عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ قَالَ لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ انْجَفَلَ النَّاسُ إِلَيْهِ وَقِيلَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجِئْتُ فِي النَّاسِ لِأَنْظُرَ إِلَيْهِ فَلَمَّا اسْتَثْبَتُّ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَرَفْتُ أَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِوَجْهِ كَذَّابٍ وَكَانَ أَوَّلُ شَيْءٍ تَكَلَّمَ بِهِ أَنْ قَالَ: ﴿أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ﴾
Dari sahabat Abdullah bin Salam r.hu, dia berkata, ”Ketika Rasulullah saw hendak datang di Madinah, manusia pada menunggu-nunggu dan saling memberi kabar: Rasulullah datang, Rasulullah datang, Rasulullah datang. Aku datangi kerumunan manusia. Ketika aku pastikan bisa melihat wajah Rasulullah saw, maka aku yakin bahwa raut wajahnya bukan tipe wajah pembohong. Dan pertama kali yang beliau ucapkan adalah,
”Sebarkanlah salam, berilah makan orang yang membutuhkan, dan shalat malamlah ketika manusia pada tertidur. Maka kalian akan masuk surga dengan selamat.”
Kedudukan Hadis
Derajat hadis ini shahih. Demikian keterangan Imam Tirmidzi dalam Sunan-nya pada bab Minhu juz 9 halaman 25 hadis nomor 2409.
Pemahaman Hadis
Afsyūs salām. Artinya, sebarkanlah salam.
Inilah bukti bahwa betapa dinul Islam memerintahkan pemeluknya untuk me-manusiakan manusia. Buktinya dalam sabda insan mulia, Rasulullah saw di atas, pertama yang beliau perintahkan adalah untuk menyebarkan salam yang berarti kedamaian, keselamatan dan kasih sayang. Karena salam dalam Islam adalah penghormatan dari Allah swt. ”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh. Semoga keselamatan, kasih sayang dan keberkahan Allah selalu bersama kalian.
Banyak sekali rahasia di balik diperintahkan salam ini. Di antaranya untuk saling kenal, cinta, kasih sayang dan mendapatkan keberkahan doa salam itu sendiri. Bahkan menjadi prasyarat mendapat tiket masuk surga Allah swt. Inilah rahasia yang pernah diungkap sendiri oleh Rasulullah saw dalam sabdanya,
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian benar dalam keimanan kalian. Dan kalian tidak akan sampai meraih keimanan yang benar sampai kalian saling mencintai di antara kalian. Maukah Aku tunjukkan perkara yang apabila kalian laksanakan kalian akan saling mencintai? “Sebarkan salam di antara kalian.” (Hr. Muslim, Jilid I, Halaman 180)
Bahkan terhadap orang yang tidak dikenal sekalipun Raulullah saw juga menganjurkannya. Hal ini tentu menjadi motivasi bagi kita untuk ber-fastabiqul khairat. Di mana menjadikan salam sebagai habits. Tentu salam yang sebagaimana telah diteladankan oleh Nabi saw. Sayangngnya kaum muslimin sekarang justru meniru salam-salam yang tidak diteladankan Nabi saw seperti, hello, good morning dsb. Apa tidak boleh? Boleh, asal ucapan-ucapan salam tersebut setelah salam yang telah disyariatkan oleh dinul Islam.
Athimūt Thaām. Artinya, berilah makan orang yang membutuhkan.
Langkah berikutnya ketika sudah terbiasa dengan salam, sapa dan saling kenal – sebagai pintu masuk mengetahui kondisi saudaranya-, ketika kondisi saudaranya sedang membutuhkan bantuan, pertolongan atau baru mendapat masalah, maka anjuran Rasulullah saw adalah agar kita peduli dengannya, menolong sesuai dengan yang ia butuhkan. Perintah Rasulullah saw berupa athimut thaam adalah lambang sikap kepedulian. Yang juga bisa diartikan upaya sistematik untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran, pelayanan kesehatan yang memadai serta memberi bantuan pendidikan, bahkan gratis. Sikap peduli ini sangat penting sehingga Allah swt pun mengecam keras orang yang tidak memiliki rasa kepedulian terhadap sesama, padahal ia berkecukupan. Bahkan Allah swt mengatagorikan mereka sebagai pendusta agama. Allah swt berfirman dalam surat al-Ma’un ayat 1-3,
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”(Qs.al-Ma’un [107]:1-3)
Jika kita sebagai kaum muslimin mampu menghayati pesan ini, khususnya para pemimpin yang diberi amanah untuk melayani rakyatnya, maka tidak ada lagi yang akhirnya mati kelaparan, yang putus sekolah dan menderita sakit dan akhirnya meninggal karena tidak punya biaya berobat. Kehiudpan masyarakat pun akan SSB (sehat, sejahtera dan bahagia), insya Allah. Sebab seluruh elemen masyarakat mempunyai seni di dalam me-manusiakan manusia berupa kepedulian terhadap sesama.
Shallū wannāsu niyāmun. Artinya, shalat malamlah ketika manusia sedang tertidur.
Ibadah malam atau qiyamul lail adalah salah satu ibadah agung dan mulia. Yang mana ibadah ini telah disyariatkan sebagai ibadah nafilah (sunnah). Akan tetapi mana kala seorang hamba mengamalkannya dengan CC 100% maka sungguh sangat besar keutamaannya. Allah swt berfirman dalam surat al-qur’an,
”Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ke tempat yang terpuji.”(Qs.al-Isra’[17]:79)
Untuk melaksanakan qiyamul lail memang berat. Apalagi ia dilaksanakan pada waktu manusia sedang enak-enaknya tidur, dalam udara yang dingin dan balutan selimut yang tebal, bahkan harus perang melawan nafsu dan setan yang akan selalu membisikkan untuk tidur lelap. Namun, Allah Maha mengetahui setiap ibadah hamba-Nya dan Mahapenyayang terhadap usaha taqarrub seorang hamba kepada-Nya, Dia memberikan fadhilah (keutamaan) yang besar kepada siapa saja yang melakukan ibadah sunah ini, yaitu derajat yang mulia, baik di dunia ini maupun di hadapan-Nya nanti, sebagaimana tersirat dalam ayat di atas.
Dalam sebuah hadi qudsi diterangkan bahwa, Rasulullah saw bersabda,
''Tuhanmu yang Mahapemberi berkah dan Mahamulia, selalu turun ke langit dunia setiap malam, pada paruh waktu seperti tiga malam terakhir, dan Dia berfirman, 'Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, barangsiapa mengajukan permintaan kepada-Ku akan Aku berikan, dan barangsiapa memohon ampun kepada-Ku akan Aku ampuni.”(Hr.Bukhari & Muslim)
Sungguh sangat indah dan romantis manakala kita bangun malam. Di tengah keheningan malam kita bisa bersua dengan Sang Mahakekasih, Allah swt.
al-Jannata. Artinya, surga.
Setelah seorang hamba mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah saw di atas. Dirinya CC 100% dengan amalan di atas, maka jaminan dari Nabi saw sangatlah jelas, yakni masuklah surga dengan selamat. Sungguh sangat indah manakala kita bisa menjalankan semua itu. Semoga Allah menolong kita untuk bisa menjalankan perintah-perintah-Nya.
Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Sebarkanlah salam pada siapa saja sebagaimana yang telah diteldankan Nabi saw.
2. Jadilah orang yang dermawan.
3. CC-lah dengan qiyamul lail.
Oase Pencerahan
Betapa Rasulullah saw mampu memikat seluruh elemen penduduk Madinah yang terdiri dari berbagai suku, agama dan latar belakang sosial yang beragam. Di awal kedatangan beliau di sana. Padahal beliau belum pernah bertemu dengan mereka, pun tidak ada hubungan darah dengan mereka. Pertamakali yang Rasulullah saw deklarasikan bagi penduduk Madinah yang sedang menanti-nanti kedatangan beliau adalah nilai-nilai humanisme dan kepedulian yang dilandasi dengan sikap mental yang kuat. Ini dapat kita lihat dengan lahirnya Piagam Madinah.
Sungguh sangat indah seni yang diteladankan Rasulullah saw di dalam me-manusiakan manusia. Sebagaimana telah tertulis dalam hadis di atas terlebih dalam isi Piagam Madinah. Semoga kita dianugerahinya untuk bisa terus dan terus mengamalkan prinsip Trianggulasi; Meng-Allah-kan Allah; me-manusia-kan manusia dan meng-alam-kan Alam. Sehingga kehidupan kita pun akan SSB, insya Allah.
jadilah yang terbaik dihadapan ALLAH dan jadilah yang terburuk dihadapan dirimu sendiri!
Saturday, September 18, 2010
Siapakah Yang Berhak Mendapatkan Pertolongan Allah?
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ﴿ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمْ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ﴾
Dari sahabat Abu Hurairah r.hu dia berkata, ”Rasulullah saw bersabda,
”Tiga golongan yang berhak mendapatkan pertolongan Allah; orang yang berjihad di jalan Allah, budak mukatab yang mencicil pembayaran untuk kemerdekaannya dan orang yang menikah untuk menjaga kesucian dirinya.”
Kedudukan Hadis
Derajat hadis ini adalah hasan. Demikian menurut keterangan Imam Tirmidzi dalam Sunannya pada bab Maa Jaa fil Mujahid wan Nakih wal Mukatib wa Aunillahi Iyyahum. Juz XI halaman 214 hadis nomor 1579. Imam Baihaqi meriwayatkan hadis ini dalam Sunannya pada juz X halaman 318. Sementara Imam Nasa’i juga meriwayatkan hadis ini dalam Sunan beliau di juz II halaman 194.
Pemahaman Hadis
Haqqun. Artinya, Yang berhak.
Dalam hadis ini tiga orang yang berhak mendapat jaminan dari Allah swt berupa pertolongan-Nya. Sudah barangtentu suatu keuntungan yang sangat besar manakala seorang hamba dalam perlindungan dan pertolongan Allah swt. Di mana tidak akan ada satu orangpun yang bisa menghalangi kehendak-Nya manakala Dia telah menetapkan pertolongan kepada hamba yang dikehendaki-Nya.
al-Mujāhid fī sabīlillāh. Artinya, orang yang berjuang di jalan Allah.
al-Qur’an telah menempatkan jihad pada urutan yang paling utama di antara ibadah-ibadah yang lain. al-Qur’an menyatakan dengan sangat jelas, agar kaum Muslim mencintai Allah dan rasul-Nya, serta jihad di jalan Allah di atas cintanya kepada yang lain. Allah swt berfirman,
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan syurga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal".(Qs.at-Taubah 20-21).
Melalui ayat tersebut Allah swt memberikan jaminan bahwa orang yang beriman, berjihad dan berhijrah akan mendapatkan kenikmatan ruhaniah berupa: derajat yang tinggi dan mulia di sisi Allah, rahmat dan karunia Allah, ridla Allah yaitu disenangi Allah dan merasa senang pula dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun, dan kenikmatan yang abadi di surga.
Jihad di jalan Allah (fi sabilillah) bukan hanya berperang, tetapi setiap perbuatan berikhtiar dengan kerja keras dan mengusahakan sesuatu sekuat tenaga dan maksimal menghadapi berbagai macam kesulitan, keletihan, dan kesukaran dalam melaksanakan ibadah di jalan Allah juga jihad. Membangun masjid semata mengharap ridlanya, membuatt sumur agar bisa dimanfaatkan kalayak umum, memberantas buta huruf, amar makruf nahi munkar dan segala perbuatan yang mengandung maslahat. Hal tersebut juga jihad.
Jadi jihat tidak melulu harus berperang. Sangat ironis jika jihad di jalan Allah swt hanya dimaknai dengan berperang. Maka pelaku bom bunuh diri yang mengklaim dirinya melakukan aksi bom bunuh diri, guna berjihad di jalan-Nya menunjukkan betapa dangkal pemahaman orang tersebut terhadap makna jihad yang sesungguhnya.
Walmukātabuladzī yurīdul adā’. Artinya, budak mukatab yang mencicil pembayaran untuk kemerdekaannya.
Budak mukatab adalah budak yang telah dijanjikan oleh tuannya akan dimerdekakan bila telah melunasi harga dirinya yang telah ditetapkan oleh sang majikan. Niat mulia sang budak untuk menjadi merdeka itulah yang akan mendatangkan pertolangan Allah.
Inilah pembelajaran bagi kita bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang ingin menjadi lebih baik menderita. Keinginan kita untuk menjadi baik pasti akan disambut oleh ”tangan” terbuka oleh Allah swt.
Wannākihuladzī yurīdul afāf. Artinya, orang yang menikah untuk menjaga kesucian dirinya.
Dengan menikah seseorang akan memiliki jiwa yang lebih santun, tenang, dan damai, sehingga gejolak-gejolak liar akan pergi darinya. Hal ini sebgaimana difirmankan oleh Allah swt,
”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”(Qs.ar-Rum [30]: 21)
Selain itu pernikahan juga bisa menajdi wadah seseorang menyalurkan rasa cintanya dan menumbuh kembangkannya, memberikan kepastian nasab dan memelihara kelestariannya, memelihara martabat seseorang dan pernikahan mencegah kerusakan moral pergaulan antara laki-laki dan perempuan.
Dengan niat yang mulia tersebut. Yakni keinginan seseorang untuk menikah demi menjaga kesucian dirinya di hadapan Allah swt. Maka dengan rahmat Allah yang sangat luas orang yang seperti ini mendapat jaminan pertolongan dari Allah.
Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Pahamilah makna jihad dengan baik dan benar. Kemudian menindak-lanjuti dengan perilaku.
2. Yakinlah bahwa Allah akan selalu menolong kita manakala kita selalu menjalani kehidupan sesuai dengan jalan yang diridlai-Nya.
3. Jika Anda sudah yakin mampu untuk menikah, maka segeralah.
Oase Pencerahan
Sungguh seorang hamba akan mendapat apa yang ia inginkan manakala Allah swt menolongnya. Sebab tidak akan ada yang dapat menghalangi kehendak-Nya. siapa pun itu. Maka beruntunglah orang yang sungguh-sungguh di dalam berjuang membela agama-Nya. Sebab telah ada jaminan bahwa dirinya akan mendapat pertolongan dari Allah.
Maka yang terpenting setelah kita mengetahui hadis ini. Ada a good Character learnig untuk memotivasi kita bahwa keinginan kuat untuk mendekat kepada Allah swt. Akan melahirkan suatu kekuatan dahsyat. Yang mana kekuatan dahsyat itu berupa pertolongan Allah swt.
Bagi para pemuda, jika memang telah merasa mampu untuk menikah. Segeralah untuk menikah jangan ditunda lagi. Jangan mencari berbagai alasan untuk menunda nikah. Seperti belum punya pekerjaan, cari yang lebih cantik lagi dan berbagai alasan laiinya. Ingat dalam al-qur’an Allah dengan tegas memberitakan bahwa jika seseorang ingin menikah dalam keadaan miskin maka Allah pasti akan membuatnya kaya. Tapi ingat niat, cara dan dampaknya harus baik dan benar. Dan ini dipertegas lagi dengan hadis ini.
Semoga kita semua selalu dalam perlindungan Allah swt. Di mana pun dan kapan pun. Hidup yang selalu dalam perlindungan dan pertolongannya itulah kehidupan yang SSB. Insya Allah.
Dari sahabat Abu Hurairah r.hu dia berkata, ”Rasulullah saw bersabda,
”Tiga golongan yang berhak mendapatkan pertolongan Allah; orang yang berjihad di jalan Allah, budak mukatab yang mencicil pembayaran untuk kemerdekaannya dan orang yang menikah untuk menjaga kesucian dirinya.”
Kedudukan Hadis
Derajat hadis ini adalah hasan. Demikian menurut keterangan Imam Tirmidzi dalam Sunannya pada bab Maa Jaa fil Mujahid wan Nakih wal Mukatib wa Aunillahi Iyyahum. Juz XI halaman 214 hadis nomor 1579. Imam Baihaqi meriwayatkan hadis ini dalam Sunannya pada juz X halaman 318. Sementara Imam Nasa’i juga meriwayatkan hadis ini dalam Sunan beliau di juz II halaman 194.
Pemahaman Hadis
Haqqun. Artinya, Yang berhak.
Dalam hadis ini tiga orang yang berhak mendapat jaminan dari Allah swt berupa pertolongan-Nya. Sudah barangtentu suatu keuntungan yang sangat besar manakala seorang hamba dalam perlindungan dan pertolongan Allah swt. Di mana tidak akan ada satu orangpun yang bisa menghalangi kehendak-Nya manakala Dia telah menetapkan pertolongan kepada hamba yang dikehendaki-Nya.
al-Mujāhid fī sabīlillāh. Artinya, orang yang berjuang di jalan Allah.
al-Qur’an telah menempatkan jihad pada urutan yang paling utama di antara ibadah-ibadah yang lain. al-Qur’an menyatakan dengan sangat jelas, agar kaum Muslim mencintai Allah dan rasul-Nya, serta jihad di jalan Allah di atas cintanya kepada yang lain. Allah swt berfirman,
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan syurga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal".(Qs.at-Taubah 20-21).
Melalui ayat tersebut Allah swt memberikan jaminan bahwa orang yang beriman, berjihad dan berhijrah akan mendapatkan kenikmatan ruhaniah berupa: derajat yang tinggi dan mulia di sisi Allah, rahmat dan karunia Allah, ridla Allah yaitu disenangi Allah dan merasa senang pula dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun, dan kenikmatan yang abadi di surga.
Jihad di jalan Allah (fi sabilillah) bukan hanya berperang, tetapi setiap perbuatan berikhtiar dengan kerja keras dan mengusahakan sesuatu sekuat tenaga dan maksimal menghadapi berbagai macam kesulitan, keletihan, dan kesukaran dalam melaksanakan ibadah di jalan Allah juga jihad. Membangun masjid semata mengharap ridlanya, membuatt sumur agar bisa dimanfaatkan kalayak umum, memberantas buta huruf, amar makruf nahi munkar dan segala perbuatan yang mengandung maslahat. Hal tersebut juga jihad.
Jadi jihat tidak melulu harus berperang. Sangat ironis jika jihad di jalan Allah swt hanya dimaknai dengan berperang. Maka pelaku bom bunuh diri yang mengklaim dirinya melakukan aksi bom bunuh diri, guna berjihad di jalan-Nya menunjukkan betapa dangkal pemahaman orang tersebut terhadap makna jihad yang sesungguhnya.
Walmukātabuladzī yurīdul adā’. Artinya, budak mukatab yang mencicil pembayaran untuk kemerdekaannya.
Budak mukatab adalah budak yang telah dijanjikan oleh tuannya akan dimerdekakan bila telah melunasi harga dirinya yang telah ditetapkan oleh sang majikan. Niat mulia sang budak untuk menjadi merdeka itulah yang akan mendatangkan pertolangan Allah.
Inilah pembelajaran bagi kita bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang ingin menjadi lebih baik menderita. Keinginan kita untuk menjadi baik pasti akan disambut oleh ”tangan” terbuka oleh Allah swt.
Wannākihuladzī yurīdul afāf. Artinya, orang yang menikah untuk menjaga kesucian dirinya.
Dengan menikah seseorang akan memiliki jiwa yang lebih santun, tenang, dan damai, sehingga gejolak-gejolak liar akan pergi darinya. Hal ini sebgaimana difirmankan oleh Allah swt,
”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”(Qs.ar-Rum [30]: 21)
Selain itu pernikahan juga bisa menajdi wadah seseorang menyalurkan rasa cintanya dan menumbuh kembangkannya, memberikan kepastian nasab dan memelihara kelestariannya, memelihara martabat seseorang dan pernikahan mencegah kerusakan moral pergaulan antara laki-laki dan perempuan.
Dengan niat yang mulia tersebut. Yakni keinginan seseorang untuk menikah demi menjaga kesucian dirinya di hadapan Allah swt. Maka dengan rahmat Allah yang sangat luas orang yang seperti ini mendapat jaminan pertolongan dari Allah.
Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Pahamilah makna jihad dengan baik dan benar. Kemudian menindak-lanjuti dengan perilaku.
2. Yakinlah bahwa Allah akan selalu menolong kita manakala kita selalu menjalani kehidupan sesuai dengan jalan yang diridlai-Nya.
3. Jika Anda sudah yakin mampu untuk menikah, maka segeralah.
Oase Pencerahan
Sungguh seorang hamba akan mendapat apa yang ia inginkan manakala Allah swt menolongnya. Sebab tidak akan ada yang dapat menghalangi kehendak-Nya. siapa pun itu. Maka beruntunglah orang yang sungguh-sungguh di dalam berjuang membela agama-Nya. Sebab telah ada jaminan bahwa dirinya akan mendapat pertolongan dari Allah.
Maka yang terpenting setelah kita mengetahui hadis ini. Ada a good Character learnig untuk memotivasi kita bahwa keinginan kuat untuk mendekat kepada Allah swt. Akan melahirkan suatu kekuatan dahsyat. Yang mana kekuatan dahsyat itu berupa pertolongan Allah swt.
Bagi para pemuda, jika memang telah merasa mampu untuk menikah. Segeralah untuk menikah jangan ditunda lagi. Jangan mencari berbagai alasan untuk menunda nikah. Seperti belum punya pekerjaan, cari yang lebih cantik lagi dan berbagai alasan laiinya. Ingat dalam al-qur’an Allah dengan tegas memberitakan bahwa jika seseorang ingin menikah dalam keadaan miskin maka Allah pasti akan membuatnya kaya. Tapi ingat niat, cara dan dampaknya harus baik dan benar. Dan ini dipertegas lagi dengan hadis ini.
Semoga kita semua selalu dalam perlindungan Allah swt. Di mana pun dan kapan pun. Hidup yang selalu dalam perlindungan dan pertolongannya itulah kehidupan yang SSB. Insya Allah.
Antara Serigala dan Manusia
حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدِ بْنِ زُرَارَةَ عَنْ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
﴿مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ﴾
Dari sahabat Ibnu Kaab Ibnu Malilk al-Anshary r.hu, dari ayahnya berkata, ”Rasulullah saw bersabda,
”Tidaklah dua serigala dilepas pada kambing lebih merusak dibandingkan ambisi seseorang pada harta dan kedudukan (jabatan), yang akan merusak agamanya.”
Kedudukan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya pada bab Ma Jaa fi Akhadil Mali fi Haqqihi juz VIII halaman 381 hadis nomor 2298. Imam Ahmad dalam Musnadnya merriwayatkan hadis ini pada bab Haditsu Ka’bibni Malik r.hu juz XXXI halaman 419 hadis nomor 15224. Imam Baihaqi, Thabrani dan Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadis serupa dalam kitab-kitabnya.
Pemahaman Hadis
Dzi’bāni jai’āni. Artinya, dua serigala yang lapar.
Anda pernah melihat progam wild life? Dalam acara tersebut bagaimana kita bisa melihat serigala memangsa buruannya, mencekram, menerkam, menggigit, merobek, mengunyahnya dan kemudian menelannya. Saling tarik antara satu serigala dengan serigala lainnya menjadi hal yang biasa. Sebab masing-masing ingin mendapatkan makanan yang paling banyak.
Dalam hadis di atas terdapat penguatan-penguatan di mana kata dzi’bāni jaiāni (dua serigala) yang daya rusaknya disamakan dengan satu orang saja. Ada rasa lapar ditambah sifat buas dan rakus serigala yang disamakan dengan satu orang saja. Ada rasa lapar ditambah dengan sifat buas dan rakus serigala yang disamakan dengan rasa lapar seseorang terhadap harta dan posisi. Ada kata kambing yang dianalogikan sebagai agama yang ada posisi lemah tak berdaya dan kemudian menjadi objek mangsa. Di atas itu semua, daya rusak dua serigala itu masih kalah dahsyat dibandingkan dengan kehausan seseorang terhadap harta dan jabatan.
Hirsil mari. Artinya, ketamakan seseorang.
Jika serigala memburu mangsanya. Kemudian sang buruan itu telah didapatkannya, perutnya merasa kenyang maka cukuplah bagi sang serigala. Berbeda dengan manusia manakala ketamakan dan ambisi yang sangat besar terhadap harta dan kedudukan meskipun ia sudah mendapatkan apa yang diinginkan. Dirinya tidak akan pernah puas. Bahkan akan semakin menjadi-jadi untuk memperoleh harta yang lebih banyak dan juga jabatan yang lebih tinggi. Meskipun dengan berbagai cara yang bertentangan dengan Neraca Syariat.
Dalam hadis di atas betapa sangat detail konotasi Rasulullah saw dari sebuah keserakahan manusia. Sebuah gambaran kerusakan yang divisualisasikan dalam bentuk dua serigala yang lapar yang dilepaskan pada sekawanan domba. Dimana kerusakan yang diakibatkan oleh serigala tersebut masih kalah dahsyat dibandingkan dengan kerakusan manusia.
al-Mal was syaraf. Artinya, harta dan jabatan (kedudukan).
Harta dan jabatan (kedudukan). Keduanya sering disebut-sebut sebagai dua sekawan yang tak terpisahkan. Harta bisa menghantarkan seseorang kepada posisi atau jabatan tertentu. Bahkan hari ini posisi yang seharusnya diisi secara alami oleh orang-orang berkompeten pun bisa dibeli dengan harta. Posisi atau jabatan pun bisa membuat orang mampu mengeruk harta sebanyak-banyaknya. Tanpa ada rasa puas. Tidak ada rasa malu. Apalagi secuil peduli, perhatian dan keberpihakan terhadap masyarakat.
Sebuah konsekuesnsi kerusakan, saat seseorang meraih jabatan dengan menggunakan hartanya. Seperti halnya dalam kaidah jual-beli karena dia telah mengeluarkan sekian banyak rupiahnya, maka ia pun harus mendapatkan lebih banyak saat telah menjabat. Jika orang yang seperti itu diberi gelar khusus maka ada yang lebih dari itu. Yaitu orang yang mendapatkan posisi karena jerih payah orang lain dan tidak ada dari hartanya yang dikeluarkan kemudian daya rusaknya sama dengan mereka yang mengeluarkan hartanya guna merengkuh suatu jabatan. Entah gelar apa yang tepat untuk orang yang seperti ini.
Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan Tirmidzi dijelaskan bahwa rakus harta bisa merusak agama agama karena ada kekuatan yang menggerakkan syahwat yang menjerumuskan kepada bermegah-megahan dalam hal yang mubah. Hingga menjadi kebiasaan dan sangat besar ketergantungannya terhadap harta. Adapun rakus jabatan bisa merusak agama karena orang itu akan masuk ke dalam syirik tersembunyi. Menjadi orang yang suka mencari muka, mempunyai sifat nifak dan akhlak buruk lainnya, maka ini lebih merusak dan lebih merusak. Dan inilah yang membuat rusak negeri ini.
Kalau serigala hanya merusak sekawanan kambing, manusia bisa menghancurkan sistim sebuah negara dan menyebabkan kemiskinan terstruktur. Setelah itu semua, agama pun bisa dirusak oleh kerakusan terhadap harta dan jabatan. Karena bahkan agama pun bisa dimangsanya dengan cara dijual ayatnya, ditunggangi nama besarnya, ditumbalkan, diabaikan. yang penting harta dan jabatan didapatnya.
Maka dia telah berubah menjadi manusia serigala yang sangat rakus dan berbahaya!
Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Menjaga jarak dengan dunia.
2. Tidak ambisius terhadap harta dan kekuasaan.
3. Hidup zuhud sebagaimana diteladankan oleh Nabi saw dan para sahabat r.hum. Ingat! Zuhud bukan berarti antipati terhadap kehidupan dunia.
4. Hati-hatilah terhadap fitnah kekuasaan.
Oase Pencerahan
Harta dan kekuasaan adalah sesuatu yang sangat menggiurkan bagi manusia. Sebab di situlah terdapat kemasyhuran, ketenaran, kehormatan, dan kemapanan sosial ekonomi. Maka relevanlah sabda Nabi saw di atas dimana daya rusak seseorang yang telah dihinggapi rasa keinginan untuk mendapatkan harta dan kekuasaan daya rusaknya lebih dahsyat dari pada kerusakan yang diakibatkan dua ekor serigala yang sangat lapar yang dilepaskan di sekawananan domba. Sebab tidak jaraang ambisi seseorang terhadap harta dan kekuasaan akab menutupi akal sehatnya. Bahkan bisa merudupkan keimanan kepada Allah swt.
Kita bisa tengok di jaman sekarang. Di mana para pengejar jabatan demi memperoleh suatu jabatan ‘rela’ mengerjakan hal-hal yang diharamkan oleh Neraca Syari’at. Seperti, suap, berbuat curang, mendhalami para kompetitornya, berbohong, dan perbuatan-perbuatan yang dilarang lainnya. Ketika ditanya pastilah mereka akan menjawab bahwa hal seperti itu merupakan hal yang diharamkan dan dilarang oleh agama. Lalu mengapa mereka tetap melakukannya? Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah Mahamelihat? Apakah mereka tidak meyakini bahwa kelak mereka akan ditanya oleh Allah swt?
Ya, seperti itulah daya tarik harta dan kekuasaan. Bisa menggiurkan siapapun. Maka tidak ada jalan lain bagi kita untuk terus memohon pertolongan kepada Allah swt agar selalu dipelihara dari fitnah dunia dan kekuasaan.
Pada dasarnya permasalahan bukanlah pada jabatan atau kepemimpinan itu sendiri, akan tetapi pada cara untuk mendapatkannya. Seperti halnya orang yang bercita-cita menikah dengan seorang wanita cantik. Tentunya tidak seorang pun menyalahkan cita-cita orang ini, karena hal itu termasuk perkara yang dibolehkan atau tidak dilarang. Akan tetapi yang tidak diperbolehkan baginya adalah berusaha mencarinya dengan cara-cara yang dilarang atau diharamkan agama maka pernikahan orang itu kelak tidak akan mendapat keberkahan dari Allah swt dan jauh dari bantuan-Nya dalam setiap permasalahan di rumah tangganya. Akan tetapi jika orang itu mendapatkannya dengan cara-cara yang dibenarkan dan dihalalkan agama maka pernikahannya kelak akan diberkahi dan ditolong-Nya.
Semoga kita semua selalu dijaga oleh Allah swt dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Sebab hanya Dia-lah sebaik-baik penjaga. Amiin.
﴿مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ﴾
Dari sahabat Ibnu Kaab Ibnu Malilk al-Anshary r.hu, dari ayahnya berkata, ”Rasulullah saw bersabda,
”Tidaklah dua serigala dilepas pada kambing lebih merusak dibandingkan ambisi seseorang pada harta dan kedudukan (jabatan), yang akan merusak agamanya.”
Kedudukan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya pada bab Ma Jaa fi Akhadil Mali fi Haqqihi juz VIII halaman 381 hadis nomor 2298. Imam Ahmad dalam Musnadnya merriwayatkan hadis ini pada bab Haditsu Ka’bibni Malik r.hu juz XXXI halaman 419 hadis nomor 15224. Imam Baihaqi, Thabrani dan Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadis serupa dalam kitab-kitabnya.
Pemahaman Hadis
Dzi’bāni jai’āni. Artinya, dua serigala yang lapar.
Anda pernah melihat progam wild life? Dalam acara tersebut bagaimana kita bisa melihat serigala memangsa buruannya, mencekram, menerkam, menggigit, merobek, mengunyahnya dan kemudian menelannya. Saling tarik antara satu serigala dengan serigala lainnya menjadi hal yang biasa. Sebab masing-masing ingin mendapatkan makanan yang paling banyak.
Dalam hadis di atas terdapat penguatan-penguatan di mana kata dzi’bāni jaiāni (dua serigala) yang daya rusaknya disamakan dengan satu orang saja. Ada rasa lapar ditambah sifat buas dan rakus serigala yang disamakan dengan satu orang saja. Ada rasa lapar ditambah dengan sifat buas dan rakus serigala yang disamakan dengan rasa lapar seseorang terhadap harta dan posisi. Ada kata kambing yang dianalogikan sebagai agama yang ada posisi lemah tak berdaya dan kemudian menjadi objek mangsa. Di atas itu semua, daya rusak dua serigala itu masih kalah dahsyat dibandingkan dengan kehausan seseorang terhadap harta dan jabatan.
Hirsil mari. Artinya, ketamakan seseorang.
Jika serigala memburu mangsanya. Kemudian sang buruan itu telah didapatkannya, perutnya merasa kenyang maka cukuplah bagi sang serigala. Berbeda dengan manusia manakala ketamakan dan ambisi yang sangat besar terhadap harta dan kedudukan meskipun ia sudah mendapatkan apa yang diinginkan. Dirinya tidak akan pernah puas. Bahkan akan semakin menjadi-jadi untuk memperoleh harta yang lebih banyak dan juga jabatan yang lebih tinggi. Meskipun dengan berbagai cara yang bertentangan dengan Neraca Syariat.
Dalam hadis di atas betapa sangat detail konotasi Rasulullah saw dari sebuah keserakahan manusia. Sebuah gambaran kerusakan yang divisualisasikan dalam bentuk dua serigala yang lapar yang dilepaskan pada sekawanan domba. Dimana kerusakan yang diakibatkan oleh serigala tersebut masih kalah dahsyat dibandingkan dengan kerakusan manusia.
al-Mal was syaraf. Artinya, harta dan jabatan (kedudukan).
Harta dan jabatan (kedudukan). Keduanya sering disebut-sebut sebagai dua sekawan yang tak terpisahkan. Harta bisa menghantarkan seseorang kepada posisi atau jabatan tertentu. Bahkan hari ini posisi yang seharusnya diisi secara alami oleh orang-orang berkompeten pun bisa dibeli dengan harta. Posisi atau jabatan pun bisa membuat orang mampu mengeruk harta sebanyak-banyaknya. Tanpa ada rasa puas. Tidak ada rasa malu. Apalagi secuil peduli, perhatian dan keberpihakan terhadap masyarakat.
Sebuah konsekuesnsi kerusakan, saat seseorang meraih jabatan dengan menggunakan hartanya. Seperti halnya dalam kaidah jual-beli karena dia telah mengeluarkan sekian banyak rupiahnya, maka ia pun harus mendapatkan lebih banyak saat telah menjabat. Jika orang yang seperti itu diberi gelar khusus maka ada yang lebih dari itu. Yaitu orang yang mendapatkan posisi karena jerih payah orang lain dan tidak ada dari hartanya yang dikeluarkan kemudian daya rusaknya sama dengan mereka yang mengeluarkan hartanya guna merengkuh suatu jabatan. Entah gelar apa yang tepat untuk orang yang seperti ini.
Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan Tirmidzi dijelaskan bahwa rakus harta bisa merusak agama agama karena ada kekuatan yang menggerakkan syahwat yang menjerumuskan kepada bermegah-megahan dalam hal yang mubah. Hingga menjadi kebiasaan dan sangat besar ketergantungannya terhadap harta. Adapun rakus jabatan bisa merusak agama karena orang itu akan masuk ke dalam syirik tersembunyi. Menjadi orang yang suka mencari muka, mempunyai sifat nifak dan akhlak buruk lainnya, maka ini lebih merusak dan lebih merusak. Dan inilah yang membuat rusak negeri ini.
Kalau serigala hanya merusak sekawanan kambing, manusia bisa menghancurkan sistim sebuah negara dan menyebabkan kemiskinan terstruktur. Setelah itu semua, agama pun bisa dirusak oleh kerakusan terhadap harta dan jabatan. Karena bahkan agama pun bisa dimangsanya dengan cara dijual ayatnya, ditunggangi nama besarnya, ditumbalkan, diabaikan. yang penting harta dan jabatan didapatnya.
Maka dia telah berubah menjadi manusia serigala yang sangat rakus dan berbahaya!
Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Menjaga jarak dengan dunia.
2. Tidak ambisius terhadap harta dan kekuasaan.
3. Hidup zuhud sebagaimana diteladankan oleh Nabi saw dan para sahabat r.hum. Ingat! Zuhud bukan berarti antipati terhadap kehidupan dunia.
4. Hati-hatilah terhadap fitnah kekuasaan.
Oase Pencerahan
Harta dan kekuasaan adalah sesuatu yang sangat menggiurkan bagi manusia. Sebab di situlah terdapat kemasyhuran, ketenaran, kehormatan, dan kemapanan sosial ekonomi. Maka relevanlah sabda Nabi saw di atas dimana daya rusak seseorang yang telah dihinggapi rasa keinginan untuk mendapatkan harta dan kekuasaan daya rusaknya lebih dahsyat dari pada kerusakan yang diakibatkan dua ekor serigala yang sangat lapar yang dilepaskan di sekawananan domba. Sebab tidak jaraang ambisi seseorang terhadap harta dan kekuasaan akab menutupi akal sehatnya. Bahkan bisa merudupkan keimanan kepada Allah swt.
Kita bisa tengok di jaman sekarang. Di mana para pengejar jabatan demi memperoleh suatu jabatan ‘rela’ mengerjakan hal-hal yang diharamkan oleh Neraca Syari’at. Seperti, suap, berbuat curang, mendhalami para kompetitornya, berbohong, dan perbuatan-perbuatan yang dilarang lainnya. Ketika ditanya pastilah mereka akan menjawab bahwa hal seperti itu merupakan hal yang diharamkan dan dilarang oleh agama. Lalu mengapa mereka tetap melakukannya? Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah Mahamelihat? Apakah mereka tidak meyakini bahwa kelak mereka akan ditanya oleh Allah swt?
Ya, seperti itulah daya tarik harta dan kekuasaan. Bisa menggiurkan siapapun. Maka tidak ada jalan lain bagi kita untuk terus memohon pertolongan kepada Allah swt agar selalu dipelihara dari fitnah dunia dan kekuasaan.
Pada dasarnya permasalahan bukanlah pada jabatan atau kepemimpinan itu sendiri, akan tetapi pada cara untuk mendapatkannya. Seperti halnya orang yang bercita-cita menikah dengan seorang wanita cantik. Tentunya tidak seorang pun menyalahkan cita-cita orang ini, karena hal itu termasuk perkara yang dibolehkan atau tidak dilarang. Akan tetapi yang tidak diperbolehkan baginya adalah berusaha mencarinya dengan cara-cara yang dilarang atau diharamkan agama maka pernikahan orang itu kelak tidak akan mendapat keberkahan dari Allah swt dan jauh dari bantuan-Nya dalam setiap permasalahan di rumah tangganya. Akan tetapi jika orang itu mendapatkannya dengan cara-cara yang dibenarkan dan dihalalkan agama maka pernikahannya kelak akan diberkahi dan ditolong-Nya.
Semoga kita semua selalu dijaga oleh Allah swt dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Sebab hanya Dia-lah sebaik-baik penjaga. Amiin.
Komunitas Orang Yang Jujur Dan Mati Syahid
عن عيسى بن طلحة، قال: سمعت عمرو بن مرة الجهني، قال: جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقال يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ، وَصَلَيْتُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَأَدَيْتُ الزَّكَاةَ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَقَمْتُهُ، فَمِمَنْ أَنَا؟ قَالَ:
مِنَ الصَّدِيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ
Diriwayatkan dari Isa bin Thalhah r.hu, ia berkata saya mendengar Amru bin Murrah al-Juhany ia berkata bahwa, telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw dan bertanya? “Wahai Rasulullah saw bagaimana menurut pendapat Anda jika saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan Anda adalah utusan-Nya, mendirikan shalat lima waktu, menunaikan zakat, puasa di bulan ramadlan dan shalat tarawih di malamnya, termasuk golongannya siapa aku ini? Rasulullah saw bersabda,
”Termasuk orang-orang yang jujur dan orang yang mati syahid’”
Kedudukan Hadis
Hadis ini terdapat dalam Shahih Ibnu Hibban juz: XIV, halaman: 377, hadis nomor: 3507; Shahih Ibnu Khuzaimah juz: VIII, halaman: 143, hadis nomor: 2024; Sunan Thabrani juz: VIII, halaman: 309, hadis nomor: 2866; al-Baihaqi juz: VIII, halaman: 129, hadis nomor: 3464.
Pemahaman Hadis
Lā ilāha illā-llāh. Artinya, meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah swt.
Jadi percaya dengan Allah disini tidak ”tok-oyo” hanya percaya kepada Allah tapi tidak melakukan perintah-Nya. Yang dimaksud di sini ialah meng-Allah-kan Allah. Menjadikan Allah yang nomor satu serta menjadikan Allah sebagai motivator kecerdasan dan nafas dalam kehidupan.
Tidak ada sandaran dalam hidup ini selain Allah swt. Hanya Dia tempat bergantung dan tempat menyembah dan tempat memohon pertolongan.
Wa annaka rasulullah. Artinya, adalah mengakui tentang kenabian Muhammad bin Abdullah.
Mengakui beliau tidak sebatas percaya, tapi lebih dari itu ialah meneladani akhlak beliau, dan mengejawantahkan teladan-teladan beliau ke dalam kehidupan nyata.
Nah, Pernyataan "Muhammadun-Rasûlullâh" ialah mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan menerima kebanaran yang dibawa oleh beliau saw, itu artinya seorang yang telah mengaku muslim [yang ingin termasuk golongan orang-orang yang jujur dan mati syahid] wajib hukumnya mewujudkan empat sifat Rasul dalam kehidupan sehari-hari. Keempat sifat tersebut ialah “Shiddiq, fathanah, amanah, dan tabligh.”
Siddiq adalah sifat pertama yang harus dimiliki oleh setiap muslimin-mukmin. Siddiq yaitu jujur, yang berarti berbudi benar sesuai dengan waktu dan tempatnya. Orang Inggris menerjemahkan siddiq dengan henest dan righteous. Artinya seseorang yang Siddiq ialah mereka yang bertekat untuk hidup jujur dan benar sesuai dengan waktu dan tempatnya. Orang jawa bilang ”ora ngawur.”
Fathanah adalah cerdas, cermat, dan seksama. Orang yang meneladani Rasul adalah orang yang bertindak cerdas. Apa yang dilakukan tidak menimbulkan kedzhaliman dan penderitaan orang lain, kecuali mereka yang iri dengan perilaku itu. Orang yang fathanah akan malu bertindak yang tidak pantas. Malu bertindak yang tidak sesuai dengan Neraca Syari’at.
Amanah artinya dapat dipercaya. Orang yang amanah adalah orang yang mampu mengemban apa-apa yang dipercayakan kepadanya. Jika harta-benda dititipkan kepada orang yang amanah, maka harta benda itu tidak akan susut atau berkurang.
Tabligh. Orang yang tabligh tidak akan menyembunyikan apa yang bukan haknya, ia senantiasa mengantarkan amanat sampai tujuan.
Inilah makna memahami sahadat Rasul sesuai dengan firman-Nya,
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali-Imrân [3]: 31)
wa shalaitu. Artinya, dan saya shalat.
Shalat disini bukan hanya sekedar shalat, alias sebagai pengugur kwajiban tapi benar-benar shalat yang mampu merubah pelakunya kearah yang lebih baik. Yaitu shalat yang menghantarkan pada akhlakul karimah.
Orang yang shadiqin benar-benar menjadikan shalat sebagai motivator kecerdasan keagamaan. Membumikan shalat dan apa-apa yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan keseharian, yang ditandai dengan terjadianya perubahan perilaku kearah yang lebih baik dan bermanfaat.
Jika seseorang telah mancapai derajat menjadikan syari’at Islam [shalat] sebagai motivator kecerdasan, maka insya Allah hidupnya akan selalu berdzikir kepada Allah swt meskipun dalam keadaan bergerak, berdiri, rukuk, sujud dan duduk dalam satu kesatuan, maka terciptalah ketenangan batin. Yang mana dalam shalat ada ‘washala’ yaitu tindakan untuk menghubungkan, menyatukan diri dengan Tuhan [wusul]. Bila ini tercapai maka lahirlah ‘kasih’. Yang terejawantahkan tercegahnya seseorang yang menegakkan shalat dari perbuatan keji dan munkar.
Nah, tujuan shalat itu untuk mencegah perbuatan dan tindakan keji dan munkar. Bukan untuk mendapatkan surga. Jika orang sudah taat kepada Allah serta tidak berbuat keji dan munkar maka surganya akan datang dengan sendirinya. Seseorang dikatakan terbebas dari perbuatan dan tindakan keji bila ia sudah tidak lagi melakukan perbuatan yang memalukan. Tidak lagi berbuat yang menjijikkan. Ia bebas dari perbuatan dan tindakan munkar bila ia tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum yang berlaku.
Inilah shalat orang shadiqin yaitu shalat yang mengikuti Rasulullah serta didasari dengan rasa cinta kepada Allah swt. Dan menyadari dengan sepenuh hati bahwa diri ini tidak lebih dari seorang hamba-Nya. Inilah makna shalat yang dikehendaki dalam hadis di atas. Shalat yang mempu merubah perilaku.
wa adaitu zakâta. Artinya, menunaikan zakat.
Yang dimaksud disini adalah menunaikan zakat mal bagi yang sudah mampu, karena kalau zakat fitri itu sudah jelas. Dan yang sering terlupakan adalah zakat mal. Zakat mal sebagai tanda syukur [tahu diri] kepada Allah swt.
Zakat mal sebagai pengejawantahan dari hadis nabi saw, “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”
Berdasarkan hadis di atas, seorang muslim-mukmin diajari oleh Rasulullah saw untuk berperilaku derma dan pemurah. Suka berkurban untuk kepentingan masyarakat, dan mau mengulurkan tangannya kepada siapa saja yang memerlukan. Pemikiran yang dibangun Rasulullah saw. Menjadi seorang muslim harus membiasakan diri dengan "tangan di atas". Sebaliknya, harus malu manakala "tangannya di bawah". Giving not Taking. Inilah sebuah kecerdasan bersosial yang hendak dibangun oleh dinul Islam.
Sekarang sudah saatnya seorang muslim memiliki mindSET pemikiran "tangan di atas", dan harus menjadi kebanggaan umat Islam. Apabila "tangan di atas" telah menjadi kebanggaan kaum muslimin. Maka, dalam waktu yang relatif tidak lama lagi. Kaum muslimin mukmin akan mempunyai kemampuan kecerdasan sosial yang rata-rata air. Hal ini menandakan akan lahirnya banyak karya. Yang itu sangat berguna buat umat manusia. Jadi zakat mal sebagai rasa terima kasih kepada Allah dan sebagai tanda cinta bangsa juga sesama kaum muslimin.
wa shumtu. Artinya, puasa.
Puasa yang dimaksud dalam kata di atas bukan sekedar sebagai pengugur kwajiban sebagai seorang muslim. Tapi puasa yang benar-benar memenuhi standar yang telah difirmankan Allah dan diteladankan oleh baginda nabi saw. Jika tidak! Maka tidak ada out put yang signifikansi terhadap nilai-nilai kehidupan.
Padahal aktivitas puasa adalah perbuatan yang menjadikan pelakunya sehat, sejahtera, dan bahagia. Yang titik puncaknya adalah menjadi hamba-Nya yang muttaqin.
Orang yang berpuasa berarti diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah, yakni dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Inilah tujuan agung dari disyari’atkannya puasa. Jadi bukan hanya sekedar melatih untuk meninggalkan makan, dan minum.
Terlebih dari itu kita dilatih untuk bisa mengendalikan nafsu sahwat yang nyata [makan, minum, menggauli istri, dll] dan nafsu sahwat yang samar [keinginan menjadi populer, menghibah, ingin menjadi ini dan itu, dll]. Yang out putnya adalah menjadi insan muttaqin.
wa qumtuhu. Artinya, dan menghidupkan malam ramadlan.
Yang dimaksud menghidupkan malam disini ialah dengan mengisi malam ramadlan dengan banyak berdzikir, membaca al-qur’an dan meminta ampun kepada Allah serta memperbanyak shalat dan membaca al-qur’an.
Tidak seperti kebanyakan orang sekarang. Disiang harinya puasa tapi dimalam harinya dugem. Sehingga ada ungkapan ”siang dipendam malam balas dendam.”
Minas siddiqina was syuhada’. Artinya, dari golongan orang-orang yang jujur dan orang yang mati syahid.
Kata ini menerangkan ciri tentang [komumitas] orang-orang yang jujur dan golongan orang yang mati syahid. Yaitu orang yang berpandu pada syari’ah islam yang murni. Orang yang benar-benar mengamalkan syariat islam. Mengimani keislamannya dan berperilaku dalam kesehariannya dengan cara yang islami.
Taat kepada perintah Allah swt dan mengikuti Rasulullah saw, sebagaimana dalam hadis diterangkan,
Dari sahabat Abu Hurairah r.hu ia berkata, ketika kami sedang bersama Rasulullah saw, tiba-tiba ada orang Arab Badui datang kepada Rasulullah saw dan bertanya, ”Wahai Rasulullah saw ajarilah aku satu amal yang jika saya mengerjakan amal tersebut, amal tersebut bisa menghantarkan aku ke surga” Rasulullah saw bersabda, ”Sembahlah Allah dan jangan sekutukan Dia, peliharalah shalat lima waktu, tunaikan zakat dan berpuasalah dibulan ramadhan”
Orang badui itu berkata ”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya saya tidak akan menambah amal ini.” Kemudian ia pergi. Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang ingin melihat lelaki ahli surga maka lihatlah orang itu.” (Hr. Muslim)
Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Jadiikanlah syari’at islam sebagai motivator kecerdasan.
2. Beramallah dengan amal yang terbaik; shalat ya shalat yang terbaik; puasa ya puasa yang terbaik; dan dalam menjalankan syari’at islam dengan yang terbaik.
3. Jangan hanya sekedar shalat.
4. Jadilah diri anda termasuk orang yang jujur dan mati syahid. Dengan cara melaksanakan Rukun Islam dengan sepenuh hati.
5. Dan yang terpenting adalah miliki mindSET menjadi hamba yang jujur dan termasuk syuhada’.
Oase Pencerahan
Orang islam di negeri ini telah sampai pada sabda nabi saw ”sebagaimana buih yang ada di lautan” sebagai kaum yang mayoritas namun tidak bisa memimpin dalam kancah persaingan dunia. Bagaimana ini bisa terjadi? Karena umat islam belum menjadikan Rukun Islam sebagai motivator kecerdasan dan nafas dalam kehidupan.
Yang terjadi saat ini adalah riak dalam beragama, seolah-olah beragama namun pada kenyataannya hanya bermain-main dalam beragama.
Dalam teori pemberdayaan. Di dunia ini ada tiga pemberdayaan, jika itu dipegang maka hasilnya masyaAllah. Tiga pemberdayaan itu ialah, Laut, Pasar, dan Masjid.
Kalau ketiga-tiganya ini dipegang oleh kaum mayoritas di negeri ini saya sangat yakin umat islam akan ditakuti oleh negara dan umat lain di dunia ini. Namun kenyataan yang terjadi sangat berbeda dan sungguh memprihatinkan.
Laut kita yang kaya, dibiarkan begitu saja. Pasar kita sudah dikuasai oleh orang-orang yahudi dan nasrani, sedangkan orang islamnya sendiri asyik menjadi buruh dikandang sendiri. Dan Masjid kita ”menangis” karena tidak ada jamaahnya. Masjid yang begitu besar dan megah orang yang shalat subuh berjamaah bisa dihitung dengan jari. Bisa dikatakan pilar-pilar masjid lebih banyak dari pada orang yang shalat. Kita harus malu. Dan kita harus bangkit. Kita harus memiliki mindSET ”bahwa kita bisa menggenggam ketiga pemberdayaan tersebut.” insya Allah.
مِنَ الصَّدِيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ
Diriwayatkan dari Isa bin Thalhah r.hu, ia berkata saya mendengar Amru bin Murrah al-Juhany ia berkata bahwa, telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw dan bertanya? “Wahai Rasulullah saw bagaimana menurut pendapat Anda jika saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan Anda adalah utusan-Nya, mendirikan shalat lima waktu, menunaikan zakat, puasa di bulan ramadlan dan shalat tarawih di malamnya, termasuk golongannya siapa aku ini? Rasulullah saw bersabda,
”Termasuk orang-orang yang jujur dan orang yang mati syahid’”
Kedudukan Hadis
Hadis ini terdapat dalam Shahih Ibnu Hibban juz: XIV, halaman: 377, hadis nomor: 3507; Shahih Ibnu Khuzaimah juz: VIII, halaman: 143, hadis nomor: 2024; Sunan Thabrani juz: VIII, halaman: 309, hadis nomor: 2866; al-Baihaqi juz: VIII, halaman: 129, hadis nomor: 3464.
Pemahaman Hadis
Lā ilāha illā-llāh. Artinya, meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah swt.
Jadi percaya dengan Allah disini tidak ”tok-oyo” hanya percaya kepada Allah tapi tidak melakukan perintah-Nya. Yang dimaksud di sini ialah meng-Allah-kan Allah. Menjadikan Allah yang nomor satu serta menjadikan Allah sebagai motivator kecerdasan dan nafas dalam kehidupan.
Tidak ada sandaran dalam hidup ini selain Allah swt. Hanya Dia tempat bergantung dan tempat menyembah dan tempat memohon pertolongan.
Wa annaka rasulullah. Artinya, adalah mengakui tentang kenabian Muhammad bin Abdullah.
Mengakui beliau tidak sebatas percaya, tapi lebih dari itu ialah meneladani akhlak beliau, dan mengejawantahkan teladan-teladan beliau ke dalam kehidupan nyata.
Nah, Pernyataan "Muhammadun-Rasûlullâh" ialah mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan menerima kebanaran yang dibawa oleh beliau saw, itu artinya seorang yang telah mengaku muslim [yang ingin termasuk golongan orang-orang yang jujur dan mati syahid] wajib hukumnya mewujudkan empat sifat Rasul dalam kehidupan sehari-hari. Keempat sifat tersebut ialah “Shiddiq, fathanah, amanah, dan tabligh.”
Siddiq adalah sifat pertama yang harus dimiliki oleh setiap muslimin-mukmin. Siddiq yaitu jujur, yang berarti berbudi benar sesuai dengan waktu dan tempatnya. Orang Inggris menerjemahkan siddiq dengan henest dan righteous. Artinya seseorang yang Siddiq ialah mereka yang bertekat untuk hidup jujur dan benar sesuai dengan waktu dan tempatnya. Orang jawa bilang ”ora ngawur.”
Fathanah adalah cerdas, cermat, dan seksama. Orang yang meneladani Rasul adalah orang yang bertindak cerdas. Apa yang dilakukan tidak menimbulkan kedzhaliman dan penderitaan orang lain, kecuali mereka yang iri dengan perilaku itu. Orang yang fathanah akan malu bertindak yang tidak pantas. Malu bertindak yang tidak sesuai dengan Neraca Syari’at.
Amanah artinya dapat dipercaya. Orang yang amanah adalah orang yang mampu mengemban apa-apa yang dipercayakan kepadanya. Jika harta-benda dititipkan kepada orang yang amanah, maka harta benda itu tidak akan susut atau berkurang.
Tabligh. Orang yang tabligh tidak akan menyembunyikan apa yang bukan haknya, ia senantiasa mengantarkan amanat sampai tujuan.
Inilah makna memahami sahadat Rasul sesuai dengan firman-Nya,
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali-Imrân [3]: 31)
wa shalaitu. Artinya, dan saya shalat.
Shalat disini bukan hanya sekedar shalat, alias sebagai pengugur kwajiban tapi benar-benar shalat yang mampu merubah pelakunya kearah yang lebih baik. Yaitu shalat yang menghantarkan pada akhlakul karimah.
Orang yang shadiqin benar-benar menjadikan shalat sebagai motivator kecerdasan keagamaan. Membumikan shalat dan apa-apa yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan keseharian, yang ditandai dengan terjadianya perubahan perilaku kearah yang lebih baik dan bermanfaat.
Jika seseorang telah mancapai derajat menjadikan syari’at Islam [shalat] sebagai motivator kecerdasan, maka insya Allah hidupnya akan selalu berdzikir kepada Allah swt meskipun dalam keadaan bergerak, berdiri, rukuk, sujud dan duduk dalam satu kesatuan, maka terciptalah ketenangan batin. Yang mana dalam shalat ada ‘washala’ yaitu tindakan untuk menghubungkan, menyatukan diri dengan Tuhan [wusul]. Bila ini tercapai maka lahirlah ‘kasih’. Yang terejawantahkan tercegahnya seseorang yang menegakkan shalat dari perbuatan keji dan munkar.
Nah, tujuan shalat itu untuk mencegah perbuatan dan tindakan keji dan munkar. Bukan untuk mendapatkan surga. Jika orang sudah taat kepada Allah serta tidak berbuat keji dan munkar maka surganya akan datang dengan sendirinya. Seseorang dikatakan terbebas dari perbuatan dan tindakan keji bila ia sudah tidak lagi melakukan perbuatan yang memalukan. Tidak lagi berbuat yang menjijikkan. Ia bebas dari perbuatan dan tindakan munkar bila ia tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum yang berlaku.
Inilah shalat orang shadiqin yaitu shalat yang mengikuti Rasulullah serta didasari dengan rasa cinta kepada Allah swt. Dan menyadari dengan sepenuh hati bahwa diri ini tidak lebih dari seorang hamba-Nya. Inilah makna shalat yang dikehendaki dalam hadis di atas. Shalat yang mempu merubah perilaku.
wa adaitu zakâta. Artinya, menunaikan zakat.
Yang dimaksud disini adalah menunaikan zakat mal bagi yang sudah mampu, karena kalau zakat fitri itu sudah jelas. Dan yang sering terlupakan adalah zakat mal. Zakat mal sebagai tanda syukur [tahu diri] kepada Allah swt.
Zakat mal sebagai pengejawantahan dari hadis nabi saw, “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”
Berdasarkan hadis di atas, seorang muslim-mukmin diajari oleh Rasulullah saw untuk berperilaku derma dan pemurah. Suka berkurban untuk kepentingan masyarakat, dan mau mengulurkan tangannya kepada siapa saja yang memerlukan. Pemikiran yang dibangun Rasulullah saw. Menjadi seorang muslim harus membiasakan diri dengan "tangan di atas". Sebaliknya, harus malu manakala "tangannya di bawah". Giving not Taking. Inilah sebuah kecerdasan bersosial yang hendak dibangun oleh dinul Islam.
Sekarang sudah saatnya seorang muslim memiliki mindSET pemikiran "tangan di atas", dan harus menjadi kebanggaan umat Islam. Apabila "tangan di atas" telah menjadi kebanggaan kaum muslimin. Maka, dalam waktu yang relatif tidak lama lagi. Kaum muslimin mukmin akan mempunyai kemampuan kecerdasan sosial yang rata-rata air. Hal ini menandakan akan lahirnya banyak karya. Yang itu sangat berguna buat umat manusia. Jadi zakat mal sebagai rasa terima kasih kepada Allah dan sebagai tanda cinta bangsa juga sesama kaum muslimin.
wa shumtu. Artinya, puasa.
Puasa yang dimaksud dalam kata di atas bukan sekedar sebagai pengugur kwajiban sebagai seorang muslim. Tapi puasa yang benar-benar memenuhi standar yang telah difirmankan Allah dan diteladankan oleh baginda nabi saw. Jika tidak! Maka tidak ada out put yang signifikansi terhadap nilai-nilai kehidupan.
Padahal aktivitas puasa adalah perbuatan yang menjadikan pelakunya sehat, sejahtera, dan bahagia. Yang titik puncaknya adalah menjadi hamba-Nya yang muttaqin.
Orang yang berpuasa berarti diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah, yakni dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Inilah tujuan agung dari disyari’atkannya puasa. Jadi bukan hanya sekedar melatih untuk meninggalkan makan, dan minum.
Terlebih dari itu kita dilatih untuk bisa mengendalikan nafsu sahwat yang nyata [makan, minum, menggauli istri, dll] dan nafsu sahwat yang samar [keinginan menjadi populer, menghibah, ingin menjadi ini dan itu, dll]. Yang out putnya adalah menjadi insan muttaqin.
wa qumtuhu. Artinya, dan menghidupkan malam ramadlan.
Yang dimaksud menghidupkan malam disini ialah dengan mengisi malam ramadlan dengan banyak berdzikir, membaca al-qur’an dan meminta ampun kepada Allah serta memperbanyak shalat dan membaca al-qur’an.
Tidak seperti kebanyakan orang sekarang. Disiang harinya puasa tapi dimalam harinya dugem. Sehingga ada ungkapan ”siang dipendam malam balas dendam.”
Minas siddiqina was syuhada’. Artinya, dari golongan orang-orang yang jujur dan orang yang mati syahid.
Kata ini menerangkan ciri tentang [komumitas] orang-orang yang jujur dan golongan orang yang mati syahid. Yaitu orang yang berpandu pada syari’ah islam yang murni. Orang yang benar-benar mengamalkan syariat islam. Mengimani keislamannya dan berperilaku dalam kesehariannya dengan cara yang islami.
Taat kepada perintah Allah swt dan mengikuti Rasulullah saw, sebagaimana dalam hadis diterangkan,
Dari sahabat Abu Hurairah r.hu ia berkata, ketika kami sedang bersama Rasulullah saw, tiba-tiba ada orang Arab Badui datang kepada Rasulullah saw dan bertanya, ”Wahai Rasulullah saw ajarilah aku satu amal yang jika saya mengerjakan amal tersebut, amal tersebut bisa menghantarkan aku ke surga” Rasulullah saw bersabda, ”Sembahlah Allah dan jangan sekutukan Dia, peliharalah shalat lima waktu, tunaikan zakat dan berpuasalah dibulan ramadhan”
Orang badui itu berkata ”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya saya tidak akan menambah amal ini.” Kemudian ia pergi. Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang ingin melihat lelaki ahli surga maka lihatlah orang itu.” (Hr. Muslim)
Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Jadiikanlah syari’at islam sebagai motivator kecerdasan.
2. Beramallah dengan amal yang terbaik; shalat ya shalat yang terbaik; puasa ya puasa yang terbaik; dan dalam menjalankan syari’at islam dengan yang terbaik.
3. Jangan hanya sekedar shalat.
4. Jadilah diri anda termasuk orang yang jujur dan mati syahid. Dengan cara melaksanakan Rukun Islam dengan sepenuh hati.
5. Dan yang terpenting adalah miliki mindSET menjadi hamba yang jujur dan termasuk syuhada’.
Oase Pencerahan
Orang islam di negeri ini telah sampai pada sabda nabi saw ”sebagaimana buih yang ada di lautan” sebagai kaum yang mayoritas namun tidak bisa memimpin dalam kancah persaingan dunia. Bagaimana ini bisa terjadi? Karena umat islam belum menjadikan Rukun Islam sebagai motivator kecerdasan dan nafas dalam kehidupan.
Yang terjadi saat ini adalah riak dalam beragama, seolah-olah beragama namun pada kenyataannya hanya bermain-main dalam beragama.
Dalam teori pemberdayaan. Di dunia ini ada tiga pemberdayaan, jika itu dipegang maka hasilnya masyaAllah. Tiga pemberdayaan itu ialah, Laut, Pasar, dan Masjid.
Kalau ketiga-tiganya ini dipegang oleh kaum mayoritas di negeri ini saya sangat yakin umat islam akan ditakuti oleh negara dan umat lain di dunia ini. Namun kenyataan yang terjadi sangat berbeda dan sungguh memprihatinkan.
Laut kita yang kaya, dibiarkan begitu saja. Pasar kita sudah dikuasai oleh orang-orang yahudi dan nasrani, sedangkan orang islamnya sendiri asyik menjadi buruh dikandang sendiri. Dan Masjid kita ”menangis” karena tidak ada jamaahnya. Masjid yang begitu besar dan megah orang yang shalat subuh berjamaah bisa dihitung dengan jari. Bisa dikatakan pilar-pilar masjid lebih banyak dari pada orang yang shalat. Kita harus malu. Dan kita harus bangkit. Kita harus memiliki mindSET ”bahwa kita bisa menggenggam ketiga pemberdayaan tersebut.” insya Allah.
Kedhaliman Adalah Kegelapan
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ الْمَاجِشُونُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari sahabat Abdullah Ibnu Umar r.huma, dari Rasulullah saw bersabda,
”Kedhaliman adalah kegelapan (yang berlipat) pada Hari Kiamat .”
Kedudukan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukahri dalam Shahihnya pada bab adh-Dhulmu Dhulumatun Yaumal Qiyamah juz VIII halaman 318 hadis nomor 2267. Imam Msulim meriwayatkan hadis ini pada bab Tahrimud Dhulmi juz 12 halaman 456 hadis nomor 4675. Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad juga meriwayatkan hadis ini dalam Sunan dan Musnadnya.
Pemahaman Hadis
adh-Dhulmu. Artinya, kedzaliman.
Kata adh-Dhulmu berasal dari kata dhalama, yadhlimu yang berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dalam hal ini kata ini sepadan dengan kata al-Jawr. Demikan pula definisi yang dinukil oleh Syaikh Ibnu Rajab dari kebanyakan para ulama dalam hal ini adalah lawan dari kata al-Adl (keadilan).
Dalam hadis di atas, jelas betapa kedhaliman akan menyebabkan kegelapan pada Hari Kiamat. Oleh sebab itu Rasulullah saw mewanti-wanti umatnya dalam hadis yang serupa akan tetapi di situ ditekankan supaya berhati-hati atas perbuatan dhalim sebagaimana sabda beliau saw,
”Berhati-hatilah terhadap kedhaliman sebab kedhaliman adalah kegelapan pada Hari Kiamat. Dan jauhilah kekikiran (bakhil) karena kekikiran itu telah mencelakakan umat sebelum kamu.(Hr.Muslim)
Menengok hadis ini jelas bahwa dinul Islam menghararamkan segala bentuk kedhaliman. Dan tidak ada kedhaliman yang lebih besar dari pada syirik kepada Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,
”Sesungguhnya syirik merupakan kedhaliman yang besar.”(Qs.Lukman [31]: 13)
”Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kedhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan petunjuk.”(Qs.al-An’am [6]:82)
Syaikh Ibnu Rajab mengklasifikasikan bentuk kedhaliman menjadi dua macam: pertama, kedhaliman terhadap diri sendiri. Bentuk yang paling berbahaya dari jenis ini adalah syirik kepada Allah swt Jenis berikutnya adalah perbuatan-perbuatan maksiat dengan berbagai macamnya; besar maupun kecil. Kedua, kezhaliman yang dilakukan oleh seorang hamba terhadap orang lain, baik terkait dengan jiwa, harta atau kehormatan. Rasulullah saw bersabda ketika berkhutbah pada haji wada’,
”Sesungguhnya darah harta dan kehormatan kalian diharamkan atas kalian sebagaimana keharaman hari kalian ini, di bulan haram kalian ini dan di negeri (tanah) haram kalian ini.”
”Barangsiapa yang pernah terdhalimi oleh saudaranya, maka hendaklah memintakan penghalalan (ma’af) atasnya sebelum kebaikan-kebaikannya (kelak) akan diambil (dikurangi); Bila dia tidak memiliki kebaikan, maka kejelekan-kejelekan saudaranya tersebut akan diambil lantas dilimpahkan (diberikan) kepadanya.”(Hr.Bukhari)
Dhulumātun yaumul qiyāmah. Artinya, kegelapan pada Hari Kiamat.
Prahara yang terjadi pada Hari Kiamat sangatlah dahsyat. Saat itu tidak ada satu manusia pun yang memikirkan orang lain. Sebab manusia pada saat itu dibuat sibuk oleh dirinya sendiri. Apalagi bagi mereka yang sering berbuat dhalim ketika hidup di dunia. Maka kesengsaraan akan menimpanya. Tentang keadaan orang yang gemar berbuat dhalim lihatlah penuturan dari sahabat Abu Umamah r.hu, ”Pada hari kiamat, seorang dhalim didatangkan, hingga ketika berada di atas jembatan neraka Jahanam, ia ditemui seorang yang pernah ia aniaya. Orang-orang yang teraniaya terus-menerus menuntut orang-orang dhalim hingga tidak ada lagi kebaikan di tangan orang-orang dhalim itu. Jika orang-orang yang teraniaya tidak menemukan kebaikan lagi di tangan orang – orang dhalim mereka memikulkan kejelekan-kejelekan mereka ke pundak orang – orang dhalim menurut kadar penganiayaannya hingga mereka dilemparkan ke dasar neraka.”
Juga firman Allah swt di dalam surat al-Anfal,
”Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dhalim saja di antara kamu dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”(Qs.al-Anfal [8]:25)
Ayat ini berisi peringatan untuk berhati-hati (hadzr) akan adzab yang tidak hanya akan menimpa yang berbuat kedhaliman saja, tetapi adzab Allah akan menimpa secara umum baik yang berbuat kedhaliman maupun yang tidak. Karena itu secara syar’i, wajib hukumnya bagi orang yang melihat kedhaliman kemungkaran dan mempunyai kesanggupan untuk mehilangkan kemungkaran tersebut.
Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Jauhilah perbuatan dhalim.
2. Pegang dengan baik dan benar Neraca Syariat.
3. Mintalah selalu pertolongan kepada Allah swt agar dijauhkah dari perbuatan dhalim.
Oase Pencerahan
Banyak di antara umat manusia yang tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan suatu perbuatan yang menyakiti orang lain lantas membiarkan hal itu berlalu begitu saja tanpa meminta maaf kepada orang tersebut atas perbuatan yang kita lakukan. Sebabnya banyak, di antaranya karena ego yang terlalu tinggi, menyepelekan, dan kurang memahami ajaran agama secara baik dan benar. Padahal perbuatan yang demikian sangat berbahaya dan akan dipertanggung-jawabkan di Hari Akhir kelak. Setiap penyimpangan pasti akan mendatangkan bahaya.
Kemusyrikan akan menghilangkan harkat derajat manusia di muka bumi. Sebab orang yang musyrik telah menjatuhkan martabatnya sebagai manusia yang telah Allah muliakan. Bayangkan orang yang memuja dan mensakralkan benda mati, binatang, atau makhluk Allah lainnya. Mereka menganggapnya bahwa makhluk tersebut mempunyai kekuatan di luar kekuatan dirinya. Bahkan bisa mendatangkan sesuatu yang padahal hanya Allah yang bisa melakukannya. Pada saat orang-orang berebut air kotor bekas cucian benda-benda “keramat” yang penuh karat dan debu itu, seraya mereka mengusapkannya ke sekujur tubuh bahkan meminumnya, di manakah mereka meletakkan harga diri mereka sebagai manusia? Kemaksiatan juga mendatangkan malapetaka, bukan saja kelak di akhirat tapi semenjak di dunia. Imam Ibnul-Qayyim –semoga Allah merahmatinya- mengatakan, “Di antara yang perlu diketahui adalah bahwa dosa dan kemaksiatan itu membahayakan. Dan tidak diragukan lagi bahayanya terhadap hati bagaikan bahaya racun terhadap tubuh.” Itu hanyalah satu aspek, yakni aspek hati secara personal. Terhadap kehidupan pun, kemaksiatan punya bahaya yang besar. Di antaranya adalah munculnya bencana dan malapetaka. Rasulullah saw Bersabda,
“Jika kemaksiatan merajalela di tengah umatku, Allah pasti menimpakan secara merata adzab dari sisi-Nya.” Aku (Ummu Salamah) bertanya, “Tidak adakah di tengah mereka saat itu orang-orang saleh?” Rasulullah saw menjawab, “Ada.” Aku bertanya, “Lalu apa yang dilakukan terhadap mereka yang saleh itu?” Rasulullah saw menjawab, “Akan menimpa mereka apa yang menimpa orang-orang pada umumnya, kemudian mereka mendapatkan ampunan dan keridlaan.”(Hr.Ahmad).
Itu di dunia. Di akhirat urusannya lebih dahsyat lagi. Demikian pula dengan kedhaliman yang dilakukan terhadap sesama manusia. Kehidupan ini tidak akan ada keadilan dan kesejahteraan manakala kedhaliman merajalela dan menggurita. Negeri yang subur hanya akan memakmurkan segelintir orang yang kebetulan punya akses kepada sumber daya alam gara-gara mendapatkan kekuasaan. Namun, kalau pun pelaku kedhaliman itu “selamat” di dunia karena tidak tersentuh hukum, ketahuilah bahwa di akhirat dia tidak akan selamat dari perhitungan dan adzab Allah swt.
Rasulullah saw. menjelaskan tentang orang yang muflis (pailit). Muflis bukanlah orang yang tidak punya uang atau kehilangan harta. Melainkan orang yang sewaktu di dunia melaksanakan ibadah ritual semacam shalat, shaum, dan sebagainya. Namun di samping itu, dia melakukan kedhaliman kepada orang lain dalam bentuk memukul atau melukai, memfitnah (merusak kehormatan), merampas hak milik tanpa alasan yang dibenarkan. Maka pada hari akhirat kelak semua orang yang menjadi korban kedhalimannya akan menuntut di hadapan Allah swt. Sampai manakala pahala orang itu sudah habis untuk membayar kedhalimannya, sementara para korban yang menuntut masih banyak, Allah melimpahkan dosa-dosa si korban kepada pelaku kedhaliman itu.
الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari sahabat Abdullah Ibnu Umar r.huma, dari Rasulullah saw bersabda,
”Kedhaliman adalah kegelapan (yang berlipat) pada Hari Kiamat .”
Kedudukan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukahri dalam Shahihnya pada bab adh-Dhulmu Dhulumatun Yaumal Qiyamah juz VIII halaman 318 hadis nomor 2267. Imam Msulim meriwayatkan hadis ini pada bab Tahrimud Dhulmi juz 12 halaman 456 hadis nomor 4675. Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad juga meriwayatkan hadis ini dalam Sunan dan Musnadnya.
Pemahaman Hadis
adh-Dhulmu. Artinya, kedzaliman.
Kata adh-Dhulmu berasal dari kata dhalama, yadhlimu yang berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dalam hal ini kata ini sepadan dengan kata al-Jawr. Demikan pula definisi yang dinukil oleh Syaikh Ibnu Rajab dari kebanyakan para ulama dalam hal ini adalah lawan dari kata al-Adl (keadilan).
Dalam hadis di atas, jelas betapa kedhaliman akan menyebabkan kegelapan pada Hari Kiamat. Oleh sebab itu Rasulullah saw mewanti-wanti umatnya dalam hadis yang serupa akan tetapi di situ ditekankan supaya berhati-hati atas perbuatan dhalim sebagaimana sabda beliau saw,
”Berhati-hatilah terhadap kedhaliman sebab kedhaliman adalah kegelapan pada Hari Kiamat. Dan jauhilah kekikiran (bakhil) karena kekikiran itu telah mencelakakan umat sebelum kamu.(Hr.Muslim)
Menengok hadis ini jelas bahwa dinul Islam menghararamkan segala bentuk kedhaliman. Dan tidak ada kedhaliman yang lebih besar dari pada syirik kepada Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,
”Sesungguhnya syirik merupakan kedhaliman yang besar.”(Qs.Lukman [31]: 13)
”Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kedhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan petunjuk.”(Qs.al-An’am [6]:82)
Syaikh Ibnu Rajab mengklasifikasikan bentuk kedhaliman menjadi dua macam: pertama, kedhaliman terhadap diri sendiri. Bentuk yang paling berbahaya dari jenis ini adalah syirik kepada Allah swt Jenis berikutnya adalah perbuatan-perbuatan maksiat dengan berbagai macamnya; besar maupun kecil. Kedua, kezhaliman yang dilakukan oleh seorang hamba terhadap orang lain, baik terkait dengan jiwa, harta atau kehormatan. Rasulullah saw bersabda ketika berkhutbah pada haji wada’,
”Sesungguhnya darah harta dan kehormatan kalian diharamkan atas kalian sebagaimana keharaman hari kalian ini, di bulan haram kalian ini dan di negeri (tanah) haram kalian ini.”
”Barangsiapa yang pernah terdhalimi oleh saudaranya, maka hendaklah memintakan penghalalan (ma’af) atasnya sebelum kebaikan-kebaikannya (kelak) akan diambil (dikurangi); Bila dia tidak memiliki kebaikan, maka kejelekan-kejelekan saudaranya tersebut akan diambil lantas dilimpahkan (diberikan) kepadanya.”(Hr.Bukhari)
Dhulumātun yaumul qiyāmah. Artinya, kegelapan pada Hari Kiamat.
Prahara yang terjadi pada Hari Kiamat sangatlah dahsyat. Saat itu tidak ada satu manusia pun yang memikirkan orang lain. Sebab manusia pada saat itu dibuat sibuk oleh dirinya sendiri. Apalagi bagi mereka yang sering berbuat dhalim ketika hidup di dunia. Maka kesengsaraan akan menimpanya. Tentang keadaan orang yang gemar berbuat dhalim lihatlah penuturan dari sahabat Abu Umamah r.hu, ”Pada hari kiamat, seorang dhalim didatangkan, hingga ketika berada di atas jembatan neraka Jahanam, ia ditemui seorang yang pernah ia aniaya. Orang-orang yang teraniaya terus-menerus menuntut orang-orang dhalim hingga tidak ada lagi kebaikan di tangan orang-orang dhalim itu. Jika orang-orang yang teraniaya tidak menemukan kebaikan lagi di tangan orang – orang dhalim mereka memikulkan kejelekan-kejelekan mereka ke pundak orang – orang dhalim menurut kadar penganiayaannya hingga mereka dilemparkan ke dasar neraka.”
Juga firman Allah swt di dalam surat al-Anfal,
”Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dhalim saja di antara kamu dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”(Qs.al-Anfal [8]:25)
Ayat ini berisi peringatan untuk berhati-hati (hadzr) akan adzab yang tidak hanya akan menimpa yang berbuat kedhaliman saja, tetapi adzab Allah akan menimpa secara umum baik yang berbuat kedhaliman maupun yang tidak. Karena itu secara syar’i, wajib hukumnya bagi orang yang melihat kedhaliman kemungkaran dan mempunyai kesanggupan untuk mehilangkan kemungkaran tersebut.
Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Jauhilah perbuatan dhalim.
2. Pegang dengan baik dan benar Neraca Syariat.
3. Mintalah selalu pertolongan kepada Allah swt agar dijauhkah dari perbuatan dhalim.
Oase Pencerahan
Banyak di antara umat manusia yang tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan suatu perbuatan yang menyakiti orang lain lantas membiarkan hal itu berlalu begitu saja tanpa meminta maaf kepada orang tersebut atas perbuatan yang kita lakukan. Sebabnya banyak, di antaranya karena ego yang terlalu tinggi, menyepelekan, dan kurang memahami ajaran agama secara baik dan benar. Padahal perbuatan yang demikian sangat berbahaya dan akan dipertanggung-jawabkan di Hari Akhir kelak. Setiap penyimpangan pasti akan mendatangkan bahaya.
Kemusyrikan akan menghilangkan harkat derajat manusia di muka bumi. Sebab orang yang musyrik telah menjatuhkan martabatnya sebagai manusia yang telah Allah muliakan. Bayangkan orang yang memuja dan mensakralkan benda mati, binatang, atau makhluk Allah lainnya. Mereka menganggapnya bahwa makhluk tersebut mempunyai kekuatan di luar kekuatan dirinya. Bahkan bisa mendatangkan sesuatu yang padahal hanya Allah yang bisa melakukannya. Pada saat orang-orang berebut air kotor bekas cucian benda-benda “keramat” yang penuh karat dan debu itu, seraya mereka mengusapkannya ke sekujur tubuh bahkan meminumnya, di manakah mereka meletakkan harga diri mereka sebagai manusia? Kemaksiatan juga mendatangkan malapetaka, bukan saja kelak di akhirat tapi semenjak di dunia. Imam Ibnul-Qayyim –semoga Allah merahmatinya- mengatakan, “Di antara yang perlu diketahui adalah bahwa dosa dan kemaksiatan itu membahayakan. Dan tidak diragukan lagi bahayanya terhadap hati bagaikan bahaya racun terhadap tubuh.” Itu hanyalah satu aspek, yakni aspek hati secara personal. Terhadap kehidupan pun, kemaksiatan punya bahaya yang besar. Di antaranya adalah munculnya bencana dan malapetaka. Rasulullah saw Bersabda,
“Jika kemaksiatan merajalela di tengah umatku, Allah pasti menimpakan secara merata adzab dari sisi-Nya.” Aku (Ummu Salamah) bertanya, “Tidak adakah di tengah mereka saat itu orang-orang saleh?” Rasulullah saw menjawab, “Ada.” Aku bertanya, “Lalu apa yang dilakukan terhadap mereka yang saleh itu?” Rasulullah saw menjawab, “Akan menimpa mereka apa yang menimpa orang-orang pada umumnya, kemudian mereka mendapatkan ampunan dan keridlaan.”(Hr.Ahmad).
Itu di dunia. Di akhirat urusannya lebih dahsyat lagi. Demikian pula dengan kedhaliman yang dilakukan terhadap sesama manusia. Kehidupan ini tidak akan ada keadilan dan kesejahteraan manakala kedhaliman merajalela dan menggurita. Negeri yang subur hanya akan memakmurkan segelintir orang yang kebetulan punya akses kepada sumber daya alam gara-gara mendapatkan kekuasaan. Namun, kalau pun pelaku kedhaliman itu “selamat” di dunia karena tidak tersentuh hukum, ketahuilah bahwa di akhirat dia tidak akan selamat dari perhitungan dan adzab Allah swt.
Rasulullah saw. menjelaskan tentang orang yang muflis (pailit). Muflis bukanlah orang yang tidak punya uang atau kehilangan harta. Melainkan orang yang sewaktu di dunia melaksanakan ibadah ritual semacam shalat, shaum, dan sebagainya. Namun di samping itu, dia melakukan kedhaliman kepada orang lain dalam bentuk memukul atau melukai, memfitnah (merusak kehormatan), merampas hak milik tanpa alasan yang dibenarkan. Maka pada hari akhirat kelak semua orang yang menjadi korban kedhalimannya akan menuntut di hadapan Allah swt. Sampai manakala pahala orang itu sudah habis untuk membayar kedhalimannya, sementara para korban yang menuntut masih banyak, Allah melimpahkan dosa-dosa si korban kepada pelaku kedhaliman itu.
Kecerdasan Mimpi
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خَبَّابٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
﴿إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يُحِبُّهَا فَإِنَّهَا مِنَ اللَّهِ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَلَيْهَا وَلْيُحَدِّثْ بِهَا وَإِذَا رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَكْرَهُ فَإِنَّمَا هِيَ مِنَ الشَّيْطَانِ فَلْيَسْتَعِذْ مِنْ شَرِّهَا وَلَا يَذْكُرْهَا لِأَحَدٍ فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ﴾
Dari sahabat Abdillah bin Khubbab dari Abi Sa’id al-Khudri, bahwasannya ia mendengar Rasulullah saw bersabda,
"Apabila salah seorang di antara kalian bermimpi yang disukai, sesungguhnya mimpi itu datangnya dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah dan menceritakannya kepada orang lain. Apabila bermimpi yang tidak disukai, hal itu datangnya dari setan, maka hendaklah meminta perlindungan Allah, dan jangan sekali-kali menceritakannya kepada orang lain, niscaya mimpi itu tidak akan membahayakannya.”
Kedudukan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya, pada bab Idza Raa Ma Yakrahu Fala Yukhbir Biha Juz XXI halaman 430 hadis nomor 6523. Imam Tirmidzi dalam sunannya pada bab Ma Yaqulu Idza Raa Ru’ya Yakrahuha Juz XI halaman 351 hadis nomor 3375. Imam Ahmad juga meriwayatkan hadis ini dalam Musnadnya pada bab Musnad Abi Sa’id al-Khudri r.hu, Juz XXII halaman 177 hadis nomor 10632.
Pemahaman Hadis
Raā. Artinya, bermimpi.
Mimpi adalah gambaran-gambaran yang dialami seseorang di saat dia tertidur. Mimpi bersifat irasional karena di luar kendali kesadaran kita. Beda dengan meraga sukma di mana kesadaran masih mengontrol perjalanan sukma keluar dari tubuh dan berkelana sesuai dengan yang dikehendaki, di dalam mimpi kita tidak mengontrol gerakan mental apapun. Jadi kita hanya menerima dengan pasif apa yang nanti kita alami saat tidur.
Mimpi dikirim kepada kita dari alam gaib. Mimpi adalah suara-suara dari alam bawah sadar kita. Kadang ia memberikan petunjuk atau peringatan yang perlu ditafsirkan/ditakwilkan secara benar, namun kadang mimpi hanya gangguan batin dan jiwa yang harus dilepaskan dalam mekanisme hidup agar tetap normal dan tenang. Mimpi juga merupakan kenangan indah atau sedih yang sudah lama terpendam.
Karena dikirim dari alam ghaib masalahnya sekarang adalah dari siapa mimpi itu dikirim? Langsung dari Allah atau dari syetan. Nah dalam hadis ini Rasulullah saw memberikan ciri-ciri mimpi yang berasal dari Allah atau dari syetan.
Yuhibbuhā. Artinya, mimpi yang disukai (baik).
Inilah mimpi yang berasal dari Allah. Yaitu apabila seseorang melihat dalam mimpinya sesuatu yang ia sukai Rasulullah saw memberikan pembelajaran bagi kita semua yakni ketika bermimpi di mana mimpi itu kita sukai. Supaya mengikutinya dengan memuji kepada Allah swt. Dan menceritakannya. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw dalam hadis lain,
”Mimpi yang bagus berasal dari Allah swt, jika di antara kalian bermimpi sesuatu yang bagus (disukai), jangan sekali-kali menceritakan kepada yang lain, kecuali pada orang yang engkau sukai (dipercaya). Jika di antara kalian bermimpi sesuatu yang tidak engkau sukai, maka mohonlah pertolongan Allah dari kejelekan mimpi itu, dan juga dari kejelekan syetan, dan meludahlah tiga kali (ke kiri), selanjutnya tidak diceritakan kepada siapapun perihal mimpi itu. Niscaya mimpi itu tidak akan berpenggaruh.” (Hr.Bukhari)
Yakrahu. Artinya, mimpi yang tidak disukai (buruk).
Yaitu apabila seseorang melihat dalam mimpinya sesuatu yang ia benci. Mimpi ini datangnya dari syaithan yakni dengan menampakkan hal-hal yang jelek, yang dengannya seseorang manusia dapat terkejut, sedih dam bisa jadi hingga membuatnya sakit, karena syaithan adalah musuh manusia, mereka menyukai apa yang dibenci oleh manusia.Sebaliknya jika kita bermimpi. Allah swt berifirman, (QS.Mujadilah 10).
Untuk itu apabila Anda mengalami mimpi buruk hendaknya segera meminta perlindungan kepada Allah swt. Dari kejahatan-kejahatan syetan dan keburukan-keburukan yang Anda lihat dalam mimpi. Dan jangan sampai mimpi buruk yang Anda alami itu diceritakan kepada orang lain. Sebab hal itu tidak akan membahayakan Anda. Sebagaimana telah disampaikan oleh Nabi saw dalam hadis di atas.
Namun disayangkan yang terjadi sekarang, sebagian orang apabila dia melihat hal-hal yang buruk dalam mimpinya justru berusaha untuk mencari tahu ta’wil dari mimpi tersebut baik dengan mencarinya di dalam buku-buku atau dengan menanyakan langsung kepada orang lain tanpa menyadari bahwa dengan mengungkapkan mimpi buruknya kepada orang lain bisa jadi hal tersebut bisa menjadi suatu kenyataan, jika Allah menghendaki.
Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Berwudhulah sebelum tidur.
2. Gunakan waktu sebelum tidur untuk membaca kalimat-kalimat thayyibah, semisal tilawah qur’an dll.
3. Membaca doa sebelum tidur sebgaimana telah diajarkan Rasulullah saw.
4. Tidurlah dengan posisi sebagaimana telah diteladankan Nabi saw.
5. Jika teranugerahi sebuah mimpi baik itu berupa mimpi yang baik atau yang buruk lakukanlah perintah Nabi saw seperti dalam hadis di atas.
Oase Pencerahan
Mimpi adalah anugerah dari Allah swt. Dalam sejarah risalah kenabian, mimpi adalah pesan-pesan Ilahi yang ditujukan untuk merubah peradaban. Pesan ini dikirim kepada pribadi yang siap untuk menerima pesan itu dan menafsirkan pesan itu secara benar. Pribadi para nabi sepanjang masa, kita tahu, adalah pribadi-pribadi yang siap untuk berjuang membela keyakinan dengan teguh dan gigih. Kalau dia sudah percaya bahwa pesan itu langsung dari Ilahi, maka dia tidak ragu-ragu untuk melangkah.
Mimpi Nabi Ibrahim as tentang perintah untuk mengorbankan anaknya, kepatuhannya kepada kehendak Allah swt dan kemauannya untuk menyerah kepada keimanan mutlak pada Sang Pencipta menjadikannya sebagai muslim sejati pertama dan juga bapak para nabi. Tafsiran yang benar tentang mimpi raja Mesir oleh Nabi Yusuf as menyelamatkan bangsa Mesir dan Bani Israil dari kelaparan dan kematian. Mimpi Nabi Muhammad saw menandai diawalinya penurunan wahyu al-qur’an. Pengetahuan dan pemahaman tentang mimpi memang merupakan kebutuhan setiap orang yang berkeinginan untuk mendapatkan petunjuk langsung dari-Nya. Fakta ini telah lama diketahui oleh para nabi dan para wali dan juga orang-orang waskita sepanjang masa. Namun demikian, tidak semua mimpi bisa ditafsirkan secara gampang.
Pesan-pesan melalui Mimpi tidak jarang justru kita temukan sumbernya adalah setan sehingga menyesatkan. Bisa jadi juga mimpi merupakan ‘bunga tidur’ karena bersumber dari masalah-masalah fisik dan psikologis emosional. Oleh karena itu dibutuhkan satu kunci yang benar agar kotak pandora misteri mimpi bisa dibuka dan dibaca secara benar.
Yang jelas mana kita telaah lebih jauh tentang hakekat mimpi. Maka jelas semua berasal dari Allah. Sebab bukankah Iblis itu sesungguhnya juga ciptaan-Nya? Tidak hanya kebaikan, bukankah keburukan dan kejahatan itu juga sumbernya dari-Nya? Bukankah surga dan neraka itu juga ciptaan-Nya?
Maka mimpi buruk yang kita alami. Jika kita sikapi secara positif sebenarnya merupakan teguran dari Allah swt kepada kita. Karena kita semakin jauh dengan Allah. Maka Allah pun membeiarkan setan menggaggu kita. sebab sangat mustahil bila seorang hamba itu dekat dengan Rabb-Nya setan dapat mengganggunya.
Mimpi buruk tersebut merupakan permainan setan terhadap manusia agar manusia merasa sedih dan berprasangka buruk kepada Allah swt. Barangsiapa melihat mimpi yang tidak ia sukai maka hendaklah ia melaksanakan apa yang tercantum dalam sunnah untuk mengusir was-was dan menolak tipu daya syaitan. Yaitu: a) Melaksanakan shalat. b) Memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan mimpi dan kejahatan syaitan. c) Meludah ke sebelah kiri sebanyak tiga kali. d). Merubah posisi tidur dari posisi semula. e) Jangan ia ceritakan mimpi buruk tersebut kepada siapa pun.
Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah berkata dalam kitabnya Zaadul Maa'ad (II/457), "Perintahkan agar ia melaksanakan lima hal: 1) Meludah ke sebelah kiri. 2) Memohon perlindungan kepada Alloh dari gangguan syaitan. 3) Jangan ia ceritkan kepada siapapun. 4). Merubah posisi tidurnya. 5). Bangkit berdiri melaknsakan shalat. Barangsiapa melakukan lima hal itu maka mimpi buruk itu tidak akan memudharatkannya sedikitpun, bahkan dapat menolak kejelekan mimpi tersebut.
﴿إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يُحِبُّهَا فَإِنَّهَا مِنَ اللَّهِ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَلَيْهَا وَلْيُحَدِّثْ بِهَا وَإِذَا رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَكْرَهُ فَإِنَّمَا هِيَ مِنَ الشَّيْطَانِ فَلْيَسْتَعِذْ مِنْ شَرِّهَا وَلَا يَذْكُرْهَا لِأَحَدٍ فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ﴾
Dari sahabat Abdillah bin Khubbab dari Abi Sa’id al-Khudri, bahwasannya ia mendengar Rasulullah saw bersabda,
"Apabila salah seorang di antara kalian bermimpi yang disukai, sesungguhnya mimpi itu datangnya dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah dan menceritakannya kepada orang lain. Apabila bermimpi yang tidak disukai, hal itu datangnya dari setan, maka hendaklah meminta perlindungan Allah, dan jangan sekali-kali menceritakannya kepada orang lain, niscaya mimpi itu tidak akan membahayakannya.”
Kedudukan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya, pada bab Idza Raa Ma Yakrahu Fala Yukhbir Biha Juz XXI halaman 430 hadis nomor 6523. Imam Tirmidzi dalam sunannya pada bab Ma Yaqulu Idza Raa Ru’ya Yakrahuha Juz XI halaman 351 hadis nomor 3375. Imam Ahmad juga meriwayatkan hadis ini dalam Musnadnya pada bab Musnad Abi Sa’id al-Khudri r.hu, Juz XXII halaman 177 hadis nomor 10632.
Pemahaman Hadis
Raā. Artinya, bermimpi.
Mimpi adalah gambaran-gambaran yang dialami seseorang di saat dia tertidur. Mimpi bersifat irasional karena di luar kendali kesadaran kita. Beda dengan meraga sukma di mana kesadaran masih mengontrol perjalanan sukma keluar dari tubuh dan berkelana sesuai dengan yang dikehendaki, di dalam mimpi kita tidak mengontrol gerakan mental apapun. Jadi kita hanya menerima dengan pasif apa yang nanti kita alami saat tidur.
Mimpi dikirim kepada kita dari alam gaib. Mimpi adalah suara-suara dari alam bawah sadar kita. Kadang ia memberikan petunjuk atau peringatan yang perlu ditafsirkan/ditakwilkan secara benar, namun kadang mimpi hanya gangguan batin dan jiwa yang harus dilepaskan dalam mekanisme hidup agar tetap normal dan tenang. Mimpi juga merupakan kenangan indah atau sedih yang sudah lama terpendam.
Karena dikirim dari alam ghaib masalahnya sekarang adalah dari siapa mimpi itu dikirim? Langsung dari Allah atau dari syetan. Nah dalam hadis ini Rasulullah saw memberikan ciri-ciri mimpi yang berasal dari Allah atau dari syetan.
Yuhibbuhā. Artinya, mimpi yang disukai (baik).
Inilah mimpi yang berasal dari Allah. Yaitu apabila seseorang melihat dalam mimpinya sesuatu yang ia sukai Rasulullah saw memberikan pembelajaran bagi kita semua yakni ketika bermimpi di mana mimpi itu kita sukai. Supaya mengikutinya dengan memuji kepada Allah swt. Dan menceritakannya. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw dalam hadis lain,
”Mimpi yang bagus berasal dari Allah swt, jika di antara kalian bermimpi sesuatu yang bagus (disukai), jangan sekali-kali menceritakan kepada yang lain, kecuali pada orang yang engkau sukai (dipercaya). Jika di antara kalian bermimpi sesuatu yang tidak engkau sukai, maka mohonlah pertolongan Allah dari kejelekan mimpi itu, dan juga dari kejelekan syetan, dan meludahlah tiga kali (ke kiri), selanjutnya tidak diceritakan kepada siapapun perihal mimpi itu. Niscaya mimpi itu tidak akan berpenggaruh.” (Hr.Bukhari)
Yakrahu. Artinya, mimpi yang tidak disukai (buruk).
Yaitu apabila seseorang melihat dalam mimpinya sesuatu yang ia benci. Mimpi ini datangnya dari syaithan yakni dengan menampakkan hal-hal yang jelek, yang dengannya seseorang manusia dapat terkejut, sedih dam bisa jadi hingga membuatnya sakit, karena syaithan adalah musuh manusia, mereka menyukai apa yang dibenci oleh manusia.Sebaliknya jika kita bermimpi. Allah swt berifirman, (QS.Mujadilah 10).
Untuk itu apabila Anda mengalami mimpi buruk hendaknya segera meminta perlindungan kepada Allah swt. Dari kejahatan-kejahatan syetan dan keburukan-keburukan yang Anda lihat dalam mimpi. Dan jangan sampai mimpi buruk yang Anda alami itu diceritakan kepada orang lain. Sebab hal itu tidak akan membahayakan Anda. Sebagaimana telah disampaikan oleh Nabi saw dalam hadis di atas.
Namun disayangkan yang terjadi sekarang, sebagian orang apabila dia melihat hal-hal yang buruk dalam mimpinya justru berusaha untuk mencari tahu ta’wil dari mimpi tersebut baik dengan mencarinya di dalam buku-buku atau dengan menanyakan langsung kepada orang lain tanpa menyadari bahwa dengan mengungkapkan mimpi buruknya kepada orang lain bisa jadi hal tersebut bisa menjadi suatu kenyataan, jika Allah menghendaki.
Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Berwudhulah sebelum tidur.
2. Gunakan waktu sebelum tidur untuk membaca kalimat-kalimat thayyibah, semisal tilawah qur’an dll.
3. Membaca doa sebelum tidur sebgaimana telah diajarkan Rasulullah saw.
4. Tidurlah dengan posisi sebagaimana telah diteladankan Nabi saw.
5. Jika teranugerahi sebuah mimpi baik itu berupa mimpi yang baik atau yang buruk lakukanlah perintah Nabi saw seperti dalam hadis di atas.
Oase Pencerahan
Mimpi adalah anugerah dari Allah swt. Dalam sejarah risalah kenabian, mimpi adalah pesan-pesan Ilahi yang ditujukan untuk merubah peradaban. Pesan ini dikirim kepada pribadi yang siap untuk menerima pesan itu dan menafsirkan pesan itu secara benar. Pribadi para nabi sepanjang masa, kita tahu, adalah pribadi-pribadi yang siap untuk berjuang membela keyakinan dengan teguh dan gigih. Kalau dia sudah percaya bahwa pesan itu langsung dari Ilahi, maka dia tidak ragu-ragu untuk melangkah.
Mimpi Nabi Ibrahim as tentang perintah untuk mengorbankan anaknya, kepatuhannya kepada kehendak Allah swt dan kemauannya untuk menyerah kepada keimanan mutlak pada Sang Pencipta menjadikannya sebagai muslim sejati pertama dan juga bapak para nabi. Tafsiran yang benar tentang mimpi raja Mesir oleh Nabi Yusuf as menyelamatkan bangsa Mesir dan Bani Israil dari kelaparan dan kematian. Mimpi Nabi Muhammad saw menandai diawalinya penurunan wahyu al-qur’an. Pengetahuan dan pemahaman tentang mimpi memang merupakan kebutuhan setiap orang yang berkeinginan untuk mendapatkan petunjuk langsung dari-Nya. Fakta ini telah lama diketahui oleh para nabi dan para wali dan juga orang-orang waskita sepanjang masa. Namun demikian, tidak semua mimpi bisa ditafsirkan secara gampang.
Pesan-pesan melalui Mimpi tidak jarang justru kita temukan sumbernya adalah setan sehingga menyesatkan. Bisa jadi juga mimpi merupakan ‘bunga tidur’ karena bersumber dari masalah-masalah fisik dan psikologis emosional. Oleh karena itu dibutuhkan satu kunci yang benar agar kotak pandora misteri mimpi bisa dibuka dan dibaca secara benar.
Yang jelas mana kita telaah lebih jauh tentang hakekat mimpi. Maka jelas semua berasal dari Allah. Sebab bukankah Iblis itu sesungguhnya juga ciptaan-Nya? Tidak hanya kebaikan, bukankah keburukan dan kejahatan itu juga sumbernya dari-Nya? Bukankah surga dan neraka itu juga ciptaan-Nya?
Maka mimpi buruk yang kita alami. Jika kita sikapi secara positif sebenarnya merupakan teguran dari Allah swt kepada kita. Karena kita semakin jauh dengan Allah. Maka Allah pun membeiarkan setan menggaggu kita. sebab sangat mustahil bila seorang hamba itu dekat dengan Rabb-Nya setan dapat mengganggunya.
Mimpi buruk tersebut merupakan permainan setan terhadap manusia agar manusia merasa sedih dan berprasangka buruk kepada Allah swt. Barangsiapa melihat mimpi yang tidak ia sukai maka hendaklah ia melaksanakan apa yang tercantum dalam sunnah untuk mengusir was-was dan menolak tipu daya syaitan. Yaitu: a) Melaksanakan shalat. b) Memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan mimpi dan kejahatan syaitan. c) Meludah ke sebelah kiri sebanyak tiga kali. d). Merubah posisi tidur dari posisi semula. e) Jangan ia ceritakan mimpi buruk tersebut kepada siapa pun.
Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah berkata dalam kitabnya Zaadul Maa'ad (II/457), "Perintahkan agar ia melaksanakan lima hal: 1) Meludah ke sebelah kiri. 2) Memohon perlindungan kepada Alloh dari gangguan syaitan. 3) Jangan ia ceritkan kepada siapapun. 4). Merubah posisi tidurnya. 5). Bangkit berdiri melaknsakan shalat. Barangsiapa melakukan lima hal itu maka mimpi buruk itu tidak akan memudharatkannya sedikitpun, bahkan dapat menolak kejelekan mimpi tersebut.
Ingin Banyak Rizeki & Panjang Umur?
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ﴿مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ﴾
Dari sahabat Ibnu Syihab r.hu, dia berkata, telah memberitahuku Anas bin Malilk r.hu sesungguhnya Rasulullah saw bersabda,
”Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah dia menyambung tali silaturrahim.”
Kedudukan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukahri dalam Shahihnya pada Kitabul Adab, bab Man Busitha Lahu Minar Rizqi bi Shilatirrahim juz XVIII halaman 386 hadis nomor 5527. Imam Muslim dalam Shahihnya Kitabul Birri Wal Shilah Wal Adab, bab Shilaturrahim Wa Tahrimu Qathi’atiha, juz XII halaman 411 hadis nomor 4639. Imam Tirmidzi juga meriwayatkan hadis ini dalam Jami’nya pada hadis nomor 1865. Begitu pula Ibnu Majjah dan Imam Ahmad juga meriwayatkan hadis serupa.
Pemahaman Hadis
Yubsatha lahu fī rizkihi. Artinya, dilapangkan, dimudahkan atau diluaskan rizekinya.
Semua orang pasti ingin diluaskan rizekinya. Hidup berkecukupan, di mana semua kebutuhannya dapat terpenuhi. Mulai dari kebutuhan primer sampai sekunder. Mulai dari kebutuhan rutin hingga insidentil. Mulai dari kebutuhan yang kecil-kecil hingga kebutuhan besar. Mulai dari kebutuhan makan hingga aktualisasi diri. Bahkan kebutuhan untuk rekreasi dan menghibur diri berharap bisa terpenuhi. Pendek kata semua manusia memimpikan semua kebutuhan dan keinginan terpenuhi. Keinginan-keinginan tersebut dapat kita pahami sebagai hal yang sangat manusiawi.
Rasulullah saw dalam hadis di atas memberikan resep buat kita semua. Supaya rizeki kita dilapangkan oleh Allah swt. Yakni dengan jalan silaturrahim. Hubungan silaturrahim dengan banyaknya rezeki sebagaimana disabdakan Rasulullah saw di atas, terbukti di jaman modern yang dijelaskan oleh penelitian. Hendroprasetyo menyajikan tulisan menarik yang menjelaskan tentang hubungan silaturrahim dengan banyaknya rizeki. ”Rezeki yang dikaruniakan Allah datang lewat manusia. Kalau kita mengurung diri di kamar, rezeki tidak akan sekonyong-konyong muncul dari balik pintu. Dalam dunia pemasaran, salah satu prediktor kesuksesan staff penjual adalah keluasan relasi. Bahkan dalam industri asuransi, tes klasik yang diberikan untuk para calon agen adalah membuat ‘Daftar 100 Nama’ orang yang mengenal dan dikenal calon agen.”
Pada pertengahan tahun 1970-an, Sosiolog Harvard bernama Mark Granovetter mempublikasikan risetnya yang kemudian menjadi karya monumental mengenai cara orang mendapatkan pekerjaan. Apa yang ditemukannya masih valid hingga sekarang, yaitu bahwa mayoritas orang mendapat pekerjaan melalui koneksi pribadi. Namun, satu temuan yang mengejutkan Granovetter adalah bahwa koneksi tersebut umumnya bukan teman atau saudara dekat. Si penerima kerja hanya sesekali dalam setahun bertemu dengannya.”
”Teman atau saudara jauh tersebut efektif dalam memberi informasi pekerjaan menurut Granovetter karena dia tahu banyak orang yang tidak Anda kenal, berbeda dengan kebanyakan relasi teman dan keluarga dekat Anda yang umumnya juga Anda kenal.
Bersilaturrahimlah dengan orang yang lama tidak Anda jumpai, seperti kawan sekolah dulu, saudara jauh, atau mantan rekan kerja, maka Anda berpeluang mendapat informasi berharga untuk bisnis atau pekerjaan Anda.” ”Pertukaran pikiran yang dilakukan melalui silaturrahim juga seringkali menghasilkan kesimpulan-kesimpulan brilian yang tidak kita peroleh dengan berpikir sendiri. Don Tapscott dan Anthony William dalam Wikinomics dengan gamblang menjelaskan kekuatan dahsyat kolaborasi, melalui “silaturrahim maya” yang memunculkan raksasa-raksasa baru seperti Wikipedia, MySpace, Youtube, dan lainnya. Lebih hebat dibandingkan bila membatasi diri dari kelompok tertentu.
Wa yunsyaa lahu fī atsarihi. Artinya, dan dipanjangkan umurnya.
Seperti halnya keinginan memperoleh rizeki yang banyak. Manusia juga mendambakan umur yang panjang. Dengan umur panjang manusia bisa menikmati kehidupan yang lama di muka bumi. Di saat muda bisa bercengkrama dengan anak-anak. Di masa tua bisa bercengkrama dengan cucu dan bahkan kalau perlu dengan cicit. Dengan umur panjang, memungkinkan hidup kaya dengan ilmu, hikmah dan pengalaman.
Demi meraih umur panjang manusia rela berupaya dan mengeluarkan biaya. Di antaranya dengan berolahraga dan menjaga kesehatan. Asupan makanan bergizi benar-benar diperhatikan. Saran-saran dari para ahli kesehatan diikuti dengan kesungguhan.
Kita yang hidup di jaman modern ini terkondisikan dengan pola pikir rasional. Segala sesuatu akan diterima jika bisa dicerna secara logika. Mudah diterima jika ada pembuktian rasionalnya. Kalau tidak maka sulit akal manusia modern menerimanya. Keutamaan silaturrahim sebagaimana disabdakan Rasulullah saw, telah ada pembuktiannya melalui berbagai riset ilmiah yang sangat meyakinkan.
Sementara pembuktian riset ilmiah kebenaran hubungan antara silaturrahim dengan panjang usia, di antaranya dapat kita baca dari apa yang disampaikan Hendroprasetyo. Ia menulis, antara tahun 1965-1974, dua ahli epidemi penyakit mempelajari gaya hidup dan kesehatan 4.725 penduduk Alameda County, California. Mereka menemukan bahwa angka kematian tiga kali lebih tinggi pada orang yang ‘kuper’ dibandingkan dengan mereka yang aktif secara sosial. Studi yang sama terhadap penduduk Seattle, dipublikasikan tahun 1997, menemukan bahwa pasangan keluarga yang secara sosial aktif membutuhkan biaya kesehatan lebih rendah dan lebih jarang sakit dibandingkan mereka yang penyendiri.
Riset puluhan tahun yang dilakukan MacArthur Foundation mengenai penuaan di AS menyimpulkan bahwa dua prediktor utama kesehatan manula adalah frekuensi silaturrahim dengan sanak-keluarga dan kehadiran dalam pertemuan-pertemuan.
Ada proses-proses kimia alamiah yang terjadi dalam tubuh yang bisa dijelaskan secara ilmiah tentang mengapa orang-orang yang suka memelihara silaturrahim berusia lebih panjang.
Hendroprasetyo melanjutkan penjelasannya, ”Perjumpaan positif antar manusia dapat menurunkan kadar hormon pemicu stress epinephrine, norepinephrine, dan kortisol dalam darah. Sebaliknya, hormon yang memperkuat rasa saling percaya dan ikatan emosi, oxytocin dan vasopressin, justru meningkat. Ilmuwan juga menduga bahwa silaturrahim memicu dua neurotransmitter penting, dopamine, yang meningkatkan daya konsentrasi dan rasa bahagia, dan serotonin, yang mengurangi ketakutan dan kecemasan.”
Membaca hasil riset tersebut di atas, menjadi jelas bagi siapa pun, bahwa silaturrahim bisa menjadikan hidup manusia lebih berkualitas, lebih sehat yang karenanya berpeluang untuk berusia lebih panjang.
Fal yashil rahimahu. Artinya, maka hendaklah menyambung tali silaturrahim.
Kebanyakan dari kita memahami silaturahim hanyalah sebatas kunjungan kekerabatan, kangen-kangenan, saling mengenalkan antar keluarga, dsb. Tapi makna terpenting dari silaturahim itu sendiri sering terlupakan. Apa makna pentingnya? yaitu saling mengingatkan dalam kebenaran, saling menguatkan iman, saling meneguhkan dalam satu ikatan ukhuwah. Namun bukan berarti salah, jika silatarurrahim dimaknai kunjungan. Akan tetapi bukan hanya sekedar kunjungan. Kunjungan itu harus memiliki arti yang mendalam, yang tidak akan ditemukan bila kita tidak melakukan kunjungan tersebut.
Silaturrahim merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Kita sebagai kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Allah swt memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan adzab. Sebagaimana firman-Nya,
“Maka apakah kiranya, jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka, dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”(Qs.Muhammad [47]: 22-23)
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”(Qs.an-Nisa’ [4]: 1)
Juga sabda Rasulullah saw,
”Tidak akan masuk surga pemutus silaturrahim.”(Hr.Bukhari dan Muslim)
Inilah beberapa peringatan keras dari Allah dan rasul-Nya bagi siapa saja yang memutus talil silaturrahim (hubungan kekerabatan). Hal ini menunjukkan pentingnya menyambung tali silaturrahim dengan sanak saudara, dan pada sesama kaum muslimin-mukmin.
Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Sambunglah tali silaturrahim dengan kerabat Anda dan semua orang yang Anda kenal.
2. Jangan sekali-kali memutus tali silaturrahim.
3. Lakukanlah semuanya atas dasar cinta.
Oase Pencerahan
Setelah kita tahu bagaimana keutamaan dari silaturrahim dari pembuktian riset ilmiah modern. Bagaimana sabda Nabi saw 14 abad yang lalu dibuktikan oleh penelitian modern dan mengagumkan ratusan tahun kemudian. Silaturrahim yang oleh peradaban masa kini kian tergerus oleh banyak kepentingan pribadi ternyata mengandung khasiat penyembuhan dan penjaga keutuhan kehidupan yang menakjubkan tiada duanya. Bagaimana bisa kita ingin menukar anugerah ini dengan sempitnya kepentingan pribadi? Dan ternyata bukanlah hal yang cukup baik untuk tetap dipertahankan. Ketidakpedulian pada orang-orang di sekitar kita. Sudah seharusnya setiap orang kini mulai untuk memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Maka saatnya bagi kita untuk bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita termasuk orang-orang yang gemar memelihara silaturrahim atau sebaliknya. Jangan-jangan anjuran Rasulullah saw lebih banyak dinikmati oleh orang-orang di luar Islam. Kita yang punya ilmu, mereka yang mempraktekkannya. Kita yang tahu ilmunya, mereka yang menikmatinya. Kita yang hafal di luar kepala narasi hadisnya, mereka yang mengamalkannya. Maka jangan heran kalau mereka yang menikmati berkah dan keutamaan dari silaturrahim. Sementara kita tidak mendapatkan apa-apa. Kualitas hidup kita sebagai ummat Islam biasa-biasa saja. Sementara kualitas orang-orang di luar Islam menjadi luar biasa. Na’udzubillah.
Saudaraku, kita masih punya waktu dan kesempatan untuk memperbaiki kualitas silaturrahim kita. Silaturrahim dengan saudara dekat maupun jauh. Silaturrahim dengan tetangga dekat maupun jauh. Silaturrahim dalam hubungan-hubungan sosial dan kemasyarakatan. Silaturrahim dengan rekan-rekan kerja di kantor, baik atasan dan bawahan. Silaturrahim dalam bisnis dan perniagaan. Niat baik kita yang tulus untuk memperkuat silaturrahim, mudah-mudahan akan segera berbuah banyak rezeki dan panjang umur.
Dari sahabat Ibnu Syihab r.hu, dia berkata, telah memberitahuku Anas bin Malilk r.hu sesungguhnya Rasulullah saw bersabda,
”Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah dia menyambung tali silaturrahim.”
Kedudukan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukahri dalam Shahihnya pada Kitabul Adab, bab Man Busitha Lahu Minar Rizqi bi Shilatirrahim juz XVIII halaman 386 hadis nomor 5527. Imam Muslim dalam Shahihnya Kitabul Birri Wal Shilah Wal Adab, bab Shilaturrahim Wa Tahrimu Qathi’atiha, juz XII halaman 411 hadis nomor 4639. Imam Tirmidzi juga meriwayatkan hadis ini dalam Jami’nya pada hadis nomor 1865. Begitu pula Ibnu Majjah dan Imam Ahmad juga meriwayatkan hadis serupa.
Pemahaman Hadis
Yubsatha lahu fī rizkihi. Artinya, dilapangkan, dimudahkan atau diluaskan rizekinya.
Semua orang pasti ingin diluaskan rizekinya. Hidup berkecukupan, di mana semua kebutuhannya dapat terpenuhi. Mulai dari kebutuhan primer sampai sekunder. Mulai dari kebutuhan rutin hingga insidentil. Mulai dari kebutuhan yang kecil-kecil hingga kebutuhan besar. Mulai dari kebutuhan makan hingga aktualisasi diri. Bahkan kebutuhan untuk rekreasi dan menghibur diri berharap bisa terpenuhi. Pendek kata semua manusia memimpikan semua kebutuhan dan keinginan terpenuhi. Keinginan-keinginan tersebut dapat kita pahami sebagai hal yang sangat manusiawi.
Rasulullah saw dalam hadis di atas memberikan resep buat kita semua. Supaya rizeki kita dilapangkan oleh Allah swt. Yakni dengan jalan silaturrahim. Hubungan silaturrahim dengan banyaknya rezeki sebagaimana disabdakan Rasulullah saw di atas, terbukti di jaman modern yang dijelaskan oleh penelitian. Hendroprasetyo menyajikan tulisan menarik yang menjelaskan tentang hubungan silaturrahim dengan banyaknya rizeki. ”Rezeki yang dikaruniakan Allah datang lewat manusia. Kalau kita mengurung diri di kamar, rezeki tidak akan sekonyong-konyong muncul dari balik pintu. Dalam dunia pemasaran, salah satu prediktor kesuksesan staff penjual adalah keluasan relasi. Bahkan dalam industri asuransi, tes klasik yang diberikan untuk para calon agen adalah membuat ‘Daftar 100 Nama’ orang yang mengenal dan dikenal calon agen.”
Pada pertengahan tahun 1970-an, Sosiolog Harvard bernama Mark Granovetter mempublikasikan risetnya yang kemudian menjadi karya monumental mengenai cara orang mendapatkan pekerjaan. Apa yang ditemukannya masih valid hingga sekarang, yaitu bahwa mayoritas orang mendapat pekerjaan melalui koneksi pribadi. Namun, satu temuan yang mengejutkan Granovetter adalah bahwa koneksi tersebut umumnya bukan teman atau saudara dekat. Si penerima kerja hanya sesekali dalam setahun bertemu dengannya.”
”Teman atau saudara jauh tersebut efektif dalam memberi informasi pekerjaan menurut Granovetter karena dia tahu banyak orang yang tidak Anda kenal, berbeda dengan kebanyakan relasi teman dan keluarga dekat Anda yang umumnya juga Anda kenal.
Bersilaturrahimlah dengan orang yang lama tidak Anda jumpai, seperti kawan sekolah dulu, saudara jauh, atau mantan rekan kerja, maka Anda berpeluang mendapat informasi berharga untuk bisnis atau pekerjaan Anda.” ”Pertukaran pikiran yang dilakukan melalui silaturrahim juga seringkali menghasilkan kesimpulan-kesimpulan brilian yang tidak kita peroleh dengan berpikir sendiri. Don Tapscott dan Anthony William dalam Wikinomics dengan gamblang menjelaskan kekuatan dahsyat kolaborasi, melalui “silaturrahim maya” yang memunculkan raksasa-raksasa baru seperti Wikipedia, MySpace, Youtube, dan lainnya. Lebih hebat dibandingkan bila membatasi diri dari kelompok tertentu.
Wa yunsyaa lahu fī atsarihi. Artinya, dan dipanjangkan umurnya.
Seperti halnya keinginan memperoleh rizeki yang banyak. Manusia juga mendambakan umur yang panjang. Dengan umur panjang manusia bisa menikmati kehidupan yang lama di muka bumi. Di saat muda bisa bercengkrama dengan anak-anak. Di masa tua bisa bercengkrama dengan cucu dan bahkan kalau perlu dengan cicit. Dengan umur panjang, memungkinkan hidup kaya dengan ilmu, hikmah dan pengalaman.
Demi meraih umur panjang manusia rela berupaya dan mengeluarkan biaya. Di antaranya dengan berolahraga dan menjaga kesehatan. Asupan makanan bergizi benar-benar diperhatikan. Saran-saran dari para ahli kesehatan diikuti dengan kesungguhan.
Kita yang hidup di jaman modern ini terkondisikan dengan pola pikir rasional. Segala sesuatu akan diterima jika bisa dicerna secara logika. Mudah diterima jika ada pembuktian rasionalnya. Kalau tidak maka sulit akal manusia modern menerimanya. Keutamaan silaturrahim sebagaimana disabdakan Rasulullah saw, telah ada pembuktiannya melalui berbagai riset ilmiah yang sangat meyakinkan.
Sementara pembuktian riset ilmiah kebenaran hubungan antara silaturrahim dengan panjang usia, di antaranya dapat kita baca dari apa yang disampaikan Hendroprasetyo. Ia menulis, antara tahun 1965-1974, dua ahli epidemi penyakit mempelajari gaya hidup dan kesehatan 4.725 penduduk Alameda County, California. Mereka menemukan bahwa angka kematian tiga kali lebih tinggi pada orang yang ‘kuper’ dibandingkan dengan mereka yang aktif secara sosial. Studi yang sama terhadap penduduk Seattle, dipublikasikan tahun 1997, menemukan bahwa pasangan keluarga yang secara sosial aktif membutuhkan biaya kesehatan lebih rendah dan lebih jarang sakit dibandingkan mereka yang penyendiri.
Riset puluhan tahun yang dilakukan MacArthur Foundation mengenai penuaan di AS menyimpulkan bahwa dua prediktor utama kesehatan manula adalah frekuensi silaturrahim dengan sanak-keluarga dan kehadiran dalam pertemuan-pertemuan.
Ada proses-proses kimia alamiah yang terjadi dalam tubuh yang bisa dijelaskan secara ilmiah tentang mengapa orang-orang yang suka memelihara silaturrahim berusia lebih panjang.
Hendroprasetyo melanjutkan penjelasannya, ”Perjumpaan positif antar manusia dapat menurunkan kadar hormon pemicu stress epinephrine, norepinephrine, dan kortisol dalam darah. Sebaliknya, hormon yang memperkuat rasa saling percaya dan ikatan emosi, oxytocin dan vasopressin, justru meningkat. Ilmuwan juga menduga bahwa silaturrahim memicu dua neurotransmitter penting, dopamine, yang meningkatkan daya konsentrasi dan rasa bahagia, dan serotonin, yang mengurangi ketakutan dan kecemasan.”
Membaca hasil riset tersebut di atas, menjadi jelas bagi siapa pun, bahwa silaturrahim bisa menjadikan hidup manusia lebih berkualitas, lebih sehat yang karenanya berpeluang untuk berusia lebih panjang.
Fal yashil rahimahu. Artinya, maka hendaklah menyambung tali silaturrahim.
Kebanyakan dari kita memahami silaturahim hanyalah sebatas kunjungan kekerabatan, kangen-kangenan, saling mengenalkan antar keluarga, dsb. Tapi makna terpenting dari silaturahim itu sendiri sering terlupakan. Apa makna pentingnya? yaitu saling mengingatkan dalam kebenaran, saling menguatkan iman, saling meneguhkan dalam satu ikatan ukhuwah. Namun bukan berarti salah, jika silatarurrahim dimaknai kunjungan. Akan tetapi bukan hanya sekedar kunjungan. Kunjungan itu harus memiliki arti yang mendalam, yang tidak akan ditemukan bila kita tidak melakukan kunjungan tersebut.
Silaturrahim merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Kita sebagai kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Allah swt memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan adzab. Sebagaimana firman-Nya,
“Maka apakah kiranya, jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka, dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”(Qs.Muhammad [47]: 22-23)
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”(Qs.an-Nisa’ [4]: 1)
Juga sabda Rasulullah saw,
”Tidak akan masuk surga pemutus silaturrahim.”(Hr.Bukhari dan Muslim)
Inilah beberapa peringatan keras dari Allah dan rasul-Nya bagi siapa saja yang memutus talil silaturrahim (hubungan kekerabatan). Hal ini menunjukkan pentingnya menyambung tali silaturrahim dengan sanak saudara, dan pada sesama kaum muslimin-mukmin.
Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Sambunglah tali silaturrahim dengan kerabat Anda dan semua orang yang Anda kenal.
2. Jangan sekali-kali memutus tali silaturrahim.
3. Lakukanlah semuanya atas dasar cinta.
Oase Pencerahan
Setelah kita tahu bagaimana keutamaan dari silaturrahim dari pembuktian riset ilmiah modern. Bagaimana sabda Nabi saw 14 abad yang lalu dibuktikan oleh penelitian modern dan mengagumkan ratusan tahun kemudian. Silaturrahim yang oleh peradaban masa kini kian tergerus oleh banyak kepentingan pribadi ternyata mengandung khasiat penyembuhan dan penjaga keutuhan kehidupan yang menakjubkan tiada duanya. Bagaimana bisa kita ingin menukar anugerah ini dengan sempitnya kepentingan pribadi? Dan ternyata bukanlah hal yang cukup baik untuk tetap dipertahankan. Ketidakpedulian pada orang-orang di sekitar kita. Sudah seharusnya setiap orang kini mulai untuk memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Maka saatnya bagi kita untuk bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita termasuk orang-orang yang gemar memelihara silaturrahim atau sebaliknya. Jangan-jangan anjuran Rasulullah saw lebih banyak dinikmati oleh orang-orang di luar Islam. Kita yang punya ilmu, mereka yang mempraktekkannya. Kita yang tahu ilmunya, mereka yang menikmatinya. Kita yang hafal di luar kepala narasi hadisnya, mereka yang mengamalkannya. Maka jangan heran kalau mereka yang menikmati berkah dan keutamaan dari silaturrahim. Sementara kita tidak mendapatkan apa-apa. Kualitas hidup kita sebagai ummat Islam biasa-biasa saja. Sementara kualitas orang-orang di luar Islam menjadi luar biasa. Na’udzubillah.
Saudaraku, kita masih punya waktu dan kesempatan untuk memperbaiki kualitas silaturrahim kita. Silaturrahim dengan saudara dekat maupun jauh. Silaturrahim dengan tetangga dekat maupun jauh. Silaturrahim dalam hubungan-hubungan sosial dan kemasyarakatan. Silaturrahim dengan rekan-rekan kerja di kantor, baik atasan dan bawahan. Silaturrahim dalam bisnis dan perniagaan. Niat baik kita yang tulus untuk memperkuat silaturrahim, mudah-mudahan akan segera berbuah banyak rezeki dan panjang umur.
Subscribe to:
Posts (Atom)