mengenai pahala orang-orang yang berada pada shaf pertama? Inilah yang seharusnya menjadikan renungan bagi kita bersama. Untuk ber-fastabiqul khoirat dalam segenap kebaikan.
Mari setelah kita mengetahui hadis ini untuk menumbuhkan semangat dalam diri kita. Untuk selalu berbuat yang terbaik dalam segala hal. Raih keutamaan, keunggulan dan posisi terbaik di mana Allah dan para malaikatnya bershalawat atasnya. Yakni menempati posisi shaf (barisan) pertama dalam shalat berjamaah. Semoga Allah memuliakan kita di dunia dan di akhirat kelak. Amiin

Siapakah Yang Paling Dibenci Nabi saw?

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ خِرَاشٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ حَدَّثَنَا مُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ حَدَّثَنِي عَبْدُ رَبِّهِ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ﴿ إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ﴾

Dari sahabat Jabir r.hu, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda,

”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Sesunguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada Hari Kiamat adalah (ats-tsartsarun), (al-mutasyaddiqun) dan (al-mutasyaddiqun). Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami mengerti tentang ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun. Lalu apa yang dimaksud dengan al-mutafaihiqun?’ Beliau menjawab, ‘Dialah orang yang sombong.”

Kedudukan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya pada bab Ma Jaa fi Maalil Akhlaq, juz VII halaman 309 hadis nomor 1941. Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini dalam Musnadnya pada bab Haditsu Abi Tsa’labah r.hu juz 36 halaman 132 hadis nomor 17066. Lafadz dari riwayat Imam Tirmidzi inilah yang tertulis dalam lembar Jum’at al-Fath edisi kali ini. Imam Baihaqi, Thabrani dan juga Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadis serupa dalam kitabnya masing-masing.

Pemahaman Hadis
Mahāsinukum akhlāqān. Artinya, akhlak yang terbaik di antara kalian.
Kata akhlāqān adalah jamak dari kata khuluq yang berarti gambaran kondisi jiwa yang konstan (stabil) yang menimbulkan perbuatatan-perbuatan dengan mudah tanpa berpikir dan pertimbangan. Apabila kondisi tersebut melahirkan perbuatan-perbuatan baik menurut syariat dan akal, maka kondisi tersebut disebut akhlak yang baik (husnul khuluq).
Orang yang mempunyai husnul khuluq (akhlak yang baik) inilah yang di akhirat kelak akan menjadi orang yang paling dicintai Nabi saw. Dan menjadi orang yang paling dekat dengan beliau sebagaimana sabda beliau,

”Sesenggauhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat majelisnya dengan aku pada Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhalaknya.”(Hr.Bukhari)

Betapa beruntungnya menjadi orang yang paling dicintai Nabi saw dan paling dekat dengan beliau saw di akhirat kelak. Dan orang yang yang mempunyai husnul khuluk-lah yang akan mendapatkan kenikmatan itu. Oleh sebab itu tidak ada kata lain bagi kita untuk menghiasi diri kita dengan perangai akhlakul karimah. Dan jangan lupa untuk selalu memohon kepada Allah swt agar dikaruniai akhlak yang baik sebagaimana doa yang diajarkan oleh Nabi saw,

”Ya Allah tunjukkanlah aku kepada akhlak yang baik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya kecuali Engkau, dan jauhkan aku dari akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan kecuali Engkau.”(Hr.Muslim)

ats-Tsartsārūn. Artinya, orang yang banyak bicara.
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin bahwa makna tsartsārūn adalah orang yang banyak bicara dan suka menyerobot pembicaraan orang lain. Apabila dia duduk ngobrol dalam suatu majelis dia sering menyerobot pembicaraan orang lain, sehingga seolah-olah tidak boleh ada yang bicara dalam majelis itu selain dia. Dia berbicara tanpa membiarkan orang lain leluasa berkata-kata.
Perbuatan seperti ini tidak diragukan lagi termasuk kesombongan. Yang dimaksud majelis dalam konteks ini adalah pembicaraan-pembicaraan sehari-hari bukan majelis ilmu atau pengajian, sebab jika suatu saat Anda mendapat kesempatan untuk memberikan nasihat atau mengisi kajian di depan mereka lalu Anda sendirian yang lebih banyak berbicara maka hal ini tidak termasuk dalam kategori ini.
Orang yang seperti ini sangat dibenci oleh Nabi saw, karena akhlak yang buruk dan banyak bicara tanpa ada kebaikan sama sekali di dalamnya. Maka menjaga lisan dari berbicara yang tidak manfaat menjadi kata kunci dalam hal ini. Rasulullah saw bersabda,

”Barangsiapa beriman kepada kepada Allah swt dan Hari Akhir, maka hendaklah berkata baik atau diam.”(Hr.Bukhari)

Ingat! Semua kata yang keluar dari mulut kita akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Allah swt. Sebagaimna firman-Nya,

”Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar) dan utusan Kami (para malaikat) selalu mencatat di sisi mereka.”(Qs.az-Zukhruf [43]: (80)

Juga yang sering terjadi adalah berbicara atau ngobrol dengan teman ketika khutbah Jum’at sedang berlangsung. Hal ini jelas sangat merugikan. Sebab selain menjadikan shalat Jum’at kita lagha (sia-sia) juga mendapat kecaman dari Allah dan rasul-Nya.
”Barangsiapa yang berbicara pada Hari Jumat sewaktu imam (khatib) berkhutbah, maka ia seperti keledai yang memikul kitab, sedangkan siapa yang mengingatkan orang itu dengan kata-kata 'diamlah', maka tidak sempurna shalat Jumatnya." (Hr.Ahmad, Ibnu Syaibah, Bazzar, dan Thabrani)

”Apabila engkau mengatakan kepada temanmu pada Hari Jumat sewaktu imam (khatib) sedang berkhutbah 'diamlah', engkau melakukan perbuatan yang sia-sia" (Hr.Jamaah selain Ibnu Majah)

al-Mutasyaddiqūn. Artinya, Orang yang berbicara dengan dibuat-buat.
Adapula yang mengatakan makna dari al-mutasyaddiqūn adalah orang yang mempunyai kebiasaan menghina orang lain. Pendapat lain mengatakan al-mutasyaddiqun adalah orang yang bicara selebar sudut bibirnya dengan memfasih-fasihkan, membesar-besarkan ucapannya, dan sombong terhadap selainnya.
Betapa banyak kita jumpai orang yang seperti ini di jaman sekarang. Mereka pandai bersilat lidah. Dengan menunjukkan arogansi kepada publik. Yang tujuannya melemahkan pesaing-pesaingya dalam perburuan kekuasaan. Jika dirinya berkompeten dalam dunia politik.
Atau dirinya mengumbar janji-janji. Untuk mendapat massa yang mendukung dirinya. Meskipun janji-janji tersebut hanya omong kosong belaka.

al-Mutafaihiqūn. Artinya, Orang yang sombong.
Dinul Islam sangat melarang pengikutnya memiliki sifat sombong. Dikarenakan sifat ini dapat menyebabkan bencana bagi pelakunya dan juga orang lain. Orang yang dihinggapi sifat sombong tidak akan mau mencari dan menambah keilmuannya. Dirinya tidak akan pernah mau menerima nasihat dan kebenaran.
Dan yang paling celaka adalah dia tidak akan mau tunduk dan patuh terhadap kebenaran sekalipun kebenaran itu datangnya dari Allah swt.

”Dan, mereka mengingkarinya karena kedhaliman dan kesombongannya, padahal hatinya meyakini kebenaran.”(Qs.an-Naml:[27] 14)

Sifat ini pulalah yang menjadikan iblis menjadi laknatullah. Sebab merasa dirinya lebih baik dari Nabi Adam as. Sehingga menolak perintah Allah swt untuk sujud hormat kepada Nabi Adam as. Allah swt berfirman,

”Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “bersujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang sujud. Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu? Iblis menjawab: aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. Allah berfirman: turunlah kamu dari syurga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.”(Qs.al-A’raf [7]: 11-13)

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Hindarilah perkataan yang tidak berguna.
2. Jika tidak bisa berkata yang baik, maka diamlah.
3. Hindari sifat sombong atau takabbur
4. Mintalah selalu pertolongan Allah swt agar dilindunigi dari sifat-sifat di atas.

Oase Pencerahan
Dalam hadis di atas sangat jelas sekali bahwa Rasulullah saw sangat tidak menyukai orang yang banyak bicara lagi sombong, maka kita sebagai kaum muslimin-mukmin yang taat kepada Allah dan rasul-Nya harus senantiasa mematuhi segala aturan dan menjauhi larangan-Nya. Dalam hal ini kita tidak boleh berbicara yang tidak mengandung manfaat atau sia-sia. Inilah karakter orang yang beriman sebagaimana difirmankan oleh-Nya,

”Beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholat dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.”(Qs.al-Mu’minun [23]: 1-3)

Selain itu kita harus menutup rapat-rapat hati (qalbu) agar sifat takabbur tidak menghinggapi. Sebab bahaya dari sifat takabbur ini sangatlah besar. Di antaranya seperti yang disabdakan oleh Nabi saw,

“Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya terdapat sifat sombong meskipun hanya sebesar dzarrah
(atom).”(Hr.Muslim)

Oleh karena, tidak ada kata lain bagi kita untuk terus memohon kepada Allah agar dijauhkan dari sifat tercela tersebut. Serta memohon kepadanya agar dianugerahi sifat tawadlu (rendah hati).
Lihatlah setiap makhluk-Nya dengan kacamata kasih-sayang (ainur rahmah). Supaya diri kita tidak merasa lebih baik dari orang lain. Semua itu kita lakukan semata berlandas Iman kepada Allah, cinta kepada Nabi dan atas dasar ilmu dan hikmah, insya Allah.

Larangan Mencemari Lingkungan

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ﴿اتَّقُوا اللاَّعِنَيْنِ قَالُوا وَمَا اللاَّعِنَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ ظِلِّهِمْ﴾

Dari sahabat Abu Hurairah r.hu, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda,

”Jauhilah dua perbuatan yang mendatangkan laknat!” Para sahabat bertanya, ”Apakah dua perbuatan yang mendatangkan laknat itu ya Rasulullah?” Rasulullah saw bersabda, ”Orang yang membuang kotoran di jalan umum atau tempat berteduh manusia. ”

Kedudukan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Sunanannya pada bab al-Mawadliullati an-Nabiyyu saw Anil Baul. Juz I halaman 38 hadis nomor 23. Imam Baihaqi juga meriwayatkan dalam Sunannya pada bab an-Nahyu Anit Takhuli Fi Thariqinnas Juz I halaman 97. Begitupula Hakim dan Imam Baihaqi juga meriwayatkan hadis ini dalam kitabnya.
Dan derajat hadis ini adalah shahih berdasar syarat dari Imam Muslim.

Pemahaman Hadis
al-Lāinaini. Artinya, dua perbuatan yang mendatangkan laknat.
Betapa meruginya orang yang terlakanat. Apalagi dilaknat oleh Allah, rasul-Nya dan juga manusia. Kehidupannya pasti tidak akan sehat, sejahtera dan bahagia (SSB). Sebab dirinya terhalang dari rahmat Allah swt. Dalam hadis di atas Rasulullah saw memberikan warning kepada umatnya supaya menjahui dua perbuatan yang bisa mendatangkan laknat bagi pelakunya. Semua itu sebagai wujud cinta Rasulullah saw kepada umatnya. Suapaya tidak terjebak ke dalam dua perbuatan yang mendatangkan laknat tersebut.

Yatakhalla. Artinya, membuang kotoran.
Kata yatakhalla Secara teks berarti membuang kotoran yang berasal dari dzakar dan dubur (kencing dan tinja manusia). Kotoran yang dihasilkan oleh manusia akan membawa dampak buruk bagi keharmonisan lingkungan manakala tidak ditangani secara baik dan benar. Oleh sebab itu dinul Islam sebagai rahmatan lil ’alamin telah memberikan arahan-arahan dalam masalah tersebut.
Di antara arahan-arahan tersebut adalah dilarangnya membuang hajat (kencing dan buang air besar) di sembarang tempat. Sebab apabila itu terjadi, maka dampaknya akan mengganggu keharmonisan lingkungan. Padahal kita tahu dinul Islam sangat memperhatikan masalah kebersihan dan keharmonisan lingkungan.
Secara konstektual kata yatakhalla bisa berarti segala hal yang dapat mengganggu keharmonisan lingkungan. Bukan hanya kencing dan buang air besar saja yang dilarang akan tetapi segala hal yang dapat mengganggu keharmonisan lingkungan maka hal tersebut juga bisa dikategorikan sebagai makna dari kata yatakhalla. Maka mencemari air, membuang sampah sembarangan, dan segenap hal yang mencemari lingkungan juga masuk dalam makna kata ini.

Fī tharīqin nās. Artinya, jalan yang dilewati manusia.
Inilah satu dari perbuatan yang bisa mendatangkan laknat bagi pelakunya. Yakni membuang kotoran atau segenap hal yang dapat mengganggu lingkungan di jalan yang dilewati manusia (jalan umum). Sangat beralasan bila orang yang membuang kotoran atau sampah di tempat umum tersebut terlaknat. Sebab dampak yang ditimbulkan sangatlah besar. Sebagai contoh bila ada seseorang yang membuang kotoran dan sampah di jalan umum. Efek yang diakibatkan akibat sampah tersebut sangatlah besar bagi kesehatan jasmani dan rohani.

Dhillihim. Artinya, tempat yang digunakan berteduh manusia.
Dalam hadis ini kata dhillihim lebih condong pada pohon yang biasanya digunakan berteduh oleh seseorang yang mungkin numpang istirahat ketika dirinya dihinggapi rasa lelah. Dalam konteks saat ini bisa juga diartikan tempat yang mana bisa digunakan tempat berteduh atau istirahat bagi seseorang.
Berdasar hadis ini kiranya kita dapat mengambil kesimpulan tentang haramnya membuang kotoran di jalan umum yang biasa dilewati manusia atau naungan mereka sebab hal itu dapat mengganggu kaum muslimin dengan menajisi orang yang lewat pada tempat itu dan mengotorinya.

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Jangan membuang sampah/kotoran di sembarang tempat.
2. Hindari membuang kotoran di tempat-tempat umum seperti jalan raya dan sebagainya
3. Hindari membuang kotoran di tempat yang biasa digunakan berteduh.
4. Cintailah lingkungan Anda.

Oase Pencerahan
Dinul Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Sangat memperhatikan masalah kebersihan lingkungan. Hingga melarang para pemeluknya untuk membuang kotoran/sampah di sembarang tempat. Salah besar jika ada anggapan dinul islam adalah agama yang tidak memperhatikan kebersihan para pemeluknya. Jika memang ada, itu hanyalah oknum orang islamnya. Bukan agamanya.
Dalam sabdanya, Rasulullah saw sering memperingatkan umatnya agar selalu memperhatikan kebersihan lingkungan, di antaranya beliau saw melarang kencing di sumber air,

“Jauhilah tiga penyebab laknat, buang hajat di sumber air, ditengah jalan dan tempat berteduh.”(Hr.Abu Daud)
“Rasulullah saw melarang kencing pada air yang tergenang.”(Hr.Muslim)

Orang yang iman dan ketauhidannya bagus pasti peduli terhadap lingkungannya. Kualiltas religuitas sangat mempengaruhi pandangan terhadap lingkungan. Sayangnya masyrakat kita belum terlalu peduli terhadap lingkungannya. Itu dikarenakan masyarakat kita belum mampu menjadikan agama sebagai nur dalam hati. Akibatnya kita hanya “seolah-olah” saja. Kelihatannya memperbaiki lingkungan padahal sebenarnya telah merusak lingkungan. Naudzu billah.
Maka bagi kita semua yang peduli akan lingkungan. Lakukan yang terbaik untuk lingkungan, dan serukanlah kepada orang lain agar mereka mempedulikan nasib lingkungan. Atau mulailah dari kita sendiri, biasakan tidak membuang kotoran/sampah atau apapun yang dapat mengganggu keharmonisan lingkungan di sembarangan tempat, kurangi pemakaian bahan plastik dan sejenisnya karena sampah plastik merupakan bahan yang tidak mudah rusak utamanya banner sebab penelitian menyebutkan bahwa sampah banner tidak dapat diurai oleh tanah selama 150 tahun. Kurangi pemakaian energi/listrik berlebihan, maka Anda sudah peduli lingkungan.
Jadilah orang yang mencintai lingkungan demi masa depan generasi/ keluarga kita (anak cucu semua). Semoga dengan membaca hadis al-Fath edisi kali ini diri kita bisa lebih Imani, Islami dan Ihsani. Yang ditandai dengan terus meng-Allah-kan Allah, Me-manusia-kan manusia dan Meng-alam-kan alam, insya Allah.

Menanam Pohon Adalah Sedekah

حَدَّثَنَا بَهْزٌ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ؛ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ؛ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَـيْهِ وَسَلَّمَ :
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِـيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِـيْلَةٌ؛ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ يَقُوْمَ حَـتَّى يَغْرِسَهَا؛ فَلْيَـفْـعَلْ
Dari sahabat Anas bin Malik r.hu berkata telah bersabda Rasulullah saw,

“Jika Hari Kiamat telah datang. Sedang di tangan salah seorang di antara kalian terdapat bibit pohon kurma [tanaman]. Maka, jika dia mampu untuk tidak berdiri seraya menanamnya. Maka, lakukanlah.”

Kedudukan Hadis
Hadis ini terdapat dalam Kitab Musnad Ahmad, bab Musnad Anas bin Malik r.hu, Juz XXVI, halaman 59, hadis nomor 12512. Imam Thayalisi r.hu meriwayatkan dalam Kitab al-Musnad (2068). Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani r.hu dalam as-Shahihah, hadis nomor 9.

Pemahaman Hadis
as-Sā’ah. Artinya, Hari Kiamat.
Hari Kiamat pasti terjadi. Tidak ada keraguan sama sekali mengenai hal itu. Akan tetapi tidak ada seorang pun yang tahu kapan Hari Kiamat terjadi.
Kedahsyatan Hari Kiamat banyak digambarkan Allah swt dalam al-qur’an maupun di dalam hadis-hadis Nabi saw. Saat itu kegentingannya membuat takut seluruh makhluk hidup yang ada di alam ini. Di mana langit terpecah, bumi terbelah, laut meluap, matahari digulung, dan bintang-bintang dikumpulkan.

Fasīlatun. Artinya, bibit pohon kurma (tanaman).
Satu di antara perkara yang tidak terputus amalan seseorang. Walau ia telah meninggal dunia adalah sedekah jariah. Yaitu, sedekah yang terus mengalir pahalanya bagi seseorang yang telah meninggal dunia.
Para ulama berpendapat, “Sedekah jariah memiliki banyak macam dan jalannya. Seperti, membuat sumur umum, membangun masjid, membuat jalan atau jembatan, menanam tumbuhan baik berupa pohon, biji-bijian atau tanaman pangan, dan yang lainnya.”
Jadi, menghijaukan lingkungan dengan tanaman yang kita tanam merupakan sedekah dan amal jariah bagi kita –meskipun kita telah wafat. Selama tanaman itu tumbuh atau berketurunan. Nabi saw bersabda, “Tidak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya” (Hr.Bukhari dalam Kitab al-Muzara'ah dan Muslim dalam Kitab al-Musaqah).
Meskipun kata yang digunakan dalam hadis di atas adalah fasīlatun. Yang berarti bibit pohon kurma yang diambil dari induknya. Bukan berarti tanaman selain itu tidak diperintahkan untuk menanam. Anggapan itu tentu kurang bijaksana. Sebab, kata fasīlatun bukan dalam bentuk ma’rifat melainkan nakirah.
Itu mengandung pengertian, bahwa bukan hanya bibit pohon kurma yang diperintahkan menanam. Akan tetapi semua jenis tanaman yang kita miliki. Asalkan tanaman itu membawa manfaat dan keberkahan bagi kehidupan makhluk hidup.
Adakah pepohonan atau tanaman yang tidak membawa manfaat bagi kehidupan manusia? Jika tidak. Maka, tanamlah semua jenis bibit tanaman yang Anda miliki. Baik itu di pekarangan rumah, kebun atau di mana saja yang masih bisa Anda tanami.

Istathā’a. Artinya, mampu.
Kata ini memberikan pemahaman bahwa dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun. Hendaknya tetap memiliki kebiasaan menanam benih. Artinya, setiap manusia diarahkan untuk memiliki kesadaran menanam benih atau bibit tanaman di muka bumi ini. Terlebih jika dunia telah mengalami kerusakan yang dahsyat. Seperti sekarang ini, misalnya. Di mana semua penduduk bumi dituntut kesadaran dan ketulusannya untuk melakukan penanaman bibit.
Sekaranglah saatnya melakukan “Revolusi Hijau”. Yaitu, bagi pasutri (pasangan suami-isteri) hendaknya memiliki kebiasaan positif (habits), sekali senggama menanam tumbuhan setelah 7 jam.

Fal yaf’al. Artinya, maka lakukanlah.
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani r.hu berpendapat, “Tak ada sesuatu (yakni, dalil) yang paling kuat menunjukkan anjuran bercocok tanam, seperti dalam hadis yang mulia ini. Karena di dalamnya terdapat targhib (dorongan) besar untuk menggunakan kesempatan terakhir dari kehidupan seseorang dalam rangka menanam sesuatu yang dimanfaatkan oleh manusia setelah ia (si penanam) meninggal dunia. Maka, pahalanya terus mengalir, dan dituliskan sebagai pahala baginya sampai Hari Kiamat” (Lihat Kitab Silsilah al-Ahadisush Shahihah).
Inilah perintah nyata dari Nabi saw. Sebab, dalam keadaan yang sangat genting, Rasulullah saw tetap memerintahkan, apabila di tangan terdapat bibit pohon (tanaman), maka jika dia mampu untuk tidak berdiri sampai menanamnya. Maka, menanamlah.
Nabi saw tidak mungkin memerintahkan suatu perkara kepada umatnya dalam kondisi yang genting dan sempit seperti itu, kecuali karena perkara itu amat penting, dan besar manfaatnya bagi umat manusia. Semua ini menunjukkan mengenai dukungan terus “Revolusi Hijau”.

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Tanamlah semua bibit tumbuhan yang bisa ditanam.
2. Lakukan penghijauan di sekitar lingkungan Anda.
3. Lakukan semua itu semata didasari iman kepada Allah swt, cinta pada Rasulullah saw, dan karena kecintaan terhadap ilmu dan hikmah.

Oase Pencerahan
Seorang mukmin yang menanam tanaman tak akan pernah rugi di sisi Allah swt. Sebab, tanaman itu akan dirasakan manfaatnya oleh manusia dan hewan. Bahkan, bumi yang kita tempati ini.
Tanaman yang pernah kita tanam lalu diambil oleh siapa saja, baik dengan jalan yang halal, maupun jalan haram. Maka, kita sebagai penanam tetap mendapatkan pahala. Sebab, tanaman yang diambil itu berubah menjadi sedekah bagi kita. Rasulullah saw bersabda, “Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman. Lalu, burung, manusia atau hewan memakannya, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya” (Hr.Bukhari). “Tidak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman. Lalu, burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya” (Hr.Muslim).
Mengenai dua hadis di atas Imam Nawawi r.hu berpendapat dalam Kitab al-Musaqah, hadis nomor 3945, “Di dalam hadis ini terdapat keutamaan menanam pohon dan tanaman. Pahala pelakunya akan terus berjalan (mengalir) selama pohon dan tanaman itu ada, serta sesuatu (bibit) yang lahir darinya sampai Hari Kiamat masih ada. Para ulama silang pendapat tentang pekerjaan yang paling baik dan paling afdhal. Ada yang berpendapat bahwa yang terbaik adalah perniagaan. Ada yang menyatakan bahwa yang terbaik adalah kerajinan tangan. Ada juga yang menyatakan, bahwa yang terbaik adalah bercocok tanam. Inilah pendapat yang benar. Saya telah memaparkan penjelasannya di akhir bab al-Ath’imah dari Kitab Syarh al-Muhadzdzab. Di dalam hadis-hadis ini terdapat keterangan, bahwa pahala dan ganjaran di akhirat hanyalah khusus bagi kaum muslimin. Dan, bahwa seorang manusia akan diberi pahala atas sesuatu yang dicuri dari hartanya, atau dirusak oleh hewan, atau burung atau sejenisnya” (Lihat dalam Kitab al-Minhaj).
Pahala sedekah yang dijanjikan oleh Rasulullah saw dalam hadis-hadis ini akan diraih oleh seseorang yang yang menanam. Walapun ia tidak meniatkan tanamannya yang diambil atau dirusak orang dan hewan sebagai sedekah.
Penghijauan (reboisasi) merupakan amalan shalih yang mengandung banyak manfaat bagi umat manusia dan makhluk hidup. Baik di dunia maupun untuk membantu kemaslahatan akhirat seorang muslim-mukmin.
Tanaman dan pohon yang ditanam oleh seorang muslim-mukmin memiliki banyak manfaat. Seperti, pohon itu bisa menjadi naungan bagi manusia dan hewan yang lewat. Buah dan daunnya terkadang bisa dimakan, batangnya bisa dibuat menjadi berbagai macam peralatan, akarnya bisa mencegah terjadinya erosi dan banjir, daunnya bisa menyejukkan pandangan bagi orang melihatnya, dan pohon juga bisa menjadi pelindung dari gangguan tiupan angin, membantu sanitasi lingkungan dalam mengurangi polusi udara, dan masih banyak lagi manfaat tanaman dan pohon.
Jika demikian banyak manfaat dari penghijuan. Maka, tak heran jika dinul Islam memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan tanah. Lalu, menanaminya seperti yang dijelaskan oleh Nabi saw dalam hadis di atas. Rasulullah saw bersabda, “Tak akan tegak Hari Kiamat sampai tanah Arab menjadi tanah subur dan sungai-sungai [berair]” (Hr.Muslim dan Ahmad).
Ketika para sahabat mendengarkan hadis ini. Maka, mereka berlomba-lomba dan saling mendorong untuk melakukan program penghijauan. Karena ingin mendapatkan keutamaan dari Allah swt di dunia dan di akhirat.
Saudaraku, jika Anda mau membuka sebagian kitab-kitab hadis yang berisi keterangan dan petunjuk jalan hidup para salaf (pendahulu). Maka, Anda akan mendapatkan manusia-manusia yang memiliki semangat dalam menggalakkan perintah Nabi saw dalam rangka “Meng-alamkan alam” (atau menanam). Cermatilah penuturan seorang tabi’in yang bernama Umarah bin Khuzaimah bin Tsabit al-Anshari al-Madani r.hu, “Saya pernah mendengarkan Umar bin Khaththab berkata kepada bapakku, “Apa yang menghalangi dirimu untuk menanami tanahmu?” Bapakku berkata kepada beliau, “Saya adalah orang yang sudah tua, akan mati besok.” Umar berkata kepadanya, “Saya mengharuskan engkau [menanamnya]. “Engkau harus menanam!” Sungguh saya melihat Umar bin Khaththab menanam dengan tangannya bersama bapakku” (Hr.Ibnu Jarir ath-Thobari).
Saudaraku, masihkan Anda ragu dalam perintah menanam dan keutamaannya?
Mari dalam rangka “Meng-alam-kan alam” dan menghijaukan bumi. Kita gemar menanam supaya keseimbangan alam ini tetap terjaga, insya Allah. [ ]

Memahami Isbal

حَـدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ، عَنِ الْعَلاَءِ بْنِ عَـبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِـيْهِ أَنَّهُ قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا سَعِـيْدٍ الْخُدْرِيَّ، عَنِ اْلإِِزَارِ فَقَالَ: أَنَا أُخْبِرُكَ بِعِلْمٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
إِزْرَةُ الْمُؤْمِنِ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَـيْهِ لاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ فِيْمَا بَيْـنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْـبَيْنِ مَا أَسْفَلَ مِنْ ذَلِكَ فَفِي النَّارِ مَا أَسْفَلَ مِنْ ذَلِكَ فَفِي النَّارِ لاَ يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا
Dari sahabat Ala`i bin Abdurrahman r.hu dari ayahnya ia berkata, “Saya bertanya kepada Abu Sa’id al-Khudri r.hu tentang izar? Kemudian, ia menjawab “Saya akan memberitahukan satu ilmu, bahwa saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda,

“Sarung seorang mukmin hingga tengah betis. Dan, tidak mengapa jika di antara tengah betis hingga mata kaki. Maka, apa yang di bawah mata kaki, tempatnya di neraka, apa yang di bawah mata kaki, tempatnya di neraka. Pada Hari Kiamat Allah tidak akan melihat kepada orang yang menyeret sarungnya [sampai menyapu tanah-red] karena sombong.”

Kedudukan Hadis
Hadis di atas diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri r.hu. Terdapat dalam Kitab Muwwatha’, Juz V, hadis nomor 1426, halaman 416.
Dalam Musnad Imam Ahmad, Juz XVI, hadis nomor 7519, halaman 60.
Kitab Sunan Imam Nasa’i, Juz V, hadis nomor 9705, halaman 489.
Kitab Sunan Ibnu Hibban, Juz XXII, hadis nomor 5538, halaman 424.
Dan, Imam Thabrani r.hu dalam Kitab-nya, Juz III, hadis nomor 13113, halaman 477.

Pemahaman Hadis
Ilā anshāfi sāqaihi. Artinya, hingga tengah betis.
Aspek yang terkandung dalam teks ini, bahwa dinul Islam mengajarkan unsur kepraktisan. Praktis dari jumlah lebar dan panjang kain yang hendak dikenakan, apakah itu model sinjar, model sarung, maupun model celana (pantalon).
Praktis apabila digunakan untuk ibadah shalat. Tidak usah menggulung. Sebab, kedua mata kakinya telah kelihatan. Yang ini disunnahkan di dalam shalat. Yakni, hendaknya menampakkan kedua mata kaki bagi laki-laki. Sebaliknya, harus menutup rapat bagi kaum perempuan.
Praktis dari segi model. Jika umat Islam mengenakan dengan memperhatikan sunnah ini. Maka, kaum muslimin, khususnya para kawula muda Islam tidak terjebak dengan gaya dan model yang diusung dari luar Islam. Tidak terlalu komprang (kombor). Juga tidak terlalu press body. Benar-benar memperhatikan unsur etika dan estetika.
Dari sahabat Ibnu Umar r.hu berkata, “Saya lewat di hadapan Rasulullah sedangkan sinjarku terurai. Kemudian, Rasulullah saw menegurku, seraya berkata, “Wahai Abdullah, tinggikan sinjarmu!” Saya pun meninggikannya.
Beliau saw bersabda lagi, “Tinggikan lagi!” Saya pun meninggikannya lagi.
Sejak saat itu saya senantiasa menjaga sinjarku pada batas itu. Ada beberapa orang bertanya, “Seberapa tingginya?”
“Sampai setengah betis.” (Hr.Muslim, hadis nomor 2086 dan Ahmad, Juz II, halaman 33).

al-Ka’bain. Artinya, kedua mata kaki.
Kedua mata kaki sebagai batas yang telah ditentukan oleh Nabi saw. Melebihi kedua mata kaki itulah yang dicap neraka.
Jelas, ukuran panjang sinjar, konteks Indonesia: Sarung; Pantalon (celana panjang); dan Jarik (bagi yang berbusana Jawa) batas panjang bawah adalah kedua mata kaki.
Diriwayatkan, Rasulullah saw pernah suatu ketika melihat sahabat Abu Bakar r.hu namun beliau tidak komentar apa-apa mengenai sinjar sahabat Abu Bakar yang sampai di kedua mata kaki. Diamnya Nabi saw menandakan diperbolehkannya. Dan, itu menjadi tanda persetujuan Nabi saw (taqrir). Taqrir Nabi saw adalah hadis Nabi saw. Juga, diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah r.hu, “Rasulullah saw bersabda,

“Sinjar seorang mukmin hingga tengah betis dan tidak mengapa jika di antara tengah betis sampai mata kaki. Maka, apa yang di bawah mata kaki tempatnya di neraka” (Hr.Ahmad, dalam Musnad).

Dalam hadis ini tercatat kata, “Nisfi syaqaihi tsumma ilal ka’bain.” Artinya, pertengahan betis lalu sampai kedua mata kaki. Terdapatnya huruf ghayah “ila” memberikan tanda bahwa ka’bain menjadi batas akhir dari panjang yang diperbolehkan.

Jarra. Artinya, menyeret celana hingga menyapu tanah.
Yang dimaksud jarra adalah irkha’. Yakni, memanjangkan kain atau kain yang panjang, yang panjangnya melebihi kedua mata kaki hingga menyeretnya ke tanah. Termasuk irkha’ adalah celana kombor atau komprang.
Di samping memang dilarang secara tegas. Memanjangkan kain melebihi kedua mata kaki hingga menyeret ke tanah, adalah kebiasaan para raja Persia dan Romawi. Demikian hal dengan para pembesar dan bangsawan di kalangan mereka.
Semua mereka lakukan sebagai sebuah citra diri menjadi penguasa, pejabat, dan hartawan. Dengan kata lain, mereka menyombongkan diri dengan model berpakaian seperti itu.
Sementara, dinul Islam mengajarkan kepada segenap kaum muslimin-mukmin untuk tidak berlaku sombong. Sebaliknya, umat Islam harus selalu rendah hati (tawadlu’). Sombong adalah selendang Allah jalla jalaluh. Rasulullah saw bersabda,

“Allah ta’ala pada Hari Kiamat nanti tidak melihat kepada orang yang menyeret pakaiannya karena berlaku sombong” (Hr.Bukhari, nomor 5783 dan Muslim, nomor 5420).

Hikmah dibalik dilarangnya irkha’, adalah:
1. Batharan (sombong).
“Memanjangkan pakaian [menyeret pakaian] berkonsekuensi adanya sifat sombong, walaupun pemakainya tidak bertujuan untuk berlaku sombong,” demikian menurut Imam Ibnu Hajar al-Asqalani r.hu. Masih menurutnya, yang menguatkan hal ini, hadis yang diriwayatkan secara marfu’ oleh Ahmad bin Mani’ dari sahabat Ibnu ‘Umar r.huma,

“Hati-hati kamu dari menyeret kainmu. Karena menyeret kain termasuk kesombongan” (Hr.Ahmad).

2. Mubadzir (berlebih-lebihan).
al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani r.hu berkata, “Apabila pakaian melebihi batas semestinya. Maka, larangannya dari segi israf (berlebih-lebihan) yang berakhir pada keharaman” (Fathul Bari, Juz II, nomor 436).
Dan, Allah ta’ala berfirman,

“Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Qs.al-A’raf [7]: 31).

Jadi, yang dimaksud orang yang irkha’ adalah orang yang berlebih-lebihan dalam hal berpakaian. wa-llahu a’lam.

3. Terkena najis.
Orang yang irkha’ tidak aman dari najis. Kemungkinan besar najis dapat menempel atau mengenai kainnya tanpa dia sadari. Rasulullah saw bersabda,

“Naikkan sarungmu karena hal itu lebih menunjukkan ketakwaan.” Dalam lafazh lain, “Lebih suci dan bersih” (Hr.Tirmidzi dalam Kitab Syama’il, halaman 97. Musnad Imam Ahmad, Juz V, hadis nomor 364, dishahihkan oleh al-Albani r.hu dalam Mukhtashar Syama’il Muhammadiah, halaman: 69).

Juga, dalam satu riwayat diceritakan, dari sahabat Abu Hurairah r.hu, dia menceritakan bahwa ada seseorang yang shalat dalam keadaan jarra. Maka, Rasulullah saw mengatakan padanya, “Pergilah dan berwudhulah!”
Orang itu pun pergi berwudhu. Lalu, datang kembali. Rasulullah saw mengatakan lagi, “Pergilah dan berwudhulah!”
Maka, ada seseorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau perintahkan dia untuk berwudhu?”
Beliau pun tidak mengatakan apa-apa lagi. Kemudian, beliau bersabda,

“Sesungguhnya dia tadi shalat dalam keadaan memanjangkan kainnya. Sesungguhnya Allah tidak menerima shalat seseorang yang memanjangkan kainnya” (Hr.Abu Dawud dalam Sunan-nya, nomor 638 dan 4086, dishahihkan oleh asy-Syaikh Ahmad Syakir r.hu dalam Tahqiq wa Ta’liq terhadap al-Muhalla Ibnu Hazm r.hu, Juz IV, hadis nomor 102).

Ibnul Qayyim r.hu mengatakan, “Sisi pendalilan hadis ini –wa-llahu a’lam– bahwasanya jarra (irkha’) merupakan perbuatan maksiat. Setiap orang yang melakukan maksiat diperintahkan untuk berwudhu serta shalat, karena wudhu akan memadamkan apa yang terbakar oleh maksiat” (Tahdzibus Sunan, Juz VI, halaman 50).

4. Menyerupai perempuan.
Memanjangkan pakaian kalau bagi perempuan malah disyari’atkan bahkan wajib. Kaum perempuan tidak diperkenankan menampakkan anggota tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan. Orang yang irkha’ berarti mereka telah menyerupai perempuan dalam berpakaian, dan hal itu terlarang secara tegas, berdasarkan hadis dari sahabat Ibnu Abbas r.hu, ia berkata,

“Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki” (Hr. Bukhari 5885, Abu Dawud 4097, Tirmidzi 2785, dan Ibnu Majah 1904).

Imam Thabari r.hu berkata, “Maknanya tidak boleh bagi laki-laki menyerupai perempuan di dalam berpakaian dan perhiasan yang menjadi kekhususan mereka, demikian pula sebaliknya” (Fathul Bari, Juz II, halaman 521).
Dari Kharsyah bin Hirr berkata, “Saya melihat Umar bin Khaththab, kemudian ada seorang pemuda yang melabuhkan sinjarnya lewat di hadapannya. Maka, Umar menegurnya seraya berkata, “Apakah kamu orang yang haidh?”
Pemuda tersebut menjawab, “Wahai amirul mukminin, apakah laki-laki itu mengalami haidh?”
Umar menjawab, “Lantas mengapa kamu melabuhkan sinjarmu melewati kaki?”
Kemudian, Umar minta diambilkan guting. Lalu, memotong bagian sinjar yang melebihi kedua kakinya.”
Kharsyah berkata, “Seakan-akan saya melihat benang-benang di ujung sarung itu” (Hr.Ibnu Syaibah, Juz VIII, nomor 393, dengan sanad yang shahih, lihat al-Isbal Lighairil Khuyala, halaman 18).

Oase Pencerahan
Apabila mau belajar hadis tentang isbal dari banyak sumber. Maka, akan ditemukan titik temu mengenai batasan isbal. Yaitu, mulai dari setengah betis sampai mata kaki.
Jadi, memakai celana sampai mata kaki itu boleh. Bahkan, dibawah mata kaki asal tidak sampai irkha’ (menyeret kain ke tanah meski tidak ada niat sombong, red).
Silahkan berbeda pendapat, sehinga ada yang bercelana cingkrang, setengah cingkrang, atau sebatas mata kaki. Itu sah-sah saja. Yang penting di dalam hati jangan sampai ada rasa sombong dengan mengatakan bahwa pendapatnya atau kelompoknya yang paling benar. Ini tanda jika hati orang itu sedang terjangkiti penyakit. Yakni, sombong, ujub, dan membanggakan kelompok.
Apabila masalah-masalah seperti itu selalu diangkat kepermukaan di kehidupan kaum muslimin-mukmin. Kaum zionis yang bertepuk tangan sorak sorai. Seperti dinyatakan dalam Protokol mereka, “Biarkan kaum agamis saling mengafirkan satu sama lain. Sementara kita melenggang-kangkung mengusai dunia.”
Betapa indah kehidupan kaum muslimin-mukmin dengan beragam model berpakaian. Khususnya kaum lelaki muslim-mukmin, ada yang cingkrangnya setengah betis, mendekati betis, dan tepat dengan kedua mata kaki. Mereka semua saudara kita telah meyakini apa-apa yang dikerjakan memang memiliki sandaran masing-masing. Mereka semua berpedoman pada dalilnya masing-masing, ya biarkan saja. Indah mozaik khazanah itu jika dinikmati dengan ilmu yang: Luas; Luwes; dan Mendalam (LLM). Sehingga semua perbedaan dalam tubuh umat Islam dapat disikapi dengan Cara Berpikir yang elegan lagi positif. [ ]

Tidur Sehat Model Nabi

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ قَالَ: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُوْرٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَـيْدَةَ عَنِ الْبَـرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ النَّـبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَـيْهِ وَسَـلَّمَ:
إِذَا أَتَـيْتَ مَضْجَـعَكَ فَـتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلىَ شِـقِّكَ اْلأَيْـمَنِ
Dari sahabat Bara’ bin Azib r.hu dia berkata, “Telah bersabda Rasulullah saw,

“Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu maka berwudlulah seperti wudlumu untuk shalat. Kemudian, berbaringlah di atas bagian tubuhmu yang sebelah kanan.”

Kedudukan Hadis
Hadis ini derajatnya shahih. Terdapat dalam Kitab Shahih Bukhari, bab Fadlu Man Bata alal Wudlu, Juz I, halaman 412, hadis nomor 239. Juga, pada bab Idza Bata Thahiran wa Fadlihi, Juz XIX, halaman 372 hadis nomor 5836.
Kitab Shahih Muslim, bab Ma Yaqulu Indan Naum, Juz XII, halaman 235, hadis nomor 4884.
Selain itu hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, Imam Ibnu Hibban, dan Imam Ibnu Huzaimah r.hum.

Pemahaman Hadis
Fa-tawadla’ wudlu`aka lis shalāti. Artinya, berwudlulah seperti wudlumu untuk shalat.
Seorang muslim-mukmin sebelum tidur disunnahkan berwudlu. Adapun manfaat disunnahkan wudlu ketika hendak tidur, secara medis seperti hadis di atas telah diungkapkan keutamaannya secara ilmiah.
Dalam sebuah artikel berjudul “Muslims Rituals and Their Effect on the Person’s Health” dijelaskan bagaimana wudlu dapat menstimulasi irama tubuh secara alami. Rangsangan itu muncul pada seluruh tubuh. Khususnya, pada area yang disebut Biological Active Spots (BASes). Terdapat 700 BASes pada tubuh kita. Tapi, 65 di antaranya memiliki efek terapi refleks cepat yang cukup diaktifkan dengan pijatan ringan. Daerah ini dikenal dengan istilah drastic spot yang dalam artikel tersebut diungkapkan, bahwa drastic spot inilah bagian-bagian tubuh yang dibasuh air wudlu.
BASes mirip sekali dengan titik-titik refleksologi ala cina. Bedanya, untuk menguasai titik-titik refleksi ala Cina dengan tuntas dibutuhkan waktu paling tidak 15-20 tahun. Bedakan dengan praktek wudlu yang, insya Allah, hanya beberapa menit saja untuk mempelajarinya tapi manfaatnya sangat luar biasa?
Masihkah kita akan meninggalkan sunnah Nabi saw yang namanya wudlu ketika hendak tidur, setelah membaca tulisan ini?

Tsummath thaji’ ala siqqikil aimān. Artinya, berbaringlah di atas bagian tubuhmu yang sebelah kanan.
Posisi tidur Nabi saw adalah miring ke sebelah kanan. Kemudian, beliau berbalik bertumpu sedikit pada sisi kiri, supaya dengan begitu proses pencernaan lebih cepat karena condongnya lambung di atas hati. Lalu, beliau saw kembali tidur bertumpu pada sisi kanan lagi, agar makanan segera larut dari lambung. Jadi, posisi permulaan dan posisi terakhir tidur bertumpu pada sisi kanan. Selain bermanfaat bagi pencernaan paling tidak ada 3 manfaat lain yang dapat diambil dari posisi tidur miring ke sebelah kanan:

a. Untuk jalan nafas.
Tidur miring mencegah jatuhnya lidah ke belakang yang dapat menyumbat jalan nafas. Lain halnya, jika tidur pada posisi terlentang. Maka, relaksasi lidah pada saat tidur dapat mengakibatkan penghalangan jalan nafas, penampakan dari luar berupa mendengkur.
Orang yang mendengkur mengakibatkan tubuh kekurangan oksigen malah kadang-kadang dapat terjadi henti nafas untuk beberapa detik yang akan membangunkan orang yang tidur dengan posisi demikian. Orang tersebut biasanya akan bangun dengan keadaan pusing karena kurangnya pasokan oksigen ke otak. Tentunya hal seperti ini sangat mengganggu tidur kita.

b. Untuk jantung.
Tidur miring ke sebelah kanan membuat jantung tidak tertimpa organ lainnya. Karena posisi jantung yang memang berada lebih di sebelah kiri.
Tidur bertumpu pada sisi kiri menyebabkan curah jantung yang berlebihan karena darah yang masuk ke atrium juga banyak, sebab paru-paru kanan berada di atas sedangkan paru-paru kanan mendapatkan pasokan darah yang lebih banyak dari paru-paru sebelah kiri.

c. Bagi kesehatan paru-paru.
Paru-paru kiri lebih kecil dibandingkan dengan paru-paru kanan. Jika tidur miring ke sebelah kanan, jantung akan jatuh ke sebelah kanan. Itu tidak menjadi masalah karena paru-paru kanan besar. Lain halnya, kalau bertumpu pada sebelah kiri. Jantung akan menekan paru-paru kiri yang berukuran kecil, tentu hal ini sangat tidak baik.

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Hindari makan malam. Utamanya saat menjelang tidur. Itu tidak sehat.
2. Biasakan berwudlu sebelum berangkat tidur.
3. Berbaring ke sebelah kanan dan berdoa sebelum tidur.
4. Dua jam sebelum tidur biasakan minum air putih, ditambah gerak badan ringan.
5. Biasakan jika tidak ada udzur syar’i, setelah shalat isya` langsung tidur.

Oase Pencerahan
Tidur merupakan kebutuhan pokok setiap makhluk hidup, termasuk manusia. Para ilmuwan telah melakukan beberapa penelitian dan eksperimen yang mengindikasikan betapa pentingnya tidur bagi manusia. Tapi sebaliknya, tidur juga merupakan satu indikasi dari kelemahan manusia. Sebagai sesuatu yang inheren dalam kehidupan, maka setiap orang hendaknya memahami betul urgensi dan tata cara tidur agar bisa mengambil manfaat besar dari tidurnya.
Lebih dari itu, harus disadari bahwa tidur bukanlah sekadar istirahat biasa. Menurut ilmu kesehatan, tidur adalah istirahat yang paling baik setelah melakukan berbagai aktivitas kehidupan yang mengakibatkan kelelahan pada seluruh anggota tubuh. Tidur juga merupakan proses untuk mengembalikan tubuh pada keadaan semula.
Melihat betapa pentingnya tidur. Tentu kita mengiginkan tidur yang sehat, nyaman dan yang pasti bernilai ibadah. Meniru tidur Rasulullah saw merupakan jawaban atas keinginan tersebut. Rasululah saw memberikan teladan yang luar biasa dalam hal tidur. Beliau saw memberikan tips yang sangat detail mengenai sebelum tidur maupun setelah tidur. Semua itu bertujuan untuk mendapatkan tidur yang maksimal dan kebugaran tubuh setelah bangun tidur. Di antaranya: Dalam kondisi berwudlu apabila hendak tidur; Tidak terlalu malam; Berisiwak (gosok gigi) sebelum ataupun setelah tidur; Ketika bangun beliau berwdlu lagi; Kemudian mendirikan shalat malam.
Jika kita menerapkan tidur model Nabi saw tersebut. Maka, organ-organ fisik betul-betul memperoleh kesempatan istirahat yang cukup. Seimbang dengan aktivitas kerja jantung dan otak.
Rasulullah saw tidak pernah mengurangi jatah tidur yang diperlukan tubuh. Tapi juga tidak pernah melebihi dosis yang diperlukan. Rasulullah saw tidur di atas bagian tubuhnya yang kanan. Sebelum tidur, beliau biasanya berdzikir kepada Allah ta’ala hingga mata beliau terpejam. Beliau saw tidak langsung tidur bila perutnya masih penuh dengan makanan dan minuman. Atau dengan kata lain, bila beliau hendak tidur, beliau tidak makan-minum sampai kenyang. Beliau tidak tidur di atas kasur tebal, melainkan di atas selembar kulit hewan yang dilapisi tikar dari daun kurma.
Rahasia medis dari posisi dan cara tidur Rasulullah saw itu telah diungkap oleh para ilmuwan. Posisi demikian banyak mengandung faedah bagi kesehatan. Antara lain: Membantu pencernaan; Mengistirahatkan kerja jantung; dan Memberi porsi yang memadai bagi peristirahatan organ tubuh.
Sedang dari segi ibadah, maka hal itu merupakan bentuk penghidupan sunnah Rasulullah saw, yang tentu akan membawa para pelakunya ke-kehidupan yang SSB (sehat, sejahtera, dan bahagia).
Para ilmuwan telah sepakat bahwa tidur yang paling baik adalah berbaring ke sebelah kanan. Sebaliknya, tidur tidak sehat adalah tidur dengan posisi terlentang. Posisi ini hanya diperkenankan untuk istirahat dan bukan untuk tidur.
Namun demikian dibandingkan dengan posisi terlentang, tidur dengan posisi tengkurap adalah posisi tidur yang paling buruk.
Selain itu, selain bagi orang yang sakit, tidur di pagi hari dan sore hari merupakan hal yang harus dihindari. Tidur di pagi hari dapat membahayakan tubuh karena kebiasaan ini dapat menjadikan tubuh lemah dan merusak organ-organ tubuh. Bahkan jika tidur di pagi hari dilakukan sebelum buang air besar, gerak badan (olah raga), dan mengaktifkan kerja lambung dengan makanan maka kebiasaan seperti itu dapat memunculkan berbagai macam penyakit.
Selain itu yang lebih hina adalah orang yang tidur pagi tidak mendapat berkah dari doa Rasulullah saw. Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa beliau saw mendoakan umatnya, agar mendapatkan berkah di pagi hari seperti yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud r.hu dalam Kitab Sunan,

“Ya Allah, berikanlah berkah pada umatku di waktu pagi” (Hr.Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya).

Sedangkan tidur sore hari setelah shalat ashar dapat menghilangkan akal. Riset terbaru membuktikan, tidur setelah ashar (atau pada waktu ashar, red) dapat menyebabkan penyakit vertigo.
Hal terburuk lainnya berkenaan dengan tidur adalah tidur di bawah sinar matahari. Meski hanya sebagian badan saja. Tidur di bawah sinar matahari dapat membangkitkan penyakit dalam tubuh. Berkenaan dengan hal ini, diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah r.hu, “Rasulullah saw pernah bersabda,

“Jika salah satu dari kalian berada di bawah sinar matahari. Lalu, ada bayangan yang menerpa tubuhnya, sehingga sebagian dari tubuhnya berada di bawah sinar matahari dan sebagian lainnya tidak. Maka, hendaklah dia bangun.”
Juga dari sahabat Buraidah bin al-Hushaib r.hu diterangkan bahwa,
“Bahwasannya, Rasulullah saw melarang seseorang tidur di antara tempat yang teduh dan yang tersinari matahari.”

Perlu diketahui dan diingat sehubungan dengan fenomena tidur ini. Yaitu, jika terdapat suatu keinginan, niat dan ide di dalam pikiran kita sebelum tidur. Maka, hal-hal tersebut secara laten mengendap di dalam alam bawah sadar (albasa) kita sepanjang malam dan tanpa disadari akan mempengaruhi pikiran dan tindakan kita.
Sebagai contoh, jika seorang anak kecil tertidur dalam keadaan menangis maka pada umumnya saat anak itu bangun dia akan menangis lagi.
Selanjutnya, jika seorang bayi jatuh tertidur ketika sedang menyedot susu. Dia juga akan membuat gerakan yang serupa ketika terbangun. Oleh sebab itu, kita dianjurkan agar mengarahkan perhatian kita sebelum tidur pada hal-hal yang berhubungan dengan moral dan spiritual. Memperbanyak wirid atau dzikir atau Berpikir Positif.
Maka, jelaslah di balik himah mengapa Rasulullah saw menganjurkan kepada kita sebelum tidur dengan membaca doa-doa. Yang dalam doa itu mengandung kepasrahan dan pengagungan kepada Allah swt. Misalnya, pada doa di bawah ini, m hadis yang diriwaytkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim,

“Ya Allah, saya serahkan urusanku pada Mu serta saya berlindung pada Mu dengan mengaharap pahala Mu dan takut hukuman Mu. Tiada tempat berlindung kecuali perlindungan Mu. Saya beriman kepada kitab Mu yang Engkau turunkan kepada nabi Mu.”

Dengan mengikuti tidur model Rasulullah saw dijamin tidur kita melahirkan jiwa yang tenang. Kita serahkan persoalan hidup dan pribadi kita mutlak kepada Allah swt.
Kalimat tauhid dan doa yang diucapkan sebelum tidur merupakan obat tidur mujarab. Lebih mujarab dari obat tidur konvensional.
Doa dapat menenangkan hati, menumbuh-mantapkan keyakinan, serta menghindarkan hati dari kecemasan dan prasangka buruk.
Tidur model Rasulullah saw ini harus segera di masyarakat di Indonesia. Insya Allah tidak banyak lagi dijumpai penyakit insomnia. Seperti yang tengah menggejala di jaman yang katanya serba modern ini. Wa-allahu a’lam. [ ]